Browse By

Category Archives: Refleksi

Bacalah Quran, Hatipun tenang: Quran Hour

Sepotong Cerita

Sebelum menceritakan kegiatan World Quran Hour, saya mau sedikit cerita tentang seseorang yang membaca Al Quran untuk menengahi kebingungannya.


Seorang perempuan tertimpa masalah. Suaminya sakit parah, harus masuk ICU hingga rawat jalan selama berhari-hari. Persoalan merambat pada masalah keuangan dan tentu saja anak-anak. Mau tidak mau anak-anak tinggal di rumah, sementara si perempuan merawat suaminya di rumah sakit. Kebingungan, pikiran yang bercabang dan kegelisahannya menghadapi persoalan itu menguasai diri. Hatinya kerap tidak tenang dan merasa berada di dimensi kehidupan yang lain. 



Ketika si suami harus segera dilarikan ke rumah sakit, si istri menggendong anaknya yang masih berusia 12 bulan, menggandeng anak pertama yang masih berusia 4 tahun, bawa tas berisi pakaian ganti, handuk, uang dengan jumlah minim, setumpuk hasil tes lab dan Quran.

Setiap menit saat menunggu di luar ICU, kegiatannya hanya shalat dan membaca setiap ayat quran. Lambat laun, kegelisahannya berkurang malah hatinya makin terasa lebih tenang. Muncul keyakinan dalam hatinya bahwa “badai pasti berlalu”. 

Meskipun si perempuan punya sahabat dan keluarga yang banyak, dia tidak banyak berharap pada kebaikan hati mereka. Dia hanya fokus pada kondisi suami, berharap, berdoa, berusaha mengendalikan rasa takutnya dan melepaskan segala bebannya pada pemilik-Nya, pemilik hidup, pemilik semesta tentang biaya rumah sakit, yang merawat anak-anak dan tentunya suami yang tengah koma.

Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu). Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah berkuasa atas segala sesuatu. (Al Baqarah, 2:284) 


Dia sadar, bahwa selama ini dia selalu menganggap bahwa dirinya hebat dan bisa mengurus banyak hal, ternyata Allah lebih berkuasa atas apapun, atas siapapun. Melalui persoalan (penyakit atas suaminya) yang dihadapinya, ada dialog-dialog yang berusaha disampaikan Allah tentang makna kehidupan, tentang waktu, tentang kesempatan. 


Allah membukakan hati pada si A, si B, si C, si D, dan banyak lagi, satu persatu datang memberi pertolongan. Ada yang datang memberi uang, datang memberi pelukan, datang memberi semangat, datang menawarkan untuk mengurus anak-anak. Luar biasa. Keindahan itu terlihat begitu jelas.

Dia membuka jalan kemudahan, membuka jalan rezeki, menyentuh kebaikan hati orang-orang sekitar mengulurkan bantuan, baik dalam bentuk materi maupun fisik: tanpa diminta, di waktu yang tepat. Sangat tepat. Ketika si istri melepaskan beban pada pemilikNya dan sadar atas ketidak berdayaannya, dan tak berhenti berusaha dengan cara-cara yang baik, maka semesta pun ikut bertasbih.  


Malaikat-malaikat, bumi, langit, matahari, awan, debu, udara, seluruh zat bekerja sama menggerakan hati setiap rindu untuk berbuat kebaikan dan selalu ada jalan-jalan terbaik untuk melakukan langkah-langkah pengobatan. 

Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. 

 (Asy Syarh, 94:5-6) 

Pertanyaan dari setiap persoalan dan tahapan yang tengah dia lewati, terbuka dari setiap ayat quran yang dia baca. Melalui ayat-ayat itu, seolah Allah berdialog, memberi jawaban dari teka teki proses yang tengah dia lewati. 


Sejak itu, ketika si istri harus mengambil berbagai keputusan dan menjalankan keputusan itu, hatinya tenang. Mata dan hatinya lebih terbuka. Rasa tenang membuat pikiran dan hati menjadi lebih istiqomah/konsisten dalam menjalani setiap proses hidup. Kadang ia pun suka bertanya sendiri, bagaimana dia bisa melewati proses-proses yang begitu mengerikan, tapi dia bisa menjalaninya dengan tenang. Ternyata jawabannya ada di sini:

Jawaban Semesta

Tanggal 31 Agustus 2017 bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijah, ketika umat muslim tengah wukuf di Padang Arafah, ketika kaum muslim di sana melakukan munajat, dzikir dan bertilawah. Sementara itu, waktu yang sama di Masjid Pusdai (Pusat Dakwah dan Ibadah) Bandung, ada sekitar 8000 orang memenuhi setiap sudut masjid untuk menghadiri acara One Hour With Al Quran. Rupanya, acara ini berlangsung di seluruh belahan dunia. 


Acara One Hour With Al Quran ini, semacam bentuk kontempasi hubungan diri dengan petunjuk hidup yang ada di depan kita: Quran. Quran mengandung makna hidup dan kedirian manusia dengan Allah, dengan semua unsur kehidupan di alam semesta ini.

Beberapa tokoh hadir, diantaranya ada wakil Gubernur Jawa Barat-Deddy Mizwar, Kembar 3 Hamanis, Hafiz muda Muzammil Hasballah, Ustadz Hilman Rosyad, KH Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc Al Hafidz, Ustadz Abu Rabbani, Ustadz Ambya Abu Fathin, Ustadz Evie Effendi.

1000 pendaftar lewat sms, mendapatkan Quran Cordoba dan voucher umrah. Sementara pendaftar mencapai sekitar 8000 orang. Saya berangkat lebih pagi, karena dipastikan proses regitrasi akan bejubel. Betul saja, sampai di Pusdai Jam 07.30 wib, orang-orang sudah memenuhi meja registrasi dan pintu masuk.

Di dalam masjid, suasana sangat haru. Semua yang hadir lesehan di atas karpet masjid, nyaris tidak ada celah. Berdasarkan jadwal, acara berlangsung dari jam 08.00-11.00 wib. Rupanya jam 08.00 wib itu adalah waktunya registrasi dan merapikan peserta yang hadir. 


Sebagian besar peserta sudah memasuki masjid, ada yang mengaji, ngobrol, duduk tenang. Di bagian muka, terpampang jelas judul acara yang sedang berlangsung. Beragam komunitas, kelompok pengajian, perseorangan datang untuk mendapatkan pencerahan ilmu dari berbagai Ustadz dan Ustadzah yang akan menyampaikan materi tausiah di acara World Quran Hour.

Tak lama dari jadwal yang sudah di tentukan, acara dimulai oleh 2 orang MC. Ada Kang Deni P Project dan Nugie Al Afagani. Dilanjut pembukaan oleh Wakil Gubernur Jawa Barat-Dedi Mizwar, beliau mengingatkan kita bahwa Islam mengajarkan persatuan dan kesatuan. 


Dalam 1 jam ke depan, ada untaian acara yang akan kita ikuti. Diantaranya:

1. 20 menit Tadabur dan Tazakkur

2. 10 menit Solidarity in Recitation

3. 20 menit Talaqi

4. 5 menit Call to Action

5. 5 menit Doa

20 menit tadabur dan Tazakkur diisi oleh beberapa tausiah dari Ustd. Abdur Rais Ar Rouf, dilanjut oleh Ustadzh Mimin Aminah.

Masing-masing menyampaikan tausiahnya kurang lebih 10 menit. Ada beberapa penjelasan menarik tentang makna Quran.

Ustad. Abdur Rais Ar Rouf memaparkan dalam durasi yang hanya sebentar itu tentang energi Quran. Bahwa orang-orang spesial adalah orang-orang pecinta Al Quran, yang hidup dengan Quran. Merekalah orang-orang pilihan Allah SWT.

Quran mempunyai kekuatan yang amat dahsyat, karena di dalamnya mengandung sumber kehidupan. Menjadi ahli Quran itu bertingkat-tingkat dan untuk mendapatkan energi Quran itu tidak pernah instan. Harus melalui proses yang terus menerus dan Allah akan menguji energi Quran pada setiap manusia yang akan meyakininya.

Sementara itu Ustadzah Mimin Aminah menuturkan tentang iman yang harus selalu ada. Lanjutnya bahwa Allah Maha Kuasa atas segala apapun. Cara Allah menolong adalah dengan ditenangkan hati kita. Jika hati gelisah, galau, iri, dengki, bisa jadi itu karena kita sedang jauh dari Allah. Jika ingin rumah tangga kita sakinah, tentram dan bahagia maka bukalah Al Quran dan pelajari isinya.

10 menit Solidarity in Recitation dari ACT (Aksi Cepat Tanggap) menjelaskan tentang gerakan-gerakan sosial yang kerap mereka lakukan untuk membantu masyarakat yang terkena musibah. Mereka menggalang dana dan langkah-langkah untuk melakukan aksi sosial. Sambil menjelaskan aksi, tim ACT menggalang dana pada semua yang hadir di masjid.

Selesai mendapat penuturan tentang program ACT, kami lanjut pada 20 menit Talaqi. Kami yang mendapat Quran Cordoba, di dalamnya terselip kertas dengan tulisan nama surat dan ayat yang harus kami bacakan. Kemudian para hafidz dan ustadz bergantian memimpin baca surat-surat khusus, diantaranya:

Q.S Al Fatihah 1-5

Q.S Al Hujurat 1-10

Q.S Ar Rahman 1-19

Q.S Asy Syaf 1-5

Q.S Anasr 1-3

Suasana terasa khusuk, suara orang-orang mengaji seperti memenuhi rongga dada. Ada rasa yang sulit digambarkan. Ada harap, ada rindu, ada tenang, ada kekuatan. 


Selesai itu, Ustadz Evie Efendi memberikan tausiah tentang Quran sebagai obat hati dan penyembuh. Ada beberapa poin-poin menarik yang disampaikan Ustadz Evie Efendi dengan gayanya yang ringan:

1. Quran sebagai petunjuk menuju jalan keselamatan.

2. Jadi petunjuk bagi yang taqwa.

3. Tak akan jadi petunjuk bagi yang tidak taqwa.

4. Amalkan quran, selesai.

Proses acara #QuranHour cukup rapi dan hikmat. Keluar dari masjid, seperti mengembalikan kepala dan hati pada tempatnya. Ada rasa tenang, rindu berkontemplasi di Baitullah dan siap melanjutkan proses hidup yang harus dijalani.

Bacalah Quran, maka terbuka segala pertanyaan diri pada kehidupan yang terjadi, lalu hatimu lebih tenang. Mungkin itu jawaban dari si istri, ketika dia menjalani semua proses pengobatan suami, Allah menolongnya dengan memberi hati yang tenang. Ketika tenang, maka hati lebih yakin bahwa hidup yang dijalani adalah sebuah proses pembelajaran terbaik dari-Nya menuju diri yang lebih matang. Ammiiin… InsyaAllah.

Bandung, 13 September 2017
Imatakubesar

Bacalah Quran, Hatipun tenang: Quran Hour

Sepotong Cerita

Sebelum menceritakan kegiatan World Quran Hour, saya mau sedikit cerita tentang seseorang yang membaca Al Quran untuk menengahi kebingungannya.


Seorang perempuan tertimpa masalah. Suaminya sakit parah, harus masuk ICU hingga rawat jalan selama berhari-hari. Persoalan merambat pada masalah keuangan dan tentu saja anak-anak. Mau tidak mau anak-anak tinggal di rumah, sementara si perempuan merawat suaminya di rumah sakit. Kebingungan, pikiran yang bercabang dan kegelisahannya menghadapi persoalan itu menguasai diri. Hatinya kerap tidak tenang dan merasa berada di dimensi kehidupan yang lain. 



Ketika si suami harus segera dilarikan ke rumah sakit, si istri menggendong anaknya yang masih berusia 12 bulan, menggandeng anak pertama yang masih berusia 4 tahun, bawa tas berisi pakaian ganti, handuk, uang dengan jumlah minim, setumpuk hasil tes lab dan Quran.

Setiap menit saat menunggu di luar ICU, kegiatannya hanya shalat dan membaca setiap ayat quran. Lambat laun, kegelisahannya berkurang malah hatinya makin terasa lebih tenang. Muncul keyakinan dalam hatinya bahwa “badai pasti berlalu”. 

Meskipun si perempuan punya sahabat dan keluarga yang banyak, dia tidak banyak berharap pada kebaikan hati mereka. Dia hanya fokus pada kondisi suami, berharap, berdoa, berusaha mengendalikan rasa takutnya dan melepaskan segala bebannya pada pemilik-Nya, pemilik hidup, pemilik semesta tentang biaya rumah sakit, yang merawat anak-anak dan tentunya suami yang tengah koma.

Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu). Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah berkuasa atas segala sesuatu. (Al Baqarah, 2:284) 


Dia sadar, bahwa selama ini dia selalu menganggap bahwa dirinya hebat dan bisa mengurus banyak hal, ternyata Allah lebih berkuasa atas apapun, atas siapapun. Melalui persoalan (penyakit atas suaminya) yang dihadapinya, ada dialog-dialog yang berusaha disampaikan Allah tentang makna kehidupan, tentang waktu, tentang kesempatan. 


Allah membukakan hati pada si A, si B, si C, si D, dan banyak lagi, satu persatu datang memberi pertolongan. Ada yang datang memberi uang, datang memberi pelukan, datang memberi semangat, datang menawarkan untuk mengurus anak-anak. Luar biasa. Keindahan itu terlihat begitu jelas.

Dia membuka jalan kemudahan, membuka jalan rezeki, menyentuh kebaikan hati orang-orang sekitar mengulurkan bantuan, baik dalam bentuk materi maupun fisik: tanpa diminta, di waktu yang tepat. Sangat tepat. Ketika si istri melepaskan beban pada pemilikNya dan sadar atas ketidak berdayaannya, dan tak berhenti berusaha dengan cara-cara yang baik, maka semesta pun ikut bertasbih.  


Malaikat-malaikat, bumi, langit, matahari, awan, debu, udara, seluruh zat bekerja sama menggerakan hati setiap rindu untuk berbuat kebaikan dan selalu ada jalan-jalan terbaik untuk melakukan langkah-langkah pengobatan. 

Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. 

 (Asy Syarh, 94:5-6) 

Pertanyaan dari setiap persoalan dan tahapan yang tengah dia lewati, terbuka dari setiap ayat quran yang dia baca. Melalui ayat-ayat itu, seolah Allah berdialog, memberi jawaban dari teka teki proses yang tengah dia lewati. 


Sejak itu, ketika si istri harus mengambil berbagai keputusan dan menjalankan keputusan itu, hatinya tenang. Mata dan hatinya lebih terbuka. Rasa tenang membuat pikiran dan hati menjadi lebih istiqomah/konsisten dalam menjalani setiap proses hidup. Kadang ia pun suka bertanya sendiri, bagaimana dia bisa melewati proses-proses yang begitu mengerikan, tapi dia bisa menjalaninya dengan tenang. Ternyata jawabannya ada di sini:

Jawaban Semesta

Tanggal 31 Agustus 2017 bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijah, ketika umat muslim tengah wukuf di Padang Arafah, ketika kaum muslim di sana melakukan munajat, dzikir dan bertilawah. Sementara itu, waktu yang sama di Masjid Pusdai (Pusat Dakwah dan Ibadah) Bandung, ada sekitar 8000 orang memenuhi setiap sudut masjid untuk menghadiri acara One Hour With Al Quran. Rupanya, acara ini berlangsung di seluruh belahan dunia. 


Acara One Hour With Al Quran ini, semacam bentuk kontempasi hubungan diri dengan petunjuk hidup yang ada di depan kita: Quran. Quran mengandung makna hidup dan kedirian manusia dengan Allah, dengan semua unsur kehidupan di alam semesta ini.

Beberapa tokoh hadir, diantaranya ada wakil Gubernur Jawa Barat-Deddy Mizwar, Kembar 3 Hamanis, Hafiz muda Muzammil Hasballah, Ustadz Hilman Rosyad, KH Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc Al Hafidz, Ustadz Abu Rabbani, Ustadz Ambya Abu Fathin, Ustadz Evie Effendi.

1000 pendaftar lewat sms, mendapatkan Quran Cordoba dan voucher umrah. Sementara pendaftar mencapai sekitar 8000 orang. Saya berangkat lebih pagi, karena dipastikan proses regitrasi akan bejubel. Betul saja, sampai di Pusdai Jam 07.30 wib, orang-orang sudah memenuhi meja registrasi dan pintu masuk.

Di dalam masjid, suasana sangat haru. Semua yang hadir lesehan di atas karpet masjid, nyaris tidak ada celah. Berdasarkan jadwal, acara berlangsung dari jam 08.00-11.00 wib. Rupanya jam 08.00 wib itu adalah waktunya registrasi dan merapikan peserta yang hadir. 


Sebagian besar peserta sudah memasuki masjid, ada yang mengaji, ngobrol, duduk tenang. Di bagian muka, terpampang jelas judul acara yang sedang berlangsung. Beragam komunitas, kelompok pengajian, perseorangan datang untuk mendapatkan pencerahan ilmu dari berbagai Ustadz dan Ustadzah yang akan menyampaikan materi tausiah di acara World Quran Hour.

Tak lama dari jadwal yang sudah di tentukan, acara dimulai oleh 2 orang MC. Ada Kang Deni P Project dan Nugie Al Afagani. Dilanjut pembukaan oleh Wakil Gubernur Jawa Barat-Dedi Mizwar, beliau mengingatkan kita bahwa Islam mengajarkan persatuan dan kesatuan. 


Dalam 1 jam ke depan, ada untaian acara yang akan kita ikuti. Diantaranya:

1. 20 menit Tadabur dan Tazakkur

2. 10 menit Solidarity in Recitation

3. 20 menit Talaqi

4. 5 menit Call to Action

5. 5 menit Doa

20 menit tadabur dan Tazakkur diisi oleh beberapa tausiah dari Ustd. Abdur Rais Ar Rouf, dilanjut oleh Ustadzh Mimin Aminah.

Masing-masing menyampaikan tausiahnya kurang lebih 10 menit. Ada beberapa penjelasan menarik tentang makna Quran.

Ustad. Abdur Rais Ar Rouf memaparkan dalam durasi yang hanya sebentar itu tentang energi Quran. Bahwa orang-orang spesial adalah orang-orang pecinta Al Quran, yang hidup dengan Quran. Merekalah orang-orang pilihan Allah SWT.

Quran mempunyai kekuatan yang amat dahsyat, karena di dalamnya mengandung sumber kehidupan. Menjadi ahli Quran itu bertingkat-tingkat dan untuk mendapatkan energi Quran itu tidak pernah instan. Harus melalui proses yang terus menerus dan Allah akan menguji energi Quran pada setiap manusia yang akan meyakininya.

Sementara itu Ustadzah Mimin Aminah menuturkan tentang iman yang harus selalu ada. Lanjutnya bahwa Allah Maha Kuasa atas segala apapun. Cara Allah menolong adalah dengan ditenangkan hati kita. Jika hati gelisah, galau, iri, dengki, bisa jadi itu karena kita sedang jauh dari Allah. Jika ingin rumah tangga kita sakinah, tentram dan bahagia maka bukalah Al Quran dan pelajari isinya.

10 menit Solidarity in Recitation dari ACT (Aksi Cepat Tanggap) menjelaskan tentang gerakan-gerakan sosial yang kerap mereka lakukan untuk membantu masyarakat yang terkena musibah. Mereka menggalang dana dan langkah-langkah untuk melakukan aksi sosial. Sambil menjelaskan aksi, tim ACT menggalang dana pada semua yang hadir di masjid.

Selesai mendapat penuturan tentang program ACT, kami lanjut pada 20 menit Talaqi. Kami yang mendapat Quran Cordoba, di dalamnya terselip kertas dengan tulisan nama surat dan ayat yang harus kami bacakan. Kemudian para hafidz dan ustadz bergantian memimpin baca surat-surat khusus, diantaranya:

Q.S Al Fatihah 1-5

Q.S Al Hujurat 1-10

Q.S Ar Rahman 1-19

Q.S Asy Syaf 1-5

Q.S Anasr 1-3

Suasana terasa khusuk, suara orang-orang mengaji seperti memenuhi rongga dada. Ada rasa yang sulit digambarkan. Ada harap, ada rindu, ada tenang, ada kekuatan. 


Selesai itu, Ustadz Evie Efendi memberikan tausiah tentang Quran sebagai obat hati dan penyembuh. Ada beberapa poin-poin menarik yang disampaikan Ustadz Evie Efendi dengan gayanya yang ringan:

1. Quran sebagai petunjuk menuju jalan keselamatan.

2. Jadi petunjuk bagi yang taqwa.

3. Tak akan jadi petunjuk bagi yang tidak taqwa.

4. Amalkan quran, selesai.

Proses acara #QuranHour cukup rapi dan hikmat. Keluar dari masjid, seperti mengembalikan kepala dan hati pada tempatnya. Ada rasa tenang, rindu berkontemplasi di Baitullah dan siap melanjutkan proses hidup yang harus dijalani.

Bacalah Quran, maka terbuka segala pertanyaan diri pada kehidupan yang terjadi, lalu hatimu lebih tenang. Mungkin itu jawaban dari si istri, ketika dia menjalani semua proses pengobatan suami, Allah menolongnya dengan memberi hati yang tenang. Ketika tenang, maka hati lebih yakin bahwa hidup yang dijalani adalah sebuah proses pembelajaran terbaik dari-Nya menuju diri yang lebih matang. Ammiiin… InsyaAllah.

Bandung, 13 September 2017
Imatakubesar

Serunya Surfing Literasi di Dunia Blog

Bla… Bla… Serunya Nge Blog

Apa sih yang bikin kamu ngerasa bahwa dunia nge-blog itu asik, seru. Begitu paparan Mak Dian di Blog KEB.   Awalnya, buat saya posting tulisan di blog menjadi kesenangan sendiri. Tulisan saya akhirnya ada yang baca, meski 1-2 orang dan itupun teman-teman dekat, hahahaa… Makin kesini, banyak hal yang menarik dari dunia nge-blog.


Gambar karya Pidi Baiq, mix media: cat dan canvas.
Foto: Ima


Ya, saya percaya bahwa apapun yang kamu kerjakan terus-menerus akan membuka banyak pintu dan jendela rezeki. Rezeki di sini tidak melulu masalah materi, tapi kesempatan yang membuka wawsasan, jaringan pertemanan, pengalaman spiritual berkomunikasi, jalan-jalan dan menganlisa lingkungan. Serunya nge-blog, kamu bisa posting dan membangun wacana apa saja. Dari hal yang kecil bagi kelompok lain dan berarti untuk hidup kamu. 

Saya tahu blog itu sekitar tahun 2002-an, jaman membangun pergerakan literasi di kalangan sendiri lalu saling menularkan energi dan menjamur. Berkomunitas menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan dan lingkungan kampus.

Blog yang saya baca seputar media kebebasan berfikir dan membangun jejaring komunitas-komunitas. Dari komunitas teater, film indie, musik indie, dan kegiatan literasi yang membangun gerakan literasi di lingkungan komunitasnya. Mereka menuangkan cerita-cerita kegiatan seputar komunitas, pertemanan, gerakan sosial, membangun gerakan-gerakan kecil sehingga memberi energi yang banyak buat lingkungan yang lebih luas.

Beberapa yang saya ingat, gerakan yang dilakukan oleh komunitas seniman musik Punk yang kerap melakukan gerakan Food Not Bomb. Mereka kerap mengumpulkan makanan-makanan sisa tapi masih layak makan dari supermarket maupun hotel, lalu masak bersama untuk dibagikan kembali atau dimakan bersama. Intinya, dari pada membuat pertempuran lebih baik membuat makanan.

Lalu muncul komunitas literasi yang kerap berdiskusi tentang penulis Pramoedya Ananta Toer. Jaman pemerintahan Orde Baru, hasil karyanya tidak boleh diterbitkan. Tapi tahun 2002-an, penulis Pram kembali muncul dan karya-karyanya mulai banyak dikenal dan dibahas oleh berbagai kalangan. Dengan munculnya toko buku berbasis komunitas, menjadi energi-energi kontemplatif bagi komunitas kecil untuk terus bergerak.

Saat itu, komunitas dengan berbasis hobi kerap dinomorduakan di llingkungan masyarakat. Dengan ‘perangkat’ literasi di media sosial inilah yang menjadi magnet satu dengan yang lain saling terhubung, saling terkoneksi, saling bekerjasama, membanggun ruang-ruang hidup.

Dengan munculnya teknologi yang berkembang saat itu (2002-2005), seperti blogdrive, multiply dan grup-grup komunitas di satu badan email. Sekarang blogdrive dan multiply sudah tidak ada, juga jangan tanyakan friendster, hehe… Media sosial memberi dampak yang menarik, sebuah ide kecil dari tulisan individu dapat menjadi gerakan besar sebuah komunitas. Kekuatan komunitas ini, saling memberi pengaruh untuk melakukan langkah-langkah. Ide yang hadir dilam rangkaian tulisan dan tindakan yang di posting di media blog, mempercepat informasi membangun pergerakan satu, dua, tiga orang yang memiliki visi dan minat yang sama. Memberi keyakinan bahwa tindakannya memberi dampak gerakan tertentu.

Blog merupakan ruang personal, tapi begitu semua orang bisa mengakses tulisan tersebut, maka ide dari tulisan di blog-nya menjadi milik siapapun untuk bertindak, berlaku. Maksud milik siapapun disini adalah ketika dia membaca, setiap kalimatnya bisa menjadi bagian yang menghidupi pola pikir dan sikap hidupnya. Tulisannya memberi pengaruh, tapi ada juga yang menganggapnya biasa saja.

Mungkin, paparan bla bla di atas, bisa jadi awalnya niat menulis hanya menumpahkan pikiran. Tak disadari tulisannya ternyata memancing dan menyetuskan banyak pergerakan, termasuk salah satunya muncul komunitas yang di garap oleh para ibu, yaitu KEB (Komunitas Emak-Emak Blogger).

Beberapa tahun terakhir ini, ruang menulis di media blog banyak dipegang oleh para Ibu. Ada Ibu yang bergerak di rumah, ada yang bergerak di kantor dan rumah, ada pengusaha, dll. Menulis menjadi ruang hati, pikirannya, langkah menjadi luas, terasah untuk menganalisa berbagai situasi sosial yang muncul di media informasi. Ibu bisa menjadi media penyaring informasi yang masif terjadi, kini.

Lalu, gimana acaranya biar kita konsen nge-Blog?

Saya sendiri masih naik turun nulis di blog. Buat emak-emak dengan anak 2 yang masih kecil-kecil, konsentrasi dan mendapatkan suasana menulis yang enak itu “mahal” sekali. Butuh perjuangan dan latihan. Tugas Ibu di rumah itu banyak sekali, mendidik anak-anak, menjaga kebersihan, menyiapkan makanan sehat, membangun suasana rumah tetap nyaman dan ceria. Lalu ngapain cape-cape meluangkan waktu untuk menulis di blog?

Nah, ini misterinya. Saya juga tidak tahu, yang jelas begitu menyelesaikan satu tulisan, rasanya bahagia dan muncul rasa berharga. Isi kepala dan hati terasa lebih luas, ketika saya menulis tentang anak, artinya, mau tidak mau saya kembali membaca, berdiskusi. Menulis menjadi kepala lebih terisi dan lebih ringan dalam menjalani tanggung tawab sebagai Ibu. Menjadi emak blogger menjadi salah satu jalan mendapatkan solusi persoalan anak-anak dan rumah tangga.


Foto: Ima


Nah, diatas semua prioritas keluarga (halah, glek!), kita harus berdamai dengan beberapa hal di bawah ini agar (katanya bisa tetap) konsen dan fokus dalam mengelola postingan di blog:

1. Waktu

Betul, menulis itu butuh ruang dan waktu khusus. Dalam menentukan waktu menulis untuk para Ibu ini beragam. Ada beberapa Ibu memangkas waktu tidurnya, bangun malam sekalian tahajud lalu menggunakan sepertiga malamnya untuk menulis hingga waktu subuh. Selesai subuh dilanjut mengurus kebutuhan keluarga: makanan, kebersihan rumah dan antar jemput sekolah.

Tapi ada beberapa Ibu yang memanfaatkan waktunya di pagi hari ketika anak-anaknya sudah mulai sekolah. Tapi ada juga yang menulis kapan saja ketika ada waktu kosong dan mood nya sedang bagus, dia bisa menulis dalam keadaan apapun. Bahkan sambil menunggu masakan matang pun, bisa menulis.

Masalah waktu ini berkaitan erat dengan konsentrasi masing-masing Ibu. Ini bisa dilatih dengan komitmen untuk menulis di waktu yang sudah ditentukan sendiri.

Situasi seperti ini tentu engga aneh lagi: anak-anak sedang bermain lari-larian, teriak sana sini dan menaburkan banyak mainan di tengah ruangan. Godaan untuk membereskan mainan dan energi “bertanduk” untuk ngomel ke anak-anak itu cukup sering. Anak-anak tetaplah anak-anak, dunianya adalah bermain. Kadang saya biarkan saja mereka bermain dan saya sendiri fokus pada tema dan proses menulis yang sedang dikerjakan.

Kalau perlu dicatat poin-poin apa saja yang melintas di kela kita, kalau-kalau si anak butuh bantuan dadakan seperti cebok atau dia menumpahkan air di lantai. Begitu selesai urusan dengan anak-anak, kita bisa kembali melihat catatan lalu membangun konsentrasi yang tertunda. Percis seperti kita jadi aktor panggung, kita harus tetap konsentrasi ketika duduk di sayap panggung dan siap begitu masuk panggung untuk memainkan emosi di adegan yang dibutuhkan.

2. Tentukan Tema Tulisan

Tangkap ide tulisan dari kegiatan dan lingkungan terdekat kita. Itu bisa membantu otak kita tetap bemain-maian dengan logika berfikir dan hati kita. Secara tak sadar, kita akan mulai menganalisa, memetakan masalah dan bermain-main dalam memikirkan sebuah “kasus”.

Otak yang berfikir, akan mendekatkan kita pada berbagai solusi dan penemuan-penemuan dalam menyelesaikan masalah. Misalnya ketika kita menemukan masalah di diri kamu dan anak-anak, katakanlah anak-anak ingin bermain pasir. Tapi karena di Bandung tidak ada pantai dan butuh dana besar untuk ke pantai akhirnya pergi ke tempat bermain di sebuah mall dekat rumah. Tak hanya itu, anak-anak membutuhakan ruang bermain yang berbeda agar kebutuhan fisik dan mentalnya terolah dan terpenuhi. Pengalaman kita bisa menjadi salah satu cerminan dan media koreksi untuk diri sendiri.

3. Baca Buku

Ide tidak akan hadir begitu saja jika kita berkutat dengan aktifitas yang itu itu saja. Otak dan hati kita butuh diasah dan referensi yang banyak. Kalau kamu ingin tulisannya asik dan matang, maka rajin-rajinlah membaca. Di bawah alam sadar kita, kita mengolah, mengemas, mengunyah, menyimpan semua kata-kata, logika penulis, energi alur cerita, satu persatu referesi terkumpul dan terolah dengan sendirinya dan menggiring logika berfikir kita. I

Jadi, baca buku itu penting. Media baca ini banyak, bukan hanya buku tapi website, berita-berita di berbagai media sosial, otomatis akan menggiring pikiran kita untuk menangkap, menyaring dan mengolahnya saat dibutuhkan.

4. Terus Menulis

Pisau tajam tidak akan menjadi bertambah baik jika tidak diasah. Begitupun menulis di blog. Menulis menjadi proses yang berat jika tidak diolah dan dilatih terus menerus. Meskipun tidak sedang mood, maka tulisalah apapun yang terlintas, apa yang dilihat, apa yang dirasa. Mungkin susunan kata akan terlihat kacau, tapi disaat mood sudah rapi lagi, maka dengan sendirinya menulis seperti air yang mengalir.

5. Ajak Sahabat Dekatmu Menjadi Pembaca Pertama

Diawal-awal saya menulis, bahkan sekarang pun, saya suka kasih link ke teman dekat untuk membaca tulisan saya dan minta masukan dari dia. Tapi bukan berarti pendapatnya adalah fatwa, ketika dibilang tak bagus kita menjadi patah semangat dan menganggap bahwa tulisannya tidak layak baca. Singkirkan pikiran itu, tapi setidaknya dari 1000 friendlist kita, ada 1 orang yang mau baca tulisan kita, biar happy. (hahhahaaaaaa….)

6. Ikut Komunitas Blog di Media Sosial

Dulu, saya cuek sekali, tidak ikut komunitas blog di media sosial dan cenderung berfikir kalau menulis ya menulis saja. Ada yang baca sukur, gak ada yang baca juga gapapa. Tapi kali ini beda, dengan ikut beberapa komunitas blog meluaskan pandangan dan membuka banyak pintu rezeki. Tak hanya rezeki materi tapi memberi pandangan tentang cara bersosialisasi, perkembangan informasi yang tidak muncul di media cetak dan media umum lainnya.

Biasanya saya menulis seenak hati dan seingetnya. Kadang sebulan sekali, kadang beberapa bulan tidak posting lalu nulis lagi. Tapi dengan ikut grup blogger, energi menulis itu jadi lebih tinggi. Tak hanya menulis, tapi bagaimana mengelola blog agar tetap enak dibaca dan mempunyai “daya pikat”. Pemicunya menjadi banyak, grup blog ini bisa menjadi bahan bakar agar kita tetap asik menulis dan mengembangan kreatiftas. Tak hanya menulis, tapi mengolah kemampuan, buka buku lagi cara menulis dan memberi manfaat di lingkungan kita.

7. Menjaring Pertemanan

Secara tidak langsung, tulisan-tulisan kita akan menemukan sendiri pembacanya. Bisa dari blogger juga atau teman-teman kita yang senang membaca tulisan yang diposting di blog. Perkembangan teknologi ini memudahkan kita untuk tergabung dengan orang-orang yang punya minat dan antusias yang sama. Ketika wacana bergulir, satu persatu akan mendukung atau ada juga yang bersikap sebaliknya. Tak perlu jadi masalah ketika menemukan orang yang berbeda pandangan.

Menulislah, maka kamu hidup. Banyak hal yang kita lupakan dan lewat begitu saja karena kita tidak menuliskan kehidupan diri dan lingkungan sekitar. Padahal bisa jadi setiap pertemuan dan kejadian memberi pelajaran kehidupan yang luar biasa. Dengan menulis, kita bisa belajar pada sejarah diri dan belajar pada proses hidup. Banyak kehidupan yang kita alami tidak dialami oleh orang lain, begitu pun apa yang kita lihat belum tentu bisa dilihat oleh orang lain. Sementara apa yang kita lihat, rasa, dengar, bisa jadi tidak berharga buat kita tapi sangat bernilai buat orang lain.

#KEBloggingCollab

Bandung ,7 September 2017
Imatakubesar

Serunya Surfing Literasi di Dunia Blog

Bla… Bla… Serunya Nge Blog

Apa sih yang bikin kamu ngerasa bahwa dunia nge-blog itu asik, seru. Begitu paparan Mak Dian di Blog KEB.   Awalnya, buat saya posting tulisan di blog menjadi kesenangan sendiri. Tulisan saya akhirnya ada yang baca, meski 1-2 orang dan itupun teman-teman dekat, hahahaa… Makin kesini, banyak hal yang menarik dari dunia nge-blog.


Gambar karya Pidi Baiq, mix media: cat dan canvas.
Foto: Ima


Ya, saya percaya bahwa apapun yang kamu kerjakan terus-menerus akan membuka banyak pintu dan jendela rezeki. Rezeki di sini tidak melulu masalah materi, tapi kesempatan yang membuka wawsasan, jaringan pertemanan, pengalaman spiritual berkomunikasi, jalan-jalan dan menganlisa lingkungan. Serunya nge-blog, kamu bisa posting dan membangun wacana apa saja. Dari hal yang kecil bagi kelompok lain dan berarti untuk hidup kamu. 

Saya tahu blog itu sekitar tahun 2002-an, jaman membangun pergerakan literasi di kalangan sendiri lalu saling menularkan energi dan menjamur. Berkomunitas menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan dan lingkungan kampus.

Blog yang saya baca seputar media kebebasan berfikir dan membangun jejaring komunitas-komunitas. Dari komunitas teater, film indie, musik indie, dan kegiatan literasi yang membangun gerakan literasi di lingkungan komunitasnya. Mereka menuangkan cerita-cerita kegiatan seputar komunitas, pertemanan, gerakan sosial, membangun gerakan-gerakan kecil sehingga memberi energi yang banyak buat lingkungan yang lebih luas.

Beberapa yang saya ingat, gerakan yang dilakukan oleh komunitas seniman musik Punk yang kerap melakukan gerakan Food Not Bomb. Mereka kerap mengumpulkan makanan-makanan sisa tapi masih layak makan dari supermarket maupun hotel, lalu masak bersama untuk dibagikan kembali atau dimakan bersama. Intinya, dari pada membuat pertempuran lebih baik membuat makanan.

Lalu muncul komunitas literasi yang kerap berdiskusi tentang penulis Pramoedya Ananta Toer. Jaman pemerintahan Orde Baru, hasil karyanya tidak boleh diterbitkan. Tapi tahun 2002-an, penulis Pram kembali muncul dan karya-karyanya mulai banyak dikenal dan dibahas oleh berbagai kalangan. Dengan munculnya toko buku berbasis komunitas, menjadi energi-energi kontemplatif bagi komunitas kecil untuk terus bergerak.

Saat itu, komunitas dengan berbasis hobi kerap dinomorduakan di llingkungan masyarakat. Dengan ‘perangkat’ literasi di media sosial inilah yang menjadi magnet satu dengan yang lain saling terhubung, saling terkoneksi, saling bekerjasama, membanggun ruang-ruang hidup.

Dengan munculnya teknologi yang berkembang saat itu (2002-2005), seperti blogdrive, multiply dan grup-grup komunitas di satu badan email. Sekarang blogdrive dan multiply sudah tidak ada, juga jangan tanyakan friendster, hehe… Media sosial memberi dampak yang menarik, sebuah ide kecil dari tulisan individu dapat menjadi gerakan besar sebuah komunitas. Kekuatan komunitas ini, saling memberi pengaruh untuk melakukan langkah-langkah. Ide yang hadir dilam rangkaian tulisan dan tindakan yang di posting di media blog, mempercepat informasi membangun pergerakan satu, dua, tiga orang yang memiliki visi dan minat yang sama. Memberi keyakinan bahwa tindakannya memberi dampak gerakan tertentu.

Blog merupakan ruang personal, tapi begitu semua orang bisa mengakses tulisan tersebut, maka ide dari tulisan di blog-nya menjadi milik siapapun untuk bertindak, berlaku. Maksud milik siapapun disini adalah ketika dia membaca, setiap kalimatnya bisa menjadi bagian yang menghidupi pola pikir dan sikap hidupnya. Tulisannya memberi pengaruh, tapi ada juga yang menganggapnya biasa saja.

Mungkin, paparan bla bla di atas, bisa jadi awalnya niat menulis hanya menumpahkan pikiran. Tak disadari tulisannya ternyata memancing dan menyetuskan banyak pergerakan, termasuk salah satunya muncul komunitas yang di garap oleh para ibu, yaitu KEB (Komunitas Emak-Emak Blogger).

Beberapa tahun terakhir ini, ruang menulis di media blog banyak dipegang oleh para Ibu. Ada Ibu yang bergerak di rumah, ada yang bergerak di kantor dan rumah, ada pengusaha, dll. Menulis menjadi ruang hati, pikirannya, langkah menjadi luas, terasah untuk menganalisa berbagai situasi sosial yang muncul di media informasi. Ibu bisa menjadi media penyaring informasi yang masif terjadi, kini.

Lalu, gimana acaranya biar kita konsen nge-Blog?

Saya sendiri masih naik turun nulis di blog. Buat emak-emak dengan anak 2 yang masih kecil-kecil, konsentrasi dan mendapatkan suasana menulis yang enak itu “mahal” sekali. Butuh perjuangan dan latihan. Tugas Ibu di rumah itu banyak sekali, mendidik anak-anak, menjaga kebersihan, menyiapkan makanan sehat, membangun suasana rumah tetap nyaman dan ceria. Lalu ngapain cape-cape meluangkan waktu untuk menulis di blog?

Nah, ini misterinya. Saya juga tidak tahu, yang jelas begitu menyelesaikan satu tulisan, rasanya bahagia dan muncul rasa berharga. Isi kepala dan hati terasa lebih luas, ketika saya menulis tentang anak, artinya, mau tidak mau saya kembali membaca, berdiskusi. Menulis menjadi kepala lebih terisi dan lebih ringan dalam menjalani tanggung tawab sebagai Ibu. Menjadi emak blogger menjadi salah satu jalan mendapatkan solusi persoalan anak-anak dan rumah tangga.


Foto: Ima


Nah, diatas semua prioritas keluarga (halah, glek!), kita harus berdamai dengan beberapa hal di bawah ini agar (katanya bisa tetap) konsen dan fokus dalam mengelola postingan di blog:

1. Waktu

Betul, menulis itu butuh ruang dan waktu khusus. Dalam menentukan waktu menulis untuk para Ibu ini beragam. Ada beberapa Ibu memangkas waktu tidurnya, bangun malam sekalian tahajud lalu menggunakan sepertiga malamnya untuk menulis hingga waktu subuh. Selesai subuh dilanjut mengurus kebutuhan keluarga: makanan, kebersihan rumah dan antar jemput sekolah.

Tapi ada beberapa Ibu yang memanfaatkan waktunya di pagi hari ketika anak-anaknya sudah mulai sekolah. Tapi ada juga yang menulis kapan saja ketika ada waktu kosong dan mood nya sedang bagus, dia bisa menulis dalam keadaan apapun. Bahkan sambil menunggu masakan matang pun, bisa menulis.

Masalah waktu ini berkaitan erat dengan konsentrasi masing-masing Ibu. Ini bisa dilatih dengan komitmen untuk menulis di waktu yang sudah ditentukan sendiri.

Situasi seperti ini tentu engga aneh lagi: anak-anak sedang bermain lari-larian, teriak sana sini dan menaburkan banyak mainan di tengah ruangan. Godaan untuk membereskan mainan dan energi “bertanduk” untuk ngomel ke anak-anak itu cukup sering. Anak-anak tetaplah anak-anak, dunianya adalah bermain. Kadang saya biarkan saja mereka bermain dan saya sendiri fokus pada tema dan proses menulis yang sedang dikerjakan.

Kalau perlu dicatat poin-poin apa saja yang melintas di kela kita, kalau-kalau si anak butuh bantuan dadakan seperti cebok atau dia menumpahkan air di lantai. Begitu selesai urusan dengan anak-anak, kita bisa kembali melihat catatan lalu membangun konsentrasi yang tertunda. Percis seperti kita jadi aktor panggung, kita harus tetap konsentrasi ketika duduk di sayap panggung dan siap begitu masuk panggung untuk memainkan emosi di adegan yang dibutuhkan.

2. Tentukan Tema Tulisan

Tangkap ide tulisan dari kegiatan dan lingkungan terdekat kita. Itu bisa membantu otak kita tetap bemain-maian dengan logika berfikir dan hati kita. Secara tak sadar, kita akan mulai menganalisa, memetakan masalah dan bermain-main dalam memikirkan sebuah “kasus”.

Otak yang berfikir, akan mendekatkan kita pada berbagai solusi dan penemuan-penemuan dalam menyelesaikan masalah. Misalnya ketika kita menemukan masalah di diri kamu dan anak-anak, katakanlah anak-anak ingin bermain pasir. Tapi karena di Bandung tidak ada pantai dan butuh dana besar untuk ke pantai akhirnya pergi ke tempat bermain di sebuah mall dekat rumah. Tak hanya itu, anak-anak membutuhakan ruang bermain yang berbeda agar kebutuhan fisik dan mentalnya terolah dan terpenuhi. Pengalaman kita bisa menjadi salah satu cerminan dan media koreksi untuk diri sendiri.

3. Baca Buku

Ide tidak akan hadir begitu saja jika kita berkutat dengan aktifitas yang itu itu saja. Otak dan hati kita butuh diasah dan referensi yang banyak. Kalau kamu ingin tulisannya asik dan matang, maka rajin-rajinlah membaca. Di bawah alam sadar kita, kita mengolah, mengemas, mengunyah, menyimpan semua kata-kata, logika penulis, energi alur cerita, satu persatu referesi terkumpul dan terolah dengan sendirinya dan menggiring logika berfikir kita. I

Jadi, baca buku itu penting. Media baca ini banyak, bukan hanya buku tapi website, berita-berita di berbagai media sosial, otomatis akan menggiring pikiran kita untuk menangkap, menyaring dan mengolahnya saat dibutuhkan.

4. Terus Menulis

Pisau tajam tidak akan menjadi bertambah baik jika tidak diasah. Begitupun menulis di blog. Menulis menjadi proses yang berat jika tidak diolah dan dilatih terus menerus. Meskipun tidak sedang mood, maka tulisalah apapun yang terlintas, apa yang dilihat, apa yang dirasa. Mungkin susunan kata akan terlihat kacau, tapi disaat mood sudah rapi lagi, maka dengan sendirinya menulis seperti air yang mengalir.

5. Ajak Sahabat Dekatmu Menjadi Pembaca Pertama

Diawal-awal saya menulis, bahkan sekarang pun, saya suka kasih link ke teman dekat untuk membaca tulisan saya dan minta masukan dari dia. Tapi bukan berarti pendapatnya adalah fatwa, ketika dibilang tak bagus kita menjadi patah semangat dan menganggap bahwa tulisannya tidak layak baca. Singkirkan pikiran itu, tapi setidaknya dari 1000 friendlist kita, ada 1 orang yang mau baca tulisan kita, biar happy. (hahhahaaaaaa….)

6. Ikut Komunitas Blog di Media Sosial

Dulu, saya cuek sekali, tidak ikut komunitas blog di media sosial dan cenderung berfikir kalau menulis ya menulis saja. Ada yang baca sukur, gak ada yang baca juga gapapa. Tapi kali ini beda, dengan ikut beberapa komunitas blog meluaskan pandangan dan membuka banyak pintu rezeki. Tak hanya rezeki materi tapi memberi pandangan tentang cara bersosialisasi, perkembangan informasi yang tidak muncul di media cetak dan media umum lainnya.

Biasanya saya menulis seenak hati dan seingetnya. Kadang sebulan sekali, kadang beberapa bulan tidak posting lalu nulis lagi. Tapi dengan ikut grup blogger, energi menulis itu jadi lebih tinggi. Tak hanya menulis, tapi bagaimana mengelola blog agar tetap enak dibaca dan mempunyai “daya pikat”. Pemicunya menjadi banyak, grup blog ini bisa menjadi bahan bakar agar kita tetap asik menulis dan mengembangan kreatiftas. Tak hanya menulis, tapi mengolah kemampuan, buka buku lagi cara menulis dan memberi manfaat di lingkungan kita.

7. Menjaring Pertemanan

Secara tidak langsung, tulisan-tulisan kita akan menemukan sendiri pembacanya. Bisa dari blogger juga atau teman-teman kita yang senang membaca tulisan yang diposting di blog. Perkembangan teknologi ini memudahkan kita untuk tergabung dengan orang-orang yang punya minat dan antusias yang sama. Ketika wacana bergulir, satu persatu akan mendukung atau ada juga yang bersikap sebaliknya. Tak perlu jadi masalah ketika menemukan orang yang berbeda pandangan.

Menulislah, maka kamu hidup. Banyak hal yang kita lupakan dan lewat begitu saja karena kita tidak menuliskan kehidupan diri dan lingkungan sekitar. Padahal bisa jadi setiap pertemuan dan kejadian memberi pelajaran kehidupan yang luar biasa. Dengan menulis, kita bisa belajar pada sejarah diri dan belajar pada proses hidup. Banyak kehidupan yang kita alami tidak dialami oleh orang lain, begitu pun apa yang kita lihat belum tentu bisa dilihat oleh orang lain. Sementara apa yang kita lihat, rasa, dengar, bisa jadi tidak berharga buat kita tapi sangat bernilai buat orang lain.

#KEBloggingCollab

Bandung ,7 September 2017
Imatakubesar

Refleksi Cinta Negeri

Foto: Ima


Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

Tetap di puja puja bangsa


Di sana tempat lahir beta

Di buai di besarkan bunda

Tempat berlindung di hari tua

Sampai akhir menutup mata



Ini adalah salah satu lirik lagu kebangsaan berjudul Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki. Lagu-lagu kebangsaan kerap membuat saya ingat masa kecil. Menembus kabut dengan mengenakan baju putih merah, menjadi pengibar bendera, berlarian di sawah, mandi di sumber mata air, mengaji di masjid setelah waktu shalat magrib, menonton pertunjukan-pertunjukan rakyat, lalu keadaan berubah.  Mata air menyusut, sawah-sawah berubah jadi bangunan-bangunan perumahan, masjid-masjid sepi.  

Begitupun suasana pedesaan di kampung Bapak yang elok kini di’bunuh’ oleh timbunan sampah, pabrik-pabrik kain dan kemiskinan yang mengganas, pohon-pohon bambu yang kini berubah jadi pagar bata yang catnya memudar, sungai-sungai besar dan bening berubah jadi selokan penuh kotoran dan pembuangan pabrik.

Angkat tangan yang tersentuh hatinya dengan menyanyikan lagu kebangsaan di atas, itu artinya rindu itu masih tersimpan, hati terdalam kita masih cinta tanah air. Cinta masa lalu dan kini, rindu masa lalu dan rindu pembenahan demi masa depan.

Pertama kali air mata saya mengalir dan degup jantung saya berdetak kencang, ketika lagu-lagu kebangsaan diputar ketika kejadian reformasi tahun 1998. Presiden saat itu dituntut turun langsung oleh gerakan mahasiswa, meski keadaan menjadi caos begitu ada sekelompok orang menyusupi penyerangan terhadap etnis dan merampok toko-toko. Situasi menjadi sangat tegang dan saling curiga satu sama lain. Pergesekan antar suku menjadi sangat rentan. Demo yang lahir dari jiwa-jiwa pemberani, seperti tergores oleh sekelompok orang yang punya kepentingan dan ketakutan posisi pentingnya jatuh tumbang.

Sumber foto:
http://www.rockthevoteindonesia.org/?p=43

Semakin dewasa saya semakin mengerti, bahwa saya bagai hidup di negeri para dewa. Terdiri dari pulau-pulau, cuaca tropis yang stabil, tanah-tanah subur, ragam ikan di setiap pesisir, rempah yang melimpah, kopi-teh yang berkualitas, berbagai jenis makanan dan minuman hadir, beragam jenis binatang yang indah, alam yang lengkap.  Pantas saja negeri ini begitu diperebutkan sampai sekarang, tidak hanya oleh penjajah jaman dulu.


Sayangnya, kebanyakan dari kita tidak menyadari dan semakin langka generasi muda mengelola kekayaan alam yang sedemikian melimpah. Seolah bahwa mengelola di bidang pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan memiliki kelas terendah. 

Yang terjadi, seringkali kita mengabaikan kelebihan yang kita miliki dan selalu memandang takjub kemajuan dan kebijakan di negeri orang.  Satu persatu, kekayaan alam digadaikan demi jabatan, kekuasaan, kehormatan namun akhirnya kehilangan tanah dan budaya sendiri. Perlahan, kita dijajah oleh budaya orang yang datang secara masif. Bahan pokok makanan kita pun di supply oleh negara lain dengan kualitas yang lebih baik.

Sebagian yang menyadari bahwa kita hidup di negeri para dewa seperti berusaha menguasai dan mengelola semua lahan. Sampai tak disadari, satu persatu pulau, tanah, sawah, lahan, hanya dimiliki oleh beberapa pihak. Segala unsur yang dimiliki negeri ini jadi rebutan, orang-orang pemilik negeri mulai kehilangan lahan, kehilangan jati diri, kehilangan ruang-ruang bermain. 

Negeri para dewa seperti direnggut habis, lalu muncul ketimpangan ekonomi yang berefek pada ketimpangan pendidikan, ketimpangan idealisme, ketimpangan kesatuan, keadaan menjadi serba rentan dan mudah terusik.

Raja Ampat Papua
Sumber Foto:
infounik.org/35-foto-gambar-pemandangan-alam-indah-di-indonesia.html


Sebagian besar, negeri ini kerap dipimpin oleh pemerintah yang korup dan menjadikan negeri ini jadi alat untuk menimbun kekayaan dan kekuasaan. Hingga masyarakat terlilit oleh tingkah polah para pemimpin, sampai akhirnya timbul berbagai tuntutan dari masyarakat yang kian terasing dengan budaya negerinya sendiri. 


Pertentangan dan tuntutan masyarakat tidak hadir tiba-tiba, ketika masalah ekonomi, pendidikan semakin goyah. Harga-harga pasar yang tak stabil juga harga pendidikan yang baik hanya boleh dinikmati oleh masyarakat kelas atas. 

Ketimpangan di negeri ini terjadi diberbagai unsur. Sehingga dengan mudah kita dibenturkan dengan berbagai persoalan yang berkaitan dengan keberagaman. Seolah perbedaan menjadi inti persoalan besar dan mudah dipecah belah. Padahal bisa jadi semua ini mulai dari masalah pemimpin, ekonomi dan pengetahuan kita yang rendah. Oh, negeriku, tanah airku.

Satu sisi, sebagai negara demokrasi, pergerakan politik dan tumbuhnya lembaga independen, negara ini banyak kemajuan.  Masyarakat semakin kreatif, mempunyai “kebebasan” dalam berekspresi dan berani bersikap. Tapi satu sisi, kenyataan di negeri ini adalah terjadi ketimpangan pengetahuan, pendidikan sehingga muncul ketimpangan dalam berprilaku. Semua kelompok-kelompok ini bisa menjadi media yang dipolitisasi untuk kepentingan yang berkuasa. Sudut pandang masyarakat bisa mudah diarahkan pada isu dan wacana yang memecah kesatuan.

Lalu bagaimana keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia ini dapat terpenuhi. Apakah sila pancasila itu hanya slogan, sementara pelakunya-kita-seperti kehilangan percaya diri atas potensi negerinya sendiri.

Berpuluh tahun sejarah terukir, berpuluh tahun kita merdeka, tapi yang terjadi negara ini semakin mudah terombang ambing. Tanah menjadi panas, hujan menjadi banjir, angin menjadi topan.

Begitu pemilihan presiden tahun 2004, wacana etnis dan agama kerap menjadi media yang gurih dilemparkan ke ruang-ruang publik. Perkembangan alat komunikasi yang semakin pesat, membuat beragam informasi begitu mudah menyebar, orang-orang di media sosial, messenger, whatsapp. Tak jarang nada yang muncul mendistorsi wilayah rasa benci, waspada, khawatir, menciptakan ketakutan. Terutama yang berkaitan dengan topik-topik agama, komunis, suku bangsa. Kita begitu mudah dipengaruhi, penuh kecemasan dan ketakutan. Sehingga munculah kelompok-kelompok yang lahir kemudian atas nama agama, atas nama nasionalisme, atas nama kesatuan dalam mewadahi emosi kelompok orang. Mau tidak mau satu sama lain saling berbenturan, melakukan pembelaan dan saling mencaci.

Efek dari masalah ekonomi dan pendidikan ini, kita menjadi golongan orang-orang mudah dipicu oleh isu yang beredar, sehingga dengan udah kita terpecah belah. Begitupun dengan prilaku aparat negara yang makin hari makin membuat kita tercengang dengan berita-berita korupsi dan perilaku lainnya. Belum kendali pembuat keputusan harga pokok, setiap hari raya menjadi mafhum jika melonjak naik dan entah kapan kembali turun. Semua unsur dipolitisir entah untuk kepentingan siapa. 

Negeri ini sudah terlampau gaduh, butuh pemimpin dan kerjasama kelompok-kelompok independen yang bisa jadi penyeimbang keberagaman masyarakat yang multikultur dan setia bertumbuh di atas bumi pertiwi.

Kericuhan yang terjadi belakangan ini, bisa saja tidak terjadi tiba-tiba.  Tapi keadaan yang menekan sehingga keadaan begitu mudah dipicu.


MPR temu Netizen


Bincang-bincang MPR dengan Netizen di Novotel Bandung, 2017.
Foto: Ima

Beberapa waktu lalu, MPR temu Netizen di Hotel Novotel Bandung. Sebelumnya MPR melakukan kegiatan ini di Solo, Yogja dan beberapa kota lainnya. Netizen yang hadir ke acara tidak hanya dari Blogger Bdg tapi netizen yang tergabung di beberapa komunitas kota Jawa Barat. Ada beberapa blogger yang dari Cirebon, Cianjur, Garut. Menarik memperhatikan 50 orang netizen berkumpul di satu tempat, dengan beragam latar belakang dan beragam fokus konten dia blognya. Dan bagaimana sudut pandang mereka bicara tentang makna dan dasar negara Indonesia yang dihadapkan dengan keadaan masyarakat sosial sekarang yang mudah ‘panas’.

Upaya ini dilakukan untuk mengembalikan kesadaran kita sebagai Netizen untuk selalu menularkan kegiatan-kegiatan positif dan meluaskan pandangan masyarakat. Bahwa indonesia itu hebat, asik, keren, kaya ragam budaya, agama, suku, bahasa. Dimanapun, kita tidak akan lepas dari perbedaan.

Netizen dalam hal ini blogger, pergerakannya semakin masif dan beragam. Tulisan-tulisan bertebaran dari seputar jalan-jalan, kuliner, budaya, lifestyle, musik, tekno politik, dll, menghiasi beranda jagad internet dengan gaya bahasa dan cara komunikasi yang khas. Bila dikelola dengan baik, dengan sendirinya blogger akan mempunyai pembacanya. Pembacanya tidak hanya blogger sendiri tapi teman-teman yang tersebar di berbagai media sosialnya. Tulisan-tulisan yang asik, serius, tips ini itu dan banyak lagi. Tulisan-tulisan yang tersebar itu, setidaknya 50% pembaca akan terpengaruh.  Diharapkan, blogger bisa menjadi media penyeimbang mengingat informasi yang hilir mudik seperti mengecam keadaan.

Menarik ketika MPR bertemu muka dengan netizen ini, kami bicara banyak tentang Indonesia, bicara tentang dasar negara indonesia: pancasila, simbol negara kesatuan: garuda pancasila, semboyan negara republik Indonesia: Bhineka Tunggal Ika dan negara indonesia yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meski kami sudah lama ikut penataran P4 saat masuk kuliah, hari itu seolah mengingatkan kembali bahwa kami benar-benar hidup di negara dengan dasar negara Pancasila.

Semua unsur ini lahir dari kehidupan sosial dan budaya Indonesia yang sangat beragam, baik dari segi suku bangsa, agama, bahasa yang diikat menjadi dasar negara. Nilai-nilai hidup kehidupan sosial masyarakat ini memberi pengaruh banyak pada prilaku yang melahirkan seni, pakaian, makanan, cara bersosialisasi, aturan-aturan adat dan etika. Keragaman inilah yang membuat Indonesia ini kaya.

Gerakan Memelihara Rasa Kebangsaan

Belajar pada banyak kejadian yang sudah dilewati, bahkan sekarang pun masih terasa ‘hangat-hangat’ nya. Sedikit percikan, maka terbakar. Sebaiknya kita belajar pada komunitas-komunitas yang tumbuh di Bandung yang secara tidak langsung memelihara nilai kebangsaan. Seperti kegiatan seni, diskusi buku, mengasah hobi dan menghasilkan karya nyata. Mungkin buat sebagian orang kegiatan ini kecil, tapi jangan salah bisa memberi efek yang sangat besar: punya pendirian kuat, sedikit bicara dan banyak berkarya.

Keinginan untuk melahirkan karya dan menciptakan ruang budaya ini lahir dengan sendirinya. Seperti kecintaan pada bidang seni teater, buku, dunia literasi, musik, sastra, dll. Jika kecintaan ini terus diasah, dengan sendirinya dia ikut memelihara dan memberi pengaruh banyak pada kehidupan masyarakat.

Saya coba cerita beberapa komunitas yang menurut saya merupakan gerakan sosial masyarakat yang memelihara ruh negeri ini.

1. CCL (Celah-Celah Langit)

Di ujung kota Bandung, tersebutlah kantung budaya bernama CCL (Celah-Celah Langit). Di tempat ini dalam hitungan bulan selalu ada pertunjukan teater, musik, baca puisi, bahas buku dan sebagainya. Apresiatornya pun masyarakat dengan berbagai usia dan berbagai profesi hadir dan menikmati suasana pertunjukan seni. Sebelum acara dimulai, kami akan berdiri bersama dan menyanyikan lagu kebangsaan republik Indonesia “Indonesia Raya”. Tempatnya bukan di gedung besar, tapi di halaman rumah, dan untuk mencapainya kita harus masuk gang.

Aktifitas di sana banyak membukakan mata dan pengetahuan tentang kehidupan orang-orang melalui seni. Tak sedikit yang terinspirasi yang tersasah hatinya untuk berkarya di bilang yang ia kerjakan.

2. AARC (Asia Africa Reading Club)

Di gedung museum Asia Afrika, hadir kelompok AARC (Asia Africa Reading Club). Sekelompok orang-orang yang membaca buku secara bergantian dan menuntaskan dalam beberapa pekan lalu membahasnya. Pembahasannya si tokoh dari berbagai sisi sehingga menegaskan karakternya seperti apa. Aktifitas ini banyak di apresisasi oleh berbagai kelangan seperti, dosen, seniman, ibu rumah tangga yang memang menyukai ruang-ruang diskusi sebagai media kontemplasi. Secara tidak langsung, dari diskusi ini akan mempererat hubungan, mengasah daya nalar dan kesadaran hidup di negeri yang memiliki sejarah yang nyaris terlupakan.

3. Tobucil & Klab (Toko Buku Kecil)

Toko buku berbasis komunitas ini selain menjual buku-buku alternatif, menyedikan wadah untuk berkumpul dan berbagi sesuai dengan minat masing-masing. Seperti klab baca, klab nulis, klab yoga, klab rajut, klab gambar. Tobucil sudah berjalan 15 tahun dan menginspirasi banyak orang untuk berkegiatan dan berkomunitas sesuai dengan passion mereka.

Pergerakan kreatif mereka memancing banyak orang yang mempunyai passion yang sama untuk berkarya bersama, menjadi ruang berbagi satu sama lain dan saling menularkan kebaikan.

Semua langkah besar itu dimulai dari langkah-langkah kecil, begitupun kebaikan-kebaikan kecil akan melahirkan gerakan-gerakan besar.

4. Rumah Cemara

Rumah rehabilitasi yang ketergantungan obat-obatan terlarang dan terinveksi HIV AIDS (ODHA). Komunitas ini dibentuk dengan visi untuk memimpikan Indonesia tanpa diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS dan orang yang menggunakan narkoba, melalui misi dengan menggunakan pendekatan sebaya agar terciptanya kualitas hidup yang lebih baik bagi orang dengan HIV/AIDS dan pengguna narkoba di Indonesia

Mereka kerap ikut kejuaraan football, beberapa kali memenangkan dan mengharumkan nama bangsa. Tak hanya ikut kejuaraan, Rumah Cemara mensosialisasikan dengan membuat kegiatan diskusi-diskusi.

Saya hanya menuliskan 4 dulu, karena masih banyak sekali komunitas yang lain yang memberi banyak ruang hidup, nyata dan hadir mempengaruhi visi hidup di berbagai bidang.

Kehadiran komunitas-komunitas ini, bisa jadi awalnya lahir dari bentuk perlawanan karena sulitnya dukungan bahkan muncul stigma negatif kegiatan yang dilakuan. Kurangnya dukungan ini tidak hanya dari lingkungan terdekat bahkan lembaga besar bernama pemerintah. Sehingga gerakan-gerakan inisiatif dan kreatifitas masyarakat ini terus digali, bergerak pelan, nyata lalu membesar, memberi banyak ruang-ruang hidup dan berharga. Berbangsa, solidaritas, bergerak nyata, tidak hanya berupa yel yel, tapi berupa bukti konkrit dan prilaku nyata.

Gerakan kesenian yang sering dipandang sebelah mata, yang sering dianggap sebagai tindakan temporer atau sementara. Padahal kesenian memiliki pengaruh dan nilai yang sangat universal bisa melampaui suku, ras dan agama. Pesan-pesan yang disampaikan dalam kesenian akan merangkul semua unsur.

Kini pergerakan komunitas-komunitas ini kini banyak menjadi inspirasi dan mulai disadari bisa membuat masyarakat menjadi berdaya dan berkarya guna. (tsaaah!)

Membela negara, cinta kebangsaan dan nasionalisme itu tidak hanya pada tindakan atau prilaku yang besar-besar saja. Tapi pada tindakan-tindakan kecil, berkarya dan memberi banyak manfaat bagi masyarakat itu bisa melahirkan cinta tanah air dan menyadari bahwa Indonesia itu, luar biasa.

@imatakubesar