Browse By

Category Archives: Refleksi

Refleksi Cinta Negeri

Foto: Ima


Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

Tetap di puja puja bangsa


Di sana tempat lahir beta

Di buai di besarkan bunda

Tempat berlindung di hari tua

Sampai akhir menutup mata



Ini adalah salah satu lirik lagu kebangsaan berjudul Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki. Lagu-lagu kebangsaan kerap membuat saya ingat masa kecil. Menembus kabut dengan mengenakan baju putih merah, menjadi pengibar bendera, berlarian di sawah, mandi di sumber mata air, mengaji di masjid setelah waktu shalat magrib, menonton pertunjukan-pertunjukan rakyat, lalu keadaan berubah.  Mata air menyusut, sawah-sawah berubah jadi bangunan-bangunan perumahan, masjid-masjid sepi.  

Begitupun suasana pedesaan di kampung Bapak yang elok kini di’bunuh’ oleh timbunan sampah, pabrik-pabrik kain dan kemiskinan yang mengganas, pohon-pohon bambu yang kini berubah jadi pagar bata yang catnya memudar, sungai-sungai besar dan bening berubah jadi selokan penuh kotoran dan pembuangan pabrik.

Angkat tangan yang tersentuh hatinya dengan menyanyikan lagu kebangsaan di atas, itu artinya rindu itu masih tersimpan, hati terdalam kita masih cinta tanah air. Cinta masa lalu dan kini, rindu masa lalu dan rindu pembenahan demi masa depan.

Pertama kali air mata saya mengalir dan degup jantung saya berdetak kencang, ketika lagu-lagu kebangsaan diputar ketika kejadian reformasi tahun 1998. Presiden saat itu dituntut turun langsung oleh gerakan mahasiswa, meski keadaan menjadi caos begitu ada sekelompok orang menyusupi penyerangan terhadap etnis dan merampok toko-toko. Situasi menjadi sangat tegang dan saling curiga satu sama lain. Pergesekan antar suku menjadi sangat rentan. Demo yang lahir dari jiwa-jiwa pemberani, seperti tergores oleh sekelompok orang yang punya kepentingan dan ketakutan posisi pentingnya jatuh tumbang.

Sumber foto:
http://www.rockthevoteindonesia.org/?p=43

Semakin dewasa saya semakin mengerti, bahwa saya bagai hidup di negeri para dewa. Terdiri dari pulau-pulau, cuaca tropis yang stabil, tanah-tanah subur, ragam ikan di setiap pesisir, rempah yang melimpah, kopi-teh yang berkualitas, berbagai jenis makanan dan minuman hadir, beragam jenis binatang yang indah, alam yang lengkap.  Pantas saja negeri ini begitu diperebutkan sampai sekarang, tidak hanya oleh penjajah jaman dulu.


Sayangnya, kebanyakan dari kita tidak menyadari dan semakin langka generasi muda mengelola kekayaan alam yang sedemikian melimpah. Seolah bahwa mengelola di bidang pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan memiliki kelas terendah. 

Yang terjadi, seringkali kita mengabaikan kelebihan yang kita miliki dan selalu memandang takjub kemajuan dan kebijakan di negeri orang.  Satu persatu, kekayaan alam digadaikan demi jabatan, kekuasaan, kehormatan namun akhirnya kehilangan tanah dan budaya sendiri. Perlahan, kita dijajah oleh budaya orang yang datang secara masif. Bahan pokok makanan kita pun di supply oleh negara lain dengan kualitas yang lebih baik.

Sebagian yang menyadari bahwa kita hidup di negeri para dewa seperti berusaha menguasai dan mengelola semua lahan. Sampai tak disadari, satu persatu pulau, tanah, sawah, lahan, hanya dimiliki oleh beberapa pihak. Segala unsur yang dimiliki negeri ini jadi rebutan, orang-orang pemilik negeri mulai kehilangan lahan, kehilangan jati diri, kehilangan ruang-ruang bermain. 

Negeri para dewa seperti direnggut habis, lalu muncul ketimpangan ekonomi yang berefek pada ketimpangan pendidikan, ketimpangan idealisme, ketimpangan kesatuan, keadaan menjadi serba rentan dan mudah terusik.

Raja Ampat Papua
Sumber Foto:
infounik.org/35-foto-gambar-pemandangan-alam-indah-di-indonesia.html


Sebagian besar, negeri ini kerap dipimpin oleh pemerintah yang korup dan menjadikan negeri ini jadi alat untuk menimbun kekayaan dan kekuasaan. Hingga masyarakat terlilit oleh tingkah polah para pemimpin, sampai akhirnya timbul berbagai tuntutan dari masyarakat yang kian terasing dengan budaya negerinya sendiri. 


Pertentangan dan tuntutan masyarakat tidak hadir tiba-tiba, ketika masalah ekonomi, pendidikan semakin goyah. Harga-harga pasar yang tak stabil juga harga pendidikan yang baik hanya boleh dinikmati oleh masyarakat kelas atas. 

Ketimpangan di negeri ini terjadi diberbagai unsur. Sehingga dengan mudah kita dibenturkan dengan berbagai persoalan yang berkaitan dengan keberagaman. Seolah perbedaan menjadi inti persoalan besar dan mudah dipecah belah. Padahal bisa jadi semua ini mulai dari masalah pemimpin, ekonomi dan pengetahuan kita yang rendah. Oh, negeriku, tanah airku.

Satu sisi, sebagai negara demokrasi, pergerakan politik dan tumbuhnya lembaga independen, negara ini banyak kemajuan.  Masyarakat semakin kreatif, mempunyai “kebebasan” dalam berekspresi dan berani bersikap. Tapi satu sisi, kenyataan di negeri ini adalah terjadi ketimpangan pengetahuan, pendidikan sehingga muncul ketimpangan dalam berprilaku. Semua kelompok-kelompok ini bisa menjadi media yang dipolitisasi untuk kepentingan yang berkuasa. Sudut pandang masyarakat bisa mudah diarahkan pada isu dan wacana yang memecah kesatuan.

Lalu bagaimana keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia ini dapat terpenuhi. Apakah sila pancasila itu hanya slogan, sementara pelakunya-kita-seperti kehilangan percaya diri atas potensi negerinya sendiri.

Berpuluh tahun sejarah terukir, berpuluh tahun kita merdeka, tapi yang terjadi negara ini semakin mudah terombang ambing. Tanah menjadi panas, hujan menjadi banjir, angin menjadi topan.

Begitu pemilihan presiden tahun 2004, wacana etnis dan agama kerap menjadi media yang gurih dilemparkan ke ruang-ruang publik. Perkembangan alat komunikasi yang semakin pesat, membuat beragam informasi begitu mudah menyebar, orang-orang di media sosial, messenger, whatsapp. Tak jarang nada yang muncul mendistorsi wilayah rasa benci, waspada, khawatir, menciptakan ketakutan. Terutama yang berkaitan dengan topik-topik agama, komunis, suku bangsa. Kita begitu mudah dipengaruhi, penuh kecemasan dan ketakutan. Sehingga munculah kelompok-kelompok yang lahir kemudian atas nama agama, atas nama nasionalisme, atas nama kesatuan dalam mewadahi emosi kelompok orang. Mau tidak mau satu sama lain saling berbenturan, melakukan pembelaan dan saling mencaci.

Efek dari masalah ekonomi dan pendidikan ini, kita menjadi golongan orang-orang mudah dipicu oleh isu yang beredar, sehingga dengan udah kita terpecah belah. Begitupun dengan prilaku aparat negara yang makin hari makin membuat kita tercengang dengan berita-berita korupsi dan perilaku lainnya. Belum kendali pembuat keputusan harga pokok, setiap hari raya menjadi mafhum jika melonjak naik dan entah kapan kembali turun. Semua unsur dipolitisir entah untuk kepentingan siapa. 

Negeri ini sudah terlampau gaduh, butuh pemimpin dan kerjasama kelompok-kelompok independen yang bisa jadi penyeimbang keberagaman masyarakat yang multikultur dan setia bertumbuh di atas bumi pertiwi.

Kericuhan yang terjadi belakangan ini, bisa saja tidak terjadi tiba-tiba.  Tapi keadaan yang menekan sehingga keadaan begitu mudah dipicu.


MPR temu Netizen


Bincang-bincang MPR dengan Netizen di Novotel Bandung, 2017.
Foto: Ima

Beberapa waktu lalu, MPR temu Netizen di Hotel Novotel Bandung. Sebelumnya MPR melakukan kegiatan ini di Solo, Yogja dan beberapa kota lainnya. Netizen yang hadir ke acara tidak hanya dari Blogger Bdg tapi netizen yang tergabung di beberapa komunitas kota Jawa Barat. Ada beberapa blogger yang dari Cirebon, Cianjur, Garut. Menarik memperhatikan 50 orang netizen berkumpul di satu tempat, dengan beragam latar belakang dan beragam fokus konten dia blognya. Dan bagaimana sudut pandang mereka bicara tentang makna dan dasar negara Indonesia yang dihadapkan dengan keadaan masyarakat sosial sekarang yang mudah ‘panas’.

Upaya ini dilakukan untuk mengembalikan kesadaran kita sebagai Netizen untuk selalu menularkan kegiatan-kegiatan positif dan meluaskan pandangan masyarakat. Bahwa indonesia itu hebat, asik, keren, kaya ragam budaya, agama, suku, bahasa. Dimanapun, kita tidak akan lepas dari perbedaan.

Netizen dalam hal ini blogger, pergerakannya semakin masif dan beragam. Tulisan-tulisan bertebaran dari seputar jalan-jalan, kuliner, budaya, lifestyle, musik, tekno politik, dll, menghiasi beranda jagad internet dengan gaya bahasa dan cara komunikasi yang khas. Bila dikelola dengan baik, dengan sendirinya blogger akan mempunyai pembacanya. Pembacanya tidak hanya blogger sendiri tapi teman-teman yang tersebar di berbagai media sosialnya. Tulisan-tulisan yang asik, serius, tips ini itu dan banyak lagi. Tulisan-tulisan yang tersebar itu, setidaknya 50% pembaca akan terpengaruh.  Diharapkan, blogger bisa menjadi media penyeimbang mengingat informasi yang hilir mudik seperti mengecam keadaan.

Menarik ketika MPR bertemu muka dengan netizen ini, kami bicara banyak tentang Indonesia, bicara tentang dasar negara indonesia: pancasila, simbol negara kesatuan: garuda pancasila, semboyan negara republik Indonesia: Bhineka Tunggal Ika dan negara indonesia yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meski kami sudah lama ikut penataran P4 saat masuk kuliah, hari itu seolah mengingatkan kembali bahwa kami benar-benar hidup di negara dengan dasar negara Pancasila.

Semua unsur ini lahir dari kehidupan sosial dan budaya Indonesia yang sangat beragam, baik dari segi suku bangsa, agama, bahasa yang diikat menjadi dasar negara. Nilai-nilai hidup kehidupan sosial masyarakat ini memberi pengaruh banyak pada prilaku yang melahirkan seni, pakaian, makanan, cara bersosialisasi, aturan-aturan adat dan etika. Keragaman inilah yang membuat Indonesia ini kaya.

Gerakan Memelihara Rasa Kebangsaan

Belajar pada banyak kejadian yang sudah dilewati, bahkan sekarang pun masih terasa ‘hangat-hangat’ nya. Sedikit percikan, maka terbakar. Sebaiknya kita belajar pada komunitas-komunitas yang tumbuh di Bandung yang secara tidak langsung memelihara nilai kebangsaan. Seperti kegiatan seni, diskusi buku, mengasah hobi dan menghasilkan karya nyata. Mungkin buat sebagian orang kegiatan ini kecil, tapi jangan salah bisa memberi efek yang sangat besar: punya pendirian kuat, sedikit bicara dan banyak berkarya.

Keinginan untuk melahirkan karya dan menciptakan ruang budaya ini lahir dengan sendirinya. Seperti kecintaan pada bidang seni teater, buku, dunia literasi, musik, sastra, dll. Jika kecintaan ini terus diasah, dengan sendirinya dia ikut memelihara dan memberi pengaruh banyak pada kehidupan masyarakat.

Saya coba cerita beberapa komunitas yang menurut saya merupakan gerakan sosial masyarakat yang memelihara ruh negeri ini.

1. CCL (Celah-Celah Langit)

Di ujung kota Bandung, tersebutlah kantung budaya bernama CCL (Celah-Celah Langit). Di tempat ini dalam hitungan bulan selalu ada pertunjukan teater, musik, baca puisi, bahas buku dan sebagainya. Apresiatornya pun masyarakat dengan berbagai usia dan berbagai profesi hadir dan menikmati suasana pertunjukan seni. Sebelum acara dimulai, kami akan berdiri bersama dan menyanyikan lagu kebangsaan republik Indonesia “Indonesia Raya”. Tempatnya bukan di gedung besar, tapi di halaman rumah, dan untuk mencapainya kita harus masuk gang.

Aktifitas di sana banyak membukakan mata dan pengetahuan tentang kehidupan orang-orang melalui seni. Tak sedikit yang terinspirasi yang tersasah hatinya untuk berkarya di bilang yang ia kerjakan.

2. AARC (Asia Africa Reading Club)

Di gedung museum Asia Afrika, hadir kelompok AARC (Asia Africa Reading Club). Sekelompok orang-orang yang membaca buku secara bergantian dan menuntaskan dalam beberapa pekan lalu membahasnya. Pembahasannya si tokoh dari berbagai sisi sehingga menegaskan karakternya seperti apa. Aktifitas ini banyak di apresisasi oleh berbagai kelangan seperti, dosen, seniman, ibu rumah tangga yang memang menyukai ruang-ruang diskusi sebagai media kontemplasi. Secara tidak langsung, dari diskusi ini akan mempererat hubungan, mengasah daya nalar dan kesadaran hidup di negeri yang memiliki sejarah yang nyaris terlupakan.

3. Tobucil & Klab (Toko Buku Kecil)

Toko buku berbasis komunitas ini selain menjual buku-buku alternatif, menyedikan wadah untuk berkumpul dan berbagi sesuai dengan minat masing-masing. Seperti klab baca, klab nulis, klab yoga, klab rajut, klab gambar. Tobucil sudah berjalan 15 tahun dan menginspirasi banyak orang untuk berkegiatan dan berkomunitas sesuai dengan passion mereka.

Pergerakan kreatif mereka memancing banyak orang yang mempunyai passion yang sama untuk berkarya bersama, menjadi ruang berbagi satu sama lain dan saling menularkan kebaikan.

Semua langkah besar itu dimulai dari langkah-langkah kecil, begitupun kebaikan-kebaikan kecil akan melahirkan gerakan-gerakan besar.

4. Rumah Cemara

Rumah rehabilitasi yang ketergantungan obat-obatan terlarang dan terinveksi HIV AIDS (ODHA). Komunitas ini dibentuk dengan visi untuk memimpikan Indonesia tanpa diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS dan orang yang menggunakan narkoba, melalui misi dengan menggunakan pendekatan sebaya agar terciptanya kualitas hidup yang lebih baik bagi orang dengan HIV/AIDS dan pengguna narkoba di Indonesia

Mereka kerap ikut kejuaraan football, beberapa kali memenangkan dan mengharumkan nama bangsa. Tak hanya ikut kejuaraan, Rumah Cemara mensosialisasikan dengan membuat kegiatan diskusi-diskusi.

Saya hanya menuliskan 4 dulu, karena masih banyak sekali komunitas yang lain yang memberi banyak ruang hidup, nyata dan hadir mempengaruhi visi hidup di berbagai bidang.

Kehadiran komunitas-komunitas ini, bisa jadi awalnya lahir dari bentuk perlawanan karena sulitnya dukungan bahkan muncul stigma negatif kegiatan yang dilakuan. Kurangnya dukungan ini tidak hanya dari lingkungan terdekat bahkan lembaga besar bernama pemerintah. Sehingga gerakan-gerakan inisiatif dan kreatifitas masyarakat ini terus digali, bergerak pelan, nyata lalu membesar, memberi banyak ruang-ruang hidup dan berharga. Berbangsa, solidaritas, bergerak nyata, tidak hanya berupa yel yel, tapi berupa bukti konkrit dan prilaku nyata.

Gerakan kesenian yang sering dipandang sebelah mata, yang sering dianggap sebagai tindakan temporer atau sementara. Padahal kesenian memiliki pengaruh dan nilai yang sangat universal bisa melampaui suku, ras dan agama. Pesan-pesan yang disampaikan dalam kesenian akan merangkul semua unsur.

Kini pergerakan komunitas-komunitas ini kini banyak menjadi inspirasi dan mulai disadari bisa membuat masyarakat menjadi berdaya dan berkarya guna. (tsaaah!)

Membela negara, cinta kebangsaan dan nasionalisme itu tidak hanya pada tindakan atau prilaku yang besar-besar saja. Tapi pada tindakan-tindakan kecil, berkarya dan memberi banyak manfaat bagi masyarakat itu bisa melahirkan cinta tanah air dan menyadari bahwa Indonesia itu, luar biasa.

@imatakubesar

Refleksi Cinta Negeri

Foto: Ima


Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

Tetap di puja puja bangsa


Di sana tempat lahir beta

Di buai di besarkan bunda

Tempat berlindung di hari tua

Sampai akhir menutup mata



Ini adalah salah satu lirik lagu kebangsaan berjudul Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki. Lagu-lagu kebangsaan kerap membuat saya ingat masa kecil. Menembus kabut dengan mengenakan baju putih merah, menjadi pengibar bendera, berlarian di sawah, mandi di sumber mata air, mengaji di masjid setelah waktu shalat magrib, menonton pertunjukan-pertunjukan rakyat, lalu keadaan berubah.  Mata air menyusut, sawah-sawah berubah jadi bangunan-bangunan perumahan, masjid-masjid sepi.  

Begitupun suasana pedesaan di kampung Bapak yang elok kini di’bunuh’ oleh timbunan sampah, pabrik-pabrik kain dan kemiskinan yang mengganas, pohon-pohon bambu yang kini berubah jadi pagar bata yang catnya memudar, sungai-sungai besar dan bening berubah jadi selokan penuh kotoran dan pembuangan pabrik.

Angkat tangan yang tersentuh hatinya dengan menyanyikan lagu kebangsaan di atas, itu artinya rindu itu masih tersimpan, hati terdalam kita masih cinta tanah air. Cinta masa lalu dan kini, rindu masa lalu dan rindu pembenahan demi masa depan.

Pertama kali air mata saya mengalir dan degup jantung saya berdetak kencang, ketika lagu-lagu kebangsaan diputar ketika kejadian reformasi tahun 1998. Presiden saat itu dituntut turun langsung oleh gerakan mahasiswa, meski keadaan menjadi caos begitu ada sekelompok orang menyusupi penyerangan terhadap etnis dan merampok toko-toko. Situasi menjadi sangat tegang dan saling curiga satu sama lain. Pergesekan antar suku menjadi sangat rentan. Demo yang lahir dari jiwa-jiwa pemberani, seperti tergores oleh sekelompok orang yang punya kepentingan dan ketakutan posisi pentingnya jatuh tumbang.

Sumber foto:
http://www.rockthevoteindonesia.org/?p=43

Semakin dewasa saya semakin mengerti, bahwa saya bagai hidup di negeri para dewa. Terdiri dari pulau-pulau, cuaca tropis yang stabil, tanah-tanah subur, ragam ikan di setiap pesisir, rempah yang melimpah, kopi-teh yang berkualitas, berbagai jenis makanan dan minuman hadir, beragam jenis binatang yang indah, alam yang lengkap.  Pantas saja negeri ini begitu diperebutkan sampai sekarang, tidak hanya oleh penjajah jaman dulu.


Sayangnya, kebanyakan dari kita tidak menyadari dan semakin langka generasi muda mengelola kekayaan alam yang sedemikian melimpah. Seolah bahwa mengelola di bidang pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan memiliki kelas terendah. 

Yang terjadi, seringkali kita mengabaikan kelebihan yang kita miliki dan selalu memandang takjub kemajuan dan kebijakan di negeri orang.  Satu persatu, kekayaan alam digadaikan demi jabatan, kekuasaan, kehormatan namun akhirnya kehilangan tanah dan budaya sendiri. Perlahan, kita dijajah oleh budaya orang yang datang secara masif. Bahan pokok makanan kita pun di supply oleh negara lain dengan kualitas yang lebih baik.

Sebagian yang menyadari bahwa kita hidup di negeri para dewa seperti berusaha menguasai dan mengelola semua lahan. Sampai tak disadari, satu persatu pulau, tanah, sawah, lahan, hanya dimiliki oleh beberapa pihak. Segala unsur yang dimiliki negeri ini jadi rebutan, orang-orang pemilik negeri mulai kehilangan lahan, kehilangan jati diri, kehilangan ruang-ruang bermain. 

Negeri para dewa seperti direnggut habis, lalu muncul ketimpangan ekonomi yang berefek pada ketimpangan pendidikan, ketimpangan idealisme, ketimpangan kesatuan, keadaan menjadi serba rentan dan mudah terusik.

Raja Ampat Papua
Sumber Foto:
infounik.org/35-foto-gambar-pemandangan-alam-indah-di-indonesia.html


Sebagian besar, negeri ini kerap dipimpin oleh pemerintah yang korup dan menjadikan negeri ini jadi alat untuk menimbun kekayaan dan kekuasaan. Hingga masyarakat terlilit oleh tingkah polah para pemimpin, sampai akhirnya timbul berbagai tuntutan dari masyarakat yang kian terasing dengan budaya negerinya sendiri. 


Pertentangan dan tuntutan masyarakat tidak hadir tiba-tiba, ketika masalah ekonomi, pendidikan semakin goyah. Harga-harga pasar yang tak stabil juga harga pendidikan yang baik hanya boleh dinikmati oleh masyarakat kelas atas. 

Ketimpangan di negeri ini terjadi diberbagai unsur. Sehingga dengan mudah kita dibenturkan dengan berbagai persoalan yang berkaitan dengan keberagaman. Seolah perbedaan menjadi inti persoalan besar dan mudah dipecah belah. Padahal bisa jadi semua ini mulai dari masalah pemimpin, ekonomi dan pengetahuan kita yang rendah. Oh, negeriku, tanah airku.

Satu sisi, sebagai negara demokrasi, pergerakan politik dan tumbuhnya lembaga independen, negara ini banyak kemajuan.  Masyarakat semakin kreatif, mempunyai “kebebasan” dalam berekspresi dan berani bersikap. Tapi satu sisi, kenyataan di negeri ini adalah terjadi ketimpangan pengetahuan, pendidikan sehingga muncul ketimpangan dalam berprilaku. Semua kelompok-kelompok ini bisa menjadi media yang dipolitisasi untuk kepentingan yang berkuasa. Sudut pandang masyarakat bisa mudah diarahkan pada isu dan wacana yang memecah kesatuan.

Lalu bagaimana keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia ini dapat terpenuhi. Apakah sila pancasila itu hanya slogan, sementara pelakunya-kita-seperti kehilangan percaya diri atas potensi negerinya sendiri.

Berpuluh tahun sejarah terukir, berpuluh tahun kita merdeka, tapi yang terjadi negara ini semakin mudah terombang ambing. Tanah menjadi panas, hujan menjadi banjir, angin menjadi topan.

Begitu pemilihan presiden tahun 2004, wacana etnis dan agama kerap menjadi media yang gurih dilemparkan ke ruang-ruang publik. Perkembangan alat komunikasi yang semakin pesat, membuat beragam informasi begitu mudah menyebar, orang-orang di media sosial, messenger, whatsapp. Tak jarang nada yang muncul mendistorsi wilayah rasa benci, waspada, khawatir, menciptakan ketakutan. Terutama yang berkaitan dengan topik-topik agama, komunis, suku bangsa. Kita begitu mudah dipengaruhi, penuh kecemasan dan ketakutan. Sehingga munculah kelompok-kelompok yang lahir kemudian atas nama agama, atas nama nasionalisme, atas nama kesatuan dalam mewadahi emosi kelompok orang. Mau tidak mau satu sama lain saling berbenturan, melakukan pembelaan dan saling mencaci.

Efek dari masalah ekonomi dan pendidikan ini, kita menjadi golongan orang-orang mudah dipicu oleh isu yang beredar, sehingga dengan udah kita terpecah belah. Begitupun dengan prilaku aparat negara yang makin hari makin membuat kita tercengang dengan berita-berita korupsi dan perilaku lainnya. Belum kendali pembuat keputusan harga pokok, setiap hari raya menjadi mafhum jika melonjak naik dan entah kapan kembali turun. Semua unsur dipolitisir entah untuk kepentingan siapa. 

Negeri ini sudah terlampau gaduh, butuh pemimpin dan kerjasama kelompok-kelompok independen yang bisa jadi penyeimbang keberagaman masyarakat yang multikultur dan setia bertumbuh di atas bumi pertiwi.

Kericuhan yang terjadi belakangan ini, bisa saja tidak terjadi tiba-tiba.  Tapi keadaan yang menekan sehingga keadaan begitu mudah dipicu.


MPR temu Netizen


Bincang-bincang MPR dengan Netizen di Novotel Bandung, 2017.
Foto: Ima

Beberapa waktu lalu, MPR temu Netizen di Hotel Novotel Bandung. Sebelumnya MPR melakukan kegiatan ini di Solo, Yogja dan beberapa kota lainnya. Netizen yang hadir ke acara tidak hanya dari Blogger Bdg tapi netizen yang tergabung di beberapa komunitas kota Jawa Barat. Ada beberapa blogger yang dari Cirebon, Cianjur, Garut. Menarik memperhatikan 50 orang netizen berkumpul di satu tempat, dengan beragam latar belakang dan beragam fokus konten dia blognya. Dan bagaimana sudut pandang mereka bicara tentang makna dan dasar negara Indonesia yang dihadapkan dengan keadaan masyarakat sosial sekarang yang mudah ‘panas’.

Upaya ini dilakukan untuk mengembalikan kesadaran kita sebagai Netizen untuk selalu menularkan kegiatan-kegiatan positif dan meluaskan pandangan masyarakat. Bahwa indonesia itu hebat, asik, keren, kaya ragam budaya, agama, suku, bahasa. Dimanapun, kita tidak akan lepas dari perbedaan.

Netizen dalam hal ini blogger, pergerakannya semakin masif dan beragam. Tulisan-tulisan bertebaran dari seputar jalan-jalan, kuliner, budaya, lifestyle, musik, tekno politik, dll, menghiasi beranda jagad internet dengan gaya bahasa dan cara komunikasi yang khas. Bila dikelola dengan baik, dengan sendirinya blogger akan mempunyai pembacanya. Pembacanya tidak hanya blogger sendiri tapi teman-teman yang tersebar di berbagai media sosialnya. Tulisan-tulisan yang asik, serius, tips ini itu dan banyak lagi. Tulisan-tulisan yang tersebar itu, setidaknya 50% pembaca akan terpengaruh.  Diharapkan, blogger bisa menjadi media penyeimbang mengingat informasi yang hilir mudik seperti mengecam keadaan.

Menarik ketika MPR bertemu muka dengan netizen ini, kami bicara banyak tentang Indonesia, bicara tentang dasar negara indonesia: pancasila, simbol negara kesatuan: garuda pancasila, semboyan negara republik Indonesia: Bhineka Tunggal Ika dan negara indonesia yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meski kami sudah lama ikut penataran P4 saat masuk kuliah, hari itu seolah mengingatkan kembali bahwa kami benar-benar hidup di negara dengan dasar negara Pancasila.

Semua unsur ini lahir dari kehidupan sosial dan budaya Indonesia yang sangat beragam, baik dari segi suku bangsa, agama, bahasa yang diikat menjadi dasar negara. Nilai-nilai hidup kehidupan sosial masyarakat ini memberi pengaruh banyak pada prilaku yang melahirkan seni, pakaian, makanan, cara bersosialisasi, aturan-aturan adat dan etika. Keragaman inilah yang membuat Indonesia ini kaya.

Gerakan Memelihara Rasa Kebangsaan

Belajar pada banyak kejadian yang sudah dilewati, bahkan sekarang pun masih terasa ‘hangat-hangat’ nya. Sedikit percikan, maka terbakar. Sebaiknya kita belajar pada komunitas-komunitas yang tumbuh di Bandung yang secara tidak langsung memelihara nilai kebangsaan. Seperti kegiatan seni, diskusi buku, mengasah hobi dan menghasilkan karya nyata. Mungkin buat sebagian orang kegiatan ini kecil, tapi jangan salah bisa memberi efek yang sangat besar: punya pendirian kuat, sedikit bicara dan banyak berkarya.

Keinginan untuk melahirkan karya dan menciptakan ruang budaya ini lahir dengan sendirinya. Seperti kecintaan pada bidang seni teater, buku, dunia literasi, musik, sastra, dll. Jika kecintaan ini terus diasah, dengan sendirinya dia ikut memelihara dan memberi pengaruh banyak pada kehidupan masyarakat.

Saya coba cerita beberapa komunitas yang menurut saya merupakan gerakan sosial masyarakat yang memelihara ruh negeri ini.

1. CCL (Celah-Celah Langit)

Di ujung kota Bandung, tersebutlah kantung budaya bernama CCL (Celah-Celah Langit). Di tempat ini dalam hitungan bulan selalu ada pertunjukan teater, musik, baca puisi, bahas buku dan sebagainya. Apresiatornya pun masyarakat dengan berbagai usia dan berbagai profesi hadir dan menikmati suasana pertunjukan seni. Sebelum acara dimulai, kami akan berdiri bersama dan menyanyikan lagu kebangsaan republik Indonesia “Indonesia Raya”. Tempatnya bukan di gedung besar, tapi di halaman rumah, dan untuk mencapainya kita harus masuk gang.

Aktifitas di sana banyak membukakan mata dan pengetahuan tentang kehidupan orang-orang melalui seni. Tak sedikit yang terinspirasi yang tersasah hatinya untuk berkarya di bilang yang ia kerjakan.

2. AARC (Asia Africa Reading Club)

Di gedung museum Asia Afrika, hadir kelompok AARC (Asia Africa Reading Club). Sekelompok orang-orang yang membaca buku secara bergantian dan menuntaskan dalam beberapa pekan lalu membahasnya. Pembahasannya si tokoh dari berbagai sisi sehingga menegaskan karakternya seperti apa. Aktifitas ini banyak di apresisasi oleh berbagai kelangan seperti, dosen, seniman, ibu rumah tangga yang memang menyukai ruang-ruang diskusi sebagai media kontemplasi. Secara tidak langsung, dari diskusi ini akan mempererat hubungan, mengasah daya nalar dan kesadaran hidup di negeri yang memiliki sejarah yang nyaris terlupakan.

3. Tobucil & Klab (Toko Buku Kecil)

Toko buku berbasis komunitas ini selain menjual buku-buku alternatif, menyedikan wadah untuk berkumpul dan berbagi sesuai dengan minat masing-masing. Seperti klab baca, klab nulis, klab yoga, klab rajut, klab gambar. Tobucil sudah berjalan 15 tahun dan menginspirasi banyak orang untuk berkegiatan dan berkomunitas sesuai dengan passion mereka.

Pergerakan kreatif mereka memancing banyak orang yang mempunyai passion yang sama untuk berkarya bersama, menjadi ruang berbagi satu sama lain dan saling menularkan kebaikan.

Semua langkah besar itu dimulai dari langkah-langkah kecil, begitupun kebaikan-kebaikan kecil akan melahirkan gerakan-gerakan besar.

4. Rumah Cemara

Rumah rehabilitasi yang ketergantungan obat-obatan terlarang dan terinveksi HIV AIDS (ODHA). Komunitas ini dibentuk dengan visi untuk memimpikan Indonesia tanpa diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS dan orang yang menggunakan narkoba, melalui misi dengan menggunakan pendekatan sebaya agar terciptanya kualitas hidup yang lebih baik bagi orang dengan HIV/AIDS dan pengguna narkoba di Indonesia

Mereka kerap ikut kejuaraan football, beberapa kali memenangkan dan mengharumkan nama bangsa. Tak hanya ikut kejuaraan, Rumah Cemara mensosialisasikan dengan membuat kegiatan diskusi-diskusi.

Saya hanya menuliskan 4 dulu, karena masih banyak sekali komunitas yang lain yang memberi banyak ruang hidup, nyata dan hadir mempengaruhi visi hidup di berbagai bidang.

Kehadiran komunitas-komunitas ini, bisa jadi awalnya lahir dari bentuk perlawanan karena sulitnya dukungan bahkan muncul stigma negatif kegiatan yang dilakuan. Kurangnya dukungan ini tidak hanya dari lingkungan terdekat bahkan lembaga besar bernama pemerintah. Sehingga gerakan-gerakan inisiatif dan kreatifitas masyarakat ini terus digali, bergerak pelan, nyata lalu membesar, memberi banyak ruang-ruang hidup dan berharga. Berbangsa, solidaritas, bergerak nyata, tidak hanya berupa yel yel, tapi berupa bukti konkrit dan prilaku nyata.

Gerakan kesenian yang sering dipandang sebelah mata, yang sering dianggap sebagai tindakan temporer atau sementara. Padahal kesenian memiliki pengaruh dan nilai yang sangat universal bisa melampaui suku, ras dan agama. Pesan-pesan yang disampaikan dalam kesenian akan merangkul semua unsur.

Kini pergerakan komunitas-komunitas ini kini banyak menjadi inspirasi dan mulai disadari bisa membuat masyarakat menjadi berdaya dan berkarya guna. (tsaaah!)

Membela negara, cinta kebangsaan dan nasionalisme itu tidak hanya pada tindakan atau prilaku yang besar-besar saja. Tapi pada tindakan-tindakan kecil, berkarya dan memberi banyak manfaat bagi masyarakat itu bisa melahirkan cinta tanah air dan menyadari bahwa Indonesia itu, luar biasa.

@imatakubesar

Tentang Persahabatan: The Guardian of The Galaxi 2

Yonda: “Saya tidak menggerakan panah degan pikiran tapi dengan hati”

Sumber foto: disini

Ini adalah salah satu dialog salah satu tokoh di film The Guardian of The Galaxi.  Dialog keluar ketika pertempuran masuk pada situasi paling genting.  Satu persatu teman-team superhero terancam mati.  Sementara Quills masih belum bisa menggunakan kekuatan super yang baru saja dia dapatkan untuk melawan musuhnya.  Ketika Yonda nyaris mati, dia memberi petunjuk pada Quills bagaimana dia mengontrol panahnya sehingga tepat sasaran dan menyadarkan Quills cara mengolah kekuatannya itu. 


Film yang dipenuhi adegan pertempuran para superhero ini intinya tentang hati.  Cinta, harapan, obsesi, impian masing-masing tokoh di tengah-tengah situasi serius, keras, kejam dan penuh pertempuran di angkasa raya sekaligus dikemas dengan komedi situasi yang segar.



Nobar Citoku: Teman Nontonku


Saya dapat tiket nonton bareng Citoku di BEC.  Engga tau yah, saya ini kalau mau nonton bawaanya harus perfect (Haha!).  Agak-agak ‘menyebalkan’ memang.  Kalau kata film Janji Jhoni mah, bisa jadi saya termasuk penonton piknik.  Kategori penonton piknik itu, dia selalu bawa makanan dan minuman sambil menikmati tontonan.  Kalau boleh bawa makanan dari luar, saya mau bawa martabak, hahhaaaa… engga lah engga se ekstrim itu, kalo di rumah… iya, hehee, martabak atau gorengan atau seputar kriuk kriuk kaya Citoku.  Pembelaannya mungkin karena saya mau mengapresiasi karya seni kali, ya, jadi butuh sedikit banyak energi.  Entah ini titisan gen dari mana, makanan itu semacam unsur yang harus ada dalam ritual nonton.  Jadi begitu Citoku ngajak nonton bareng, saya seneng banget lah.  Cociks pisan buat temen nonton.


Nah, karena camilannya udah ada, jadi saya tinggal ajak temen yang asik buat nonton.  Saya harus memilih salah satu temen, agak susah susah gampang soalnya temen-temen saya orangnya pada asik.  Siapa, ya.  Maunya sih ajak suami, tapi kondisi dia sekarang ga kuat kena AC dan ga boleh liat sinar yang datang tiba-tiba.  Ya, masalah medis.  Panjang lah kalau diceritain, padahal dia temen yang asik buat diajak diskusi abis nonton dan baca buku.  Diskusinya bisa panjang lebar dan kebawa-bawa mimpi, hahahaa. 


Mulai deh nge-daftar nama-nama, dari temen sma, kuliah, stuba, tobucil, saudara, blogger.  Saya coba kontak Ina, temen jaman SMA yang udah berabad lamanya ga pernah ngobrol dan jalan bareng.  Mungkin saya pikir ini momen yang pas buat ketemuan.  Soalnya saya termasuk orang yang kedul*pisan jalan bareng, belanja bareng, atau main-main ke rumah teman.  Bukan berarti ga kangen atau ga suka sama temen, kadang suka bingung kalo gitu teh mau ngapain.  Tapi kalau udah ketemu ya bawaanya pengen cerita-cerita sih dan denger banyak hal, masak bareng, nonton bareng, bikin kopi bareng.  Tapi karena “tanggung jawab” makin banyak (huh, Ima nih so gaya), kadang keinginan buat ketemu dan seru-seruan kaya gitu agak di rem. 


Jadi kesempatan ini, saya ajak Ina nonton dan dia mau.  Horeeeh! 


Kami nonton bareng di BEC 2, bioskopnya ada di lantai 3A.  Orang-orang sudah mulai datang dan ketemu beberapa orang yang saya kenal.  Kami semua ganti kaos merah khas Citoku dan ngikutin games dulu di studio.  Seru seruan lah.  Acaranya bisa kamu lihat di IG-nya Citoku di @temannontonku. 


MC melemparkan bungkus Ciktoku dan peserta yang nangkap bungkusnya maju ke depan dan ikut games.  Gamesnya seru, ngelatih fokus kita.  Dari 10 orang yang dapat lemparan bungkus Citoku, jadi peserta dan harus maju ke depan.  Aturannya, para  peserta berhitung bergantian, yang dapet giliran nyebutin angka ganjil harus bilang “Citoku”.  Ayooo… coba deh di rumah, kaya yang gampang, tapi malah jadi belibet bisa jadi karena deg deg an.  Yang gagal, balik ke kursi penonton dan dapat bingkisan.  Horeee.. Sampai yang tersisa 2 orang.  Saya termasuk yang gagal karena gak konsen.  Seru. 


Selesai permainan, film The Guardian of The Galaxi 2 mulai diputar.  Saya segera buka Citoku biar suara plastiknya gak ganggu penonton lain pas film berlangsung.  Lalu tentu saja mematikan handphone.  Ya, saya kan engga nonton di rumah tapi nonton di tempat umum, jadi harus jaga kenyamanan orang juga kan ya, gak bisa seenaknya.



Ini Tentang Filmnya


Sumber foto: Link ini


Film The Guardian of The Galaxi 2 ini gendre film action dan penuh limpahan musik tahun 70-an yang menjadi soundtrack setiap adegan.  Saya enjoy bangeeet.  Sebagian besar adegan dikemas komedi situasi dan slapstick, tampilan ini berhasil bikin saya ketawa-ketawa (ngakak tepatnya).  Bayangkan, di sebuah planet entah dimana, di tengah pertempuran, Rocket menyuruh Quills untuk mengambilkannya selotip buat nahan tombol bom.  Sambil melawan serangan sinar dan Peter Quill mencari-cari selotip yang entah dimana ke teman-temannya.  Situasi yang menggelikan.


Film dimulai dengan adegan sepasang manusia yang naik mobil berdua sambil nyanyi-nyanyi , musik klasik keluar dari audio mobilnya.  Lalu mereka berdua jalan kaki menuju tengah hutan.  Si laki-lakinya menanam bunga di tengah hutan. 


Kemudian adegan di lanjut ke tengah pertempuran di angkasa.  Baby Groot si pohon kecil yang kecil bermata bulat dan lucu, menyalakan lagu di sebuah tape jaman tahun 70-an khas bumi.  Ini yang jadi pertanyaan, bagaimana mungkin di tengah angkasa raya yang serba canggih para superhero ini punya radio tape, walkman dan kaset pita. 


Sumber foto: Disini


Baby Groot menari-nari santai mengikuti irama lagu klasik ditengah pertempuran teman-temannya yang sedang melawan monster-semacam cumi raksasa yang banyak lendirnya.  Tariannya makin nikmat mengikuti ketukan musik yang santai dan damai.  Sementara disekelilingnya, teman-teman Groot sedang bertempur.  Tentakel monster itu menyerang ke kiri, ke kanan, terlempar liar, situasi-situasi berbahaya yang mengancam Baby Groot sama sekali tidak terjadi.  Baby Groot tidak terluka sama sekali sampai si monster itu berhasil di tumbangkan oleh sekelompok The Guardian: Quills, Nebula, Gamora, Drex dan Rocket.  Banyak adegan yang menarik dan lucu. 


Adegan keras diiringi dengan musik yang ringan.  Penonton seperti dibawa untuk lebih santai menghadapi adegan-adegan yang penuh pertempuran, tokoh-tokoh yang mengerikan dan sadis. 

Film ini seolah menjelaskan situasi pertempuran merupakan bagian dari denyut nadi, hentakannya biasa dihadapi oleh para Guardian of The Galaxi.  Setiap babak ada saja kejutan yang  memicu adrenalin.  Musik pengiring ini, menyusupkan sisi “manusia” yang tidak bisa dihapus. 

Cerita ini menarik, saya menangkap kentalnya persahabatan diantara mereka di tengah pertempuran.  Meskipun dari awal kamu bakal melihat mereka selalu saling meledek, menghujat, menggoda, merendahkan satu sama lain dan ingin terlihat lebih hebat di hadapan temannya.  Kelakuannya ini sampe bisa mengancam nyawa mereka.  Meskipun begitu, ketika terancam oleh musuh, satu sama lain saling menjaga, memperhatikan dengan cara yang tak biasa bahkan berkesan kasar dan gak sopan.  Sampai-sampai salah satu tawanan mereka-Gamora- yang memperhatikan mereka selalu berantem sepanjang perjalanan.  Menganggap bahwa mereka berlima bukan teman, karena sepanjang perjalanan saling melontarkan hujatan satu sama lain. 


Banyak adegan yang lucu dan absurd.  Adegan paling bodor ketika Rocket menjelaskan ke Baby Groot tentang tombol bom yang harus di tekan di inti otak Ego.  Tapi Baby Groot gak ngerti-ngerti sampai Rocket kehilangan kesabaran lalu minta dicarikan selotip ke si Quills.  Selotip buat menahan tombol, biar tombol bahayanya tidak ditekan Baby Groot sehingga bisa menghancurkan seluruh planet dengan cepat.  

Situasinya, para The Guardian ini sedang melawan Ego yang menyerang mereka dengan kekuatan yang super dahsyat.  Lalu Rocket berteriak ke Quills minta dicarikan selotip.  Quill menanyakan ke teman-temannya sambil berteriak, melawan, terbang ke kiri kanan, kena serangan, Rocket berteriak-teriak memberi petunjuk letak menyimpan selotip ke Quills.  Dialog ini kaya dua orang yang sedang ada di rumah bertingkat dua, orang 1 lagi di lantai satu dan orang 2 lagi di lantai dua.  Minta tolong sambil marah-marah dan yang satu lagi frustasi karena tidak menemukan benda yang dicarinya.  Dialog itu dibawa ke situasi di tengah pertempuran di sebuah angkasa.  Absud pisaan, ini salah satu adegan yang bikin saya ketawa-ketawa. 


Meskipun sepanjang adegan banyak menunjukan satu sama lain saling menjatuhkan, meledek, marah-marahan.  Tapi saat salah satu terancam nyawanya, semua berusaha menyelamatkan dan saling melindungi.  Mereka tidak mau kehilangan teman mereka. 

Inti film ini, para penjaga galaksi ini dikejar dan diserang oleh musuhnya.  Lalu ada seseorang yang menyelamatkan mereka dengan menghancuran semua pesawat penyerang, sampai akhirnya pesawat yang ditumpangi The Guardian ini terdampar di sebuah planet.  Di planet ini mereka bertemu dengan laki-laki namanya Ego, dialah yang menyelamatkan serangan para musuh sewaktu di angkasa.  Rupanya, Ego ini adalah ayahnya.  Ego menjelaskan dan memperlihatkan sebuah bukti bahwa Quills adalah anaknya.  Disini konflik muncul, siapa sebenarnya Ego, apa tujuannya hidup menyamar menjadi manusia sehingga bisa membuahi manusia dan melahirkan seorang anak laki-laki: Quills.  

Quills yang terobsesi ingin bertemu dengan ayahnya merasa hidupnya lebih lengkap dan bahagia.  Tapi, dibalik semua itu justru mengancam hidup Quills.  Teman-temannya tidak tinggal diam, mereka menyerang Ego dan menyelamatkan Quills.  Berhasil atau tidak, kamu harus nonton. 

Karena, kamu bakal liat bentuk persahabatan yang beda diantara mereka, cara ungkap dan menunjukan sikap yang berkesan saling benci.  Buat kita yang punya tafsir kalau bersikap ke sahabat itu manis, lucu, penuh canda tawa dan asik.  Justru kita gak melihat gambaran persahabatan kaya gitu diantara mereka, kecuali ketika bicara ke Baby Groot.  Semua bersikap manis dan baik.  Di film ini, kamu akan disuguhkan sisi lembut the Guardian ketika salah satu temannya tak selamat. 


Musik The Father and Son versi Cat Steven (Yusuf Islam) pun menutup adegan The Guardian of The Galaxi.  Ini, memeras hati dan mengoyak jiwa terdalam.  Hiks.


@imatakubesar  


Tentang Persahabatan: The Guardian of The Galaxi 2

Yonda: “Saya tidak menggerakan panah degan pikiran tapi dengan hati”

Sumber foto: disini

Ini adalah salah satu dialog salah satu tokoh di film The Guardian of The Galaxi.  Dialog keluar ketika pertempuran masuk pada situasi paling genting.  Satu persatu teman-team superhero terancam mati.  Sementara Quills masih belum bisa menggunakan kekuatan super yang baru saja dia dapatkan untuk melawan musuhnya.  Ketika Yonda nyaris mati, dia memberi petunjuk pada Quills bagaimana dia mengontrol panahnya sehingga tepat sasaran dan menyadarkan Quills cara mengolah kekuatannya itu. 


Film yang dipenuhi adegan pertempuran para superhero ini intinya tentang hati.  Cinta, harapan, obsesi, impian masing-masing tokoh di tengah-tengah situasi serius, keras, kejam dan penuh pertempuran di angkasa raya sekaligus dikemas dengan komedi situasi yang segar.



Nobar Citoku: Teman Nontonku


Saya dapat tiket nonton bareng Citoku di BEC.  Engga tau yah, saya ini kalau mau nonton bawaanya harus perfect (Haha!).  Agak-agak ‘menyebalkan’ memang.  Kalau kata film Janji Jhoni mah, bisa jadi saya termasuk penonton piknik.  Kategori penonton piknik itu, dia selalu bawa makanan dan minuman sambil menikmati tontonan.  Kalau boleh bawa makanan dari luar, saya mau bawa martabak, hahhaaaa… engga lah engga se ekstrim itu, kalo di rumah… iya, hehee, martabak atau gorengan atau seputar kriuk kriuk kaya Citoku.  Pembelaannya mungkin karena saya mau mengapresiasi karya seni kali, ya, jadi butuh sedikit banyak energi.  Entah ini titisan gen dari mana, makanan itu semacam unsur yang harus ada dalam ritual nonton.  Jadi begitu Citoku ngajak nonton bareng, saya seneng banget lah.  Cociks pisan buat temen nonton.


Nah, karena camilannya udah ada, jadi saya tinggal ajak temen yang asik buat nonton.  Saya harus memilih salah satu temen, agak susah susah gampang soalnya temen-temen saya orangnya pada asik.  Siapa, ya.  Maunya sih ajak suami, tapi kondisi dia sekarang ga kuat kena AC dan ga boleh liat sinar yang datang tiba-tiba.  Ya, masalah medis.  Panjang lah kalau diceritain, padahal dia temen yang asik buat diajak diskusi abis nonton dan baca buku.  Diskusinya bisa panjang lebar dan kebawa-bawa mimpi, hahahaa. 


Mulai deh nge-daftar nama-nama, dari temen sma, kuliah, stuba, tobucil, saudara, blogger.  Saya coba kontak Ina, temen jaman SMA yang udah berabad lamanya ga pernah ngobrol dan jalan bareng.  Mungkin saya pikir ini momen yang pas buat ketemuan.  Soalnya saya termasuk orang yang kedul*pisan jalan bareng, belanja bareng, atau main-main ke rumah teman.  Bukan berarti ga kangen atau ga suka sama temen, kadang suka bingung kalo gitu teh mau ngapain.  Tapi kalau udah ketemu ya bawaanya pengen cerita-cerita sih dan denger banyak hal, masak bareng, nonton bareng, bikin kopi bareng.  Tapi karena “tanggung jawab” makin banyak (huh, Ima nih so gaya), kadang keinginan buat ketemu dan seru-seruan kaya gitu agak di rem. 


Jadi kesempatan ini, saya ajak Ina nonton dan dia mau.  Horeeeh! 


Kami nonton bareng di BEC 2, bioskopnya ada di lantai 3A.  Orang-orang sudah mulai datang dan ketemu beberapa orang yang saya kenal.  Kami semua ganti kaos merah khas Citoku dan ngikutin games dulu di studio.  Seru seruan lah.  Acaranya bisa kamu lihat di IG-nya Citoku di @temannontonku. 


MC melemparkan bungkus Ciktoku dan peserta yang nangkap bungkusnya maju ke depan dan ikut games.  Gamesnya seru, ngelatih fokus kita.  Dari 10 orang yang dapat lemparan bungkus Citoku, jadi peserta dan harus maju ke depan.  Aturannya, para  peserta berhitung bergantian, yang dapet giliran nyebutin angka ganjil harus bilang “Citoku”.  Ayooo… coba deh di rumah, kaya yang gampang, tapi malah jadi belibet bisa jadi karena deg deg an.  Yang gagal, balik ke kursi penonton dan dapat bingkisan.  Horeee.. Sampai yang tersisa 2 orang.  Saya termasuk yang gagal karena gak konsen.  Seru. 


Selesai permainan, film The Guardian of The Galaxi 2 mulai diputar.  Saya segera buka Citoku biar suara plastiknya gak ganggu penonton lain pas film berlangsung.  Lalu tentu saja mematikan handphone.  Ya, saya kan engga nonton di rumah tapi nonton di tempat umum, jadi harus jaga kenyamanan orang juga kan ya, gak bisa seenaknya.



Ini Tentang Filmnya


Sumber foto: Link ini


Film The Guardian of The Galaxi 2 ini gendre film action dan penuh limpahan musik tahun 70-an yang menjadi soundtrack setiap adegan.  Saya enjoy bangeeet.  Sebagian besar adegan dikemas komedi situasi dan slapstick, tampilan ini berhasil bikin saya ketawa-ketawa (ngakak tepatnya).  Bayangkan, di sebuah planet entah dimana, di tengah pertempuran, Rocket menyuruh Quills untuk mengambilkannya selotip buat nahan tombol bom.  Sambil melawan serangan sinar dan Peter Quill mencari-cari selotip yang entah dimana ke teman-temannya.  Situasi yang menggelikan.


Film dimulai dengan adegan sepasang manusia yang naik mobil berdua sambil nyanyi-nyanyi , musik klasik keluar dari audio mobilnya.  Lalu mereka berdua jalan kaki menuju tengah hutan.  Si laki-lakinya menanam bunga di tengah hutan. 


Kemudian adegan di lanjut ke tengah pertempuran di angkasa.  Baby Groot si pohon kecil yang kecil bermata bulat dan lucu, menyalakan lagu di sebuah tape jaman tahun 70-an khas bumi.  Ini yang jadi pertanyaan, bagaimana mungkin di tengah angkasa raya yang serba canggih para superhero ini punya radio tape, walkman dan kaset pita. 


Sumber foto: Disini


Baby Groot menari-nari santai mengikuti irama lagu klasik ditengah pertempuran teman-temannya yang sedang melawan monster-semacam cumi raksasa yang banyak lendirnya.  Tariannya makin nikmat mengikuti ketukan musik yang santai dan damai.  Sementara disekelilingnya, teman-teman Groot sedang bertempur.  Tentakel monster itu menyerang ke kiri, ke kanan, terlempar liar, situasi-situasi berbahaya yang mengancam Baby Groot sama sekali tidak terjadi.  Baby Groot tidak terluka sama sekali sampai si monster itu berhasil di tumbangkan oleh sekelompok The Guardian: Quills, Nebula, Gamora, Drex dan Rocket.  Banyak adegan yang menarik dan lucu. 


Adegan keras diiringi dengan musik yang ringan.  Penonton seperti dibawa untuk lebih santai menghadapi adegan-adegan yang penuh pertempuran, tokoh-tokoh yang mengerikan dan sadis. 

Film ini seolah menjelaskan situasi pertempuran merupakan bagian dari denyut nadi, hentakannya biasa dihadapi oleh para Guardian of The Galaxi.  Setiap babak ada saja kejutan yang  memicu adrenalin.  Musik pengiring ini, menyusupkan sisi “manusia” yang tidak bisa dihapus. 

Cerita ini menarik, saya menangkap kentalnya persahabatan diantara mereka di tengah pertempuran.  Meskipun dari awal kamu bakal melihat mereka selalu saling meledek, menghujat, menggoda, merendahkan satu sama lain dan ingin terlihat lebih hebat di hadapan temannya.  Kelakuannya ini sampe bisa mengancam nyawa mereka.  Meskipun begitu, ketika terancam oleh musuh, satu sama lain saling menjaga, memperhatikan dengan cara yang tak biasa bahkan berkesan kasar dan gak sopan.  Sampai-sampai salah satu tawanan mereka-Gamora- yang memperhatikan mereka selalu berantem sepanjang perjalanan.  Menganggap bahwa mereka berlima bukan teman, karena sepanjang perjalanan saling melontarkan hujatan satu sama lain. 


Banyak adegan yang lucu dan absurd.  Adegan paling bodor ketika Rocket menjelaskan ke Baby Groot tentang tombol bom yang harus di tekan di inti otak Ego.  Tapi Baby Groot gak ngerti-ngerti sampai Rocket kehilangan kesabaran lalu minta dicarikan selotip ke si Quills.  Selotip buat menahan tombol, biar tombol bahayanya tidak ditekan Baby Groot sehingga bisa menghancurkan seluruh planet dengan cepat.  

Situasinya, para The Guardian ini sedang melawan Ego yang menyerang mereka dengan kekuatan yang super dahsyat.  Lalu Rocket berteriak ke Quills minta dicarikan selotip.  Quill menanyakan ke teman-temannya sambil berteriak, melawan, terbang ke kiri kanan, kena serangan, Rocket berteriak-teriak memberi petunjuk letak menyimpan selotip ke Quills.  Dialog ini kaya dua orang yang sedang ada di rumah bertingkat dua, orang 1 lagi di lantai satu dan orang 2 lagi di lantai dua.  Minta tolong sambil marah-marah dan yang satu lagi frustasi karena tidak menemukan benda yang dicarinya.  Dialog itu dibawa ke situasi di tengah pertempuran di sebuah angkasa.  Absud pisaan, ini salah satu adegan yang bikin saya ketawa-ketawa. 


Meskipun sepanjang adegan banyak menunjukan satu sama lain saling menjatuhkan, meledek, marah-marahan.  Tapi saat salah satu terancam nyawanya, semua berusaha menyelamatkan dan saling melindungi.  Mereka tidak mau kehilangan teman mereka. 

Inti film ini, para penjaga galaksi ini dikejar dan diserang oleh musuhnya.  Lalu ada seseorang yang menyelamatkan mereka dengan menghancuran semua pesawat penyerang, sampai akhirnya pesawat yang ditumpangi The Guardian ini terdampar di sebuah planet.  Di planet ini mereka bertemu dengan laki-laki namanya Ego, dialah yang menyelamatkan serangan para musuh sewaktu di angkasa.  Rupanya, Ego ini adalah ayahnya.  Ego menjelaskan dan memperlihatkan sebuah bukti bahwa Quills adalah anaknya.  Disini konflik muncul, siapa sebenarnya Ego, apa tujuannya hidup menyamar menjadi manusia sehingga bisa membuahi manusia dan melahirkan seorang anak laki-laki: Quills.  

Quills yang terobsesi ingin bertemu dengan ayahnya merasa hidupnya lebih lengkap dan bahagia.  Tapi, dibalik semua itu justru mengancam hidup Quills.  Teman-temannya tidak tinggal diam, mereka menyerang Ego dan menyelamatkan Quills.  Berhasil atau tidak, kamu harus nonton. 

Karena, kamu bakal liat bentuk persahabatan yang beda diantara mereka, cara ungkap dan menunjukan sikap yang berkesan saling benci.  Buat kita yang punya tafsir kalau bersikap ke sahabat itu manis, lucu, penuh canda tawa dan asik.  Justru kita gak melihat gambaran persahabatan kaya gitu diantara mereka, kecuali ketika bicara ke Baby Groot.  Semua bersikap manis dan baik.  Di film ini, kamu akan disuguhkan sisi lembut the Guardian ketika salah satu temannya tak selamat. 


Musik The Father and Son versi Cat Steven (Yusuf Islam) pun menutup adegan The Guardian of The Galaxi.  Ini, memeras hati dan mengoyak jiwa terdalam.  Hiks.


@imatakubesar  


Cerita Hari Selasa

Langit di ujung timur, sinar matahari luntur serupa saus cokelat. Lembaran daun, serakan kerikil, susunan atap rumah berlumur cahayanya. Kuning berkilauan. Jendela rumah perlahan dibuka. Seorang ibu dengan wajah lusuh, menarik nafas udara segar yang dikeluarkan oleh pepohonan lebat di samping rumah.

Pagi ini cukup ramai, burung-burung, suara knalpot motor, tangisan anak, suara mangkuk tukang bubur, anak-anak kos yang mulai mengetuk-ngetuk toilet. Para Ibu tergesa ke dapur menyiapkan sarapan pagi, juga air hangat, juga teh manis hangat. Sementara handuk masih menggantung di pundaknya. Anak-anak bangun, memainkan bantal dan meloncat-loncat di atas kasur. Ayah-bapaknya anak-anak menutup qur’annya, mendekat, duduk diantara kami. Lalu makan obat.

Pagi yang baik. Tapi tidak pagi itu untuk ibu. Ibu hanya butuh sedikit waktu untuk menyiram diri dengan beberapa gayung air agar lebih segar juga segelas kopi hangat, tapi ia lebih memilih tergesa mengantar anaknya ke sekolah.

Foto: Ima

Ibu bermain-main dengan pikiran, bermain-main dengan hati, bermain-main dengan bayangan. Anak-anak pun ikut. Bayangan yang memanjang karena matahari mulai bergerak ke sudut 30°. Tangan, kaki, badan mereka memanjang. Anak sekolah bilang,”Bu, tubuh kita memanjang. “ Mereka mempercepat langkah, menuju belokan jalan, pepohonannya menyusun di pinggir jalan. Lebat, serupa terowongan.

“Bu, Ibu suka mobil itu.”

Si anak menunjuk mobil merah yang diparkir di pinggir jalan, di pinggir gedung kuliahan.

“Iya, Ibu mau.”

Mata si anak berkilauan, nampak mulutnya tersenyum lebar, giginya yang tak rapi terlihat beberapa.

Dalam hati, Ibu berdoa. Penuh harap, penuh harap, penuh harap.

Si Anak mulai berceloteh tentang nama-nama dinosaurus. Dia menjelaskan jenis dinosaurus pemakan daging dan tumbuhan. Ibu kesulitan mengingatnya, dia hanya ingat beberapa lembar tagihan listrik, bpjs, pegadaian juga beberapa hutang yang harus dibayarkan. Tapi si Ibu tetap menanggapi obrolan si Anak sambil menghitung jumlah yang harus dikeluarkan.

Sesekali rombongan merpati mengalihkan pandangan dan ingatannya. Beberapa buah sukun yang satu persatu mulai membesar. Si Ibu membayangkan membuat kue dari tepung buah sukun dan tentang hari yang harus dijalani atas kehidupan yang masih tersedat-sendat.

Sekelompok ibu dan ayah mengantar anaknya, beberapa kembali pulang, beberapa tidak. Mereka duduk di pinggir trotoar, dibawah pohon. Ada yang tersenyum, ada yang mengalihkan pandangan ke smartphone, ada yang sibuk berbincang, ada yang berwajah kecut.

Para pedagang jajanan anak merapikan roda-roda kecilnya. Cilok, cilor, gorengan panas, roti kukus,berlomba-lomba memainkan wangi, bumbu dan asapnya yang menggoda. Ibu menahan diri, juga menahan anaknya, beberapa lembar di sakunya mulai menipis. Ibu menghitung perlahan beberapa lembar di sakunya, cukup untuk jajan anak dan ongkos pulang juga beberapa biji gorengan untuk cemilan di rumah.

Tak lama, Ayah mengirim pesan,”Lambung sakit, aku mual.”

Pagi menuju sekolah si Anak tidak begitu tentram. Meski matahari bermain-main seperti lelehan cokelat. Manis dan hangat.

@imatakubesar