Browse By

Category Archives: Bandung

No Thumbnail

Tubuh Seimbang Dengan Konsumsi Buah

Buah-buahan segar dari hasil kebun Sunpride.
Foto: Ima


Hidup Sehat itu Mudah

Hidup ini terlalu menyenangkan jika dilewati begitu saja, tapi semua ini berawal dari sudut pandang kita terhadap hidup yang kita jalani. Pikiran yang sehat berawal dari kesehatan otak dan jiwa kita, konsumsi makanan dan minuman yang berkualitas, akan menyeimbangkan fungsi tubuh kita. Lalu bagaimana sih cara agar tubuh kita sehat? Salah satunya dengan konsumsi buah segar, karena buah bisa memperbaiki kondisi organ tubuh, mengandung banyak anti oksidan, menyeimbangkan enzim di dalam perut, sehingga tubuh menjadi lebih segar, produktif dan produktif.  Tentu saja tidak hanya asupan makanan, ada aktifitas fisik lain yang harus dilakukan seperti olah raga yang cukup, istirahat yang cukup, selalu menggali ilmu dan pelihara faktor spiritual.

Tubuh sehat itu sangat berarti, kita bisa melakukan apa saja jika tubuh sehat. Tapi seringkali kesadaran hidup sehat itu selalu dilakukan ketika kita sudah sakit. Sebenarnya untuk sehat itu mudah, tapi menahan “godaan” pola hidup ini yang sulit. Padahal dengan melakukan olah raga yang cukup, istirahat yang cukup, makan makanan yang segar seperti sayuran dan buah-buahan dan selalu berfikir positif, tubuh kita akan lebih terpelihara. Jaga kesehatan, kebersihan dan keseimbangan hidup itu “hukumnya” wajib, agar kualitas hidup kita pun lebih menarik dan menyenangkan.

Pisang, kiwi, apel, jambu batu, jeruk.
Foto: Ima

Sebenarnya, cukup dengan konsumsi satu mangkuk pepaya, satu buah apel segar, satu buah pear segar atau 1 buah pisang sehari, tubuh kita akan lebih seimbang. Buah-buahan ini bisa melancarkan pencernaan dan membuat tubuh berfungsi dengan baik. Makanan sampah akan dibuang dan yang baik akan terserap ke dalam tubuh. Kalau kamu sedang dalam keadaan lelah, kamu bisa konsumsi 1 buah apel segar atau 1 buah pisang sunpride, setiap sel yang ada di tubuh seperti kembali muda, terasa lebih segar. Proses ini saya alami sendiri bahkan saya pernah mencoba melakukan pola makan food combining. Begitu saya melakukan makan bersih sehat terutama mengurangi bahkan meniadakan makanan yang banyak proses pengolahannya, badan seperti kembali muda. Memulai kebiasaan baik ini tidak akan langsung ujug-ujug efeknya, tapi kondisi tubuh akan berproses menjadi lebih baik jika kita melakukan pola hidup baik dengan konsisten. Saya punya keluhan sering pegal-pegal kaki sejak kecil, sejak saya konsisten makan buah tiap pagi, mengurangi karbo, banyak minum air putih, olah raga yang cukup, pegal-pegal itu hilang, kulit lebih segar dan bercahaya dan tidak mudah lelah.


Bicara tentang sehat, saya dapat catatan ini hasil renungan (tsaah…) acara Sunpride tanggal 3 Sepetember lalu di Cups Coffee and Kitchen, saya dan teman-teman dapat undangan dari Sunpride penghasil buah-buahan segar. Pertemuan ini mendorong saya untuk konsisten melakukan gaya hidup sehat, karena di acara ini banyak penjelasan panjang lebar tentang fungsi buah-buahan bagi tubuh dan tentu saja menstimulus otak saya untuk “mengagungkan” buah-buahan surga ini. Terus terang saja, saya baru pertama kali makan nenas dengan rasa manis yang luar biasa dan segar, buah jambu batu tanpa biji yang renyah dan ini menarik minat saya untuk selalu memelihara diri dengan mengkonsumsi buah-buahan. 


Suasana depan Cups Coffee and Kitchen, adem dan nyaman.
Foto: Ima

Sunpride #Fresh Everyday

Sabtu lalu, untuk pertama kali Sunpride membuat acara di Bandung dalam rangka merayakan Costumer’s Appreciation Day, Sunpride mengadakan acara pengenalan jenis buah-buahan hasil kebunnya, workshop videographi bareng Om Bolang @lostpacker dan workshop berkreasi dengan buah-buahan bareng Kang Leon @RMLegoh.

Begitu masuk ke pintu ruang Cups Coffe and Kitchen, setiap sudut di-distorsi oleh beragam buah-buahan yang membuat kamu terasa segar. Bisa jadi karena warna dan tampilan buah hasil kebun Sunpride ini benar-benar cantik, ada apel hijau cerah, apel merah kuat, jeruk baby dengan warna kuning segar, papaya, nenas dengan ukuran jumbo, jambu batu warna hijau daun dengan ukuran besar, pisang dengan warna kuning yang sangat cantik. Baru disana saya lihat ukuran nenas ukurannya sangat besar, nama jenis ini nenas honi atau nenas madu. 

Bandingkan sepotong nenas ini dengan tangan saya.
Ukurannya besar, tak seperti nenas biasanya, rasanya sangat manis.
Foto: Ade Truna.

Saya sempat ingin melahap satu persatu sajian buah-buahan segar di tiap meja dan sudut-sudut lainnya, seperti masuk surga (hahaaa…). Situasi ruang di Cups Coffe and Kitchen juga sangat mendukung dengan gaya interior bangunan yang mengeksplore suasana gaya pedesaan dengan ekspose dinding dan kayu, membuat kamu lupa kalau posisi ini ada di tengah kota Bandung. Saya seperti berada di rumah peristirahatan para petani di kebun buah. Saya merasa segar, energi buah-buahan ini memberi energi yang sangat positif. Kalau saja tiap hari tersedia buah-buahan di rumah,bakal segar tiap hari.

Suasana ruang pedesaan dan perkebunan yang nyaman.
Foto: Ima

Nah, kalau kamu sering ke supermarket, disana kamu akan kenal dengan buah-buahan dengan label Sunpride. Buahnya selalu terlihat lebih bersih dan menggiurkan. Biasanya jenis buah-buahan seperti ini hasil import, tapi sebenarnya Sunpride ini kebunnya di Lampung Indonesia. Semua dipelihara dengan sangat apik dan serius. Kalau kamu pernah lihat pisang dengan ukuran besar, warna kuning kuat dan segar, nah itu pisang hasil tani Sunpride. Berdasarkan penjelasan mereka, ketika pisang di panen, buahnya tidak boleh kena tanah. 

Satu piring di tangan kanan saya nenas honi dan sebelah kiri potongan jambu batu.
Sebenarnya, kedua piring ini berat sekali.
Foto: Ade Truna.

Tak semua buah-buahan yang disediakan Sunpride dari hasil kebun sendiri, beberapa buah-buahan lain ada yang bekerjasama dengan petani lokal, seperti papaya dan kiwi. Untuk buah kiwi, Sunpride tidak punya kebun kiwi. Karena beberapa kali uji coba, kiwi ini tidak berhasil dibudi dayakan di tanah tropis seperti Indonesia. Jadi hanya buah kiwi yang dilakukan kerjasama dengan petani bukan Indonesia. Lalu, untuk buah pepaya, selain memelihara hasil kebun sendiri juga melakukan kerjasama dengan petani lain tapi dilakukan edukasi pemeliharaan dan pengontrolan. Dan yang lebih penting lagi, dalam penanaman dan pemeliharaan kebun, Sunpride menggunakan pupuk organik sehingga tanahnya terbebas dari bahan-bahan kimia sehingga menumbuhkan buah-buahan yang lebih segar dan terjaga dari zat-zat kimia yang berbahaya.

Ketika akan panen, buah-buahan itu dibungkus plastik agar tidak dimakan oleh binatang. Itu sebabnya kulit buah hasil tani Sunpride tampilannya mulus. Keuntungan lain dari perawatan yang baik ini, ketika kita akan memakan buah yang langsung dimakan, kamu cukup mencuci sekadarnya. Karena kondisi buahnya memang sudah bersih. Acara yang digelar Sunpride kemarin, menstimulus saya untuk kembali merapikan gaya hidup sehat. Apa lagi yang kita cari dalam hidup selain tetap memelihara kesahatan agar bisa lebih berdaya dan bermanfaat untuk kehidupan. 

Foto: Ima


Tubuh, hati yang sehat dan passion yang kuat, membawa Om Bolang travelling kemana-mana dan Kang Leon bisa menyediakan makanan-makanan enak untuk penikmatnya di RM Legoh. Om Bolang, dengan modal pengetahuan dan latar belakang di dunia penerbangan, membuatnya menjadi traveller. Lalu, dia mulai mempelajari cara mengambil foto dan video yang bagus agar perjalanannya bisa diabadikan. Sementara, Kang Leon mengekspresikan passion memasaknya dengan mengekspresikan dalam bentuk usaha kuliner khas Manado di Bandung. Di acara kali ini, Om Bolang membagi pengalaman memberi tips membuat video yang bagus dan berkolaborasi dengan Kang Leon melakukan demo membuat makanan segar dengan menggunakan buah-buahan dari Sunpride. Sementara peserta ada yang 2 fokus, ada yang belajar memotret, coba mengambil video Kang Leon yang tengah berkerasi dengan buah-buahan dan ada yang fokus mencatat menu racikan buah ala Kang Leon. Suasana menjadi lebih hidup dan menarik. 


Om Bolang +Lostpacker (kiri) berkolaborasi dengan Kang Leon +Rumah Makan Legoh (kanan).
Foto: Ima

Akhir acara, semua peserta bisa membawa pulang semua buah-buahan yang tersedia di acara itu. Saya dan teman-teman memasukan satu persatu ke keranjang buah, seperti panen dan petik di kebun sendiri. Kalau tiap hari kita bisa petik buah di kebun sendiri pasti rasanya menyenangkan, karena manusia dan tumbuh-tumbuhan hidup berdampingan saling memlihara kehidupan yang lebih baik.

Bandung, 9 September 2016
@imatakubesar

Kreasi buah ala Kang Leon +Rumah Makan Legoh
Foto: Ima

No Thumbnail

Kuliner dan Ngobrol di Rumah Makan Legoh bareng Kang Leon

Leon.


“Kalau ingin buka rumah makan dengan modal karena masakan kamu enak, itu engga cukup. Kalau ingin buka usaha kuliner dengan alasan itu, sebaiknya lupakan saja.” Begitu kata Leon salah seorang pemilik rumah makan Legoh yang sudah memelihara usahanya selama 12 tahun. 


Di rumah makan Legoh, saya bersama teman-teman berbincang sedikit tentang cara mengelola usaha kuliner. Kang Leon tidak sendiri, dia bersama teman-teman band Koil membangun usaha kuliner sebagai pilihan usaha yang bisa menghidupkan mereka. Begitu ide membuka usaha kulinet tercetus, Kang Leon mulai mencari resep masakan khas keluarga ke ibunya, lahirlah sebuah rumah makan dengan menu khas Menado di tahun 2004. Ternyata, membuka usaha kuliner ini tidak sesederhana yang dia fikirkan. Terutama masalah naik turun harga dan dalam pengelolaan stok. Rasa masakan Menado ini unik dan segar, banyak asam dan pedas, tapi karena beberapa alasan maka cita rasanya sedikit disesuaikan dengan lidah masyarakat di Bandung. Terutama lidah Sunda dan Jawa.

Sambil menguyah menu camilan khas Legoh yaitu keju aroma dan kelapa muda yang segar, obrolan tambah mengalir, asik dan cair. Suasana di Jl. Sultan Agung no. 9 Bandung terasa adem, pohon-pohon besar lengkap dengan angin segar, bawaanya betah dan ingin coba pesan menu yang lain. Selain drummer band koil, Kang Leon menjadi juru kunci kelezatan makanannya, karena dia sendiri yang masak dan belanja bahan baku ke pasar. 


Keju aroma, alpukat kerok dan es kelapa muda.
Foto: Ima
Legoh ini tempatnya tidak jauh dari pusat kota, pusat kota disini maksudnya BIP (Bandung Indah Plasa) maupun Balai Kota Bandung yang ada di jalan Merdeka. Tepatnya, kalau dari BIP, kamu bisa jalan kaki ke Jl. Juanda tak jauh dari perempatan ada patung orang yang sedang menambang minyak. Tinggal belok kanan, nah kamu sudah masuk ke Jl. Sultan Agung, hanya beberapa rumah dari awal jalan sudah tampak rumah makan Legoh, posisinya di seberang sekolah Aloysius. Tapi, kamu tidak akan lihat plang rumah makan legoh, yang ada tulisan Sultan Agung 9.


Untuk kesekian kalinya saya datang maupun pesan makanan yang dipesan pasti nasi goreng, menu disaat bingung memilih apa sehingga yang dipilih adalah nasi goreng. Tapi… nasi goreng di Legoh ini istimewa karena warna nasinya hitam. Bukan berasnya yang hitam, tapi nasi goreng ini ada campuran tinta cumi dan potongan cumi segar. Jadi rasa yang muncul gurih, ada daun jeruknya yang memelihara rasa yang nyaman di mulut. Legoh menyediakan beragam menu masakan, untuk nasi goreng saja ada 9 jenis, sambal ada 9 jenis, masakan ayam juga ada 9 jenis, masakan berbahan dasar sapi ada 6 jenis, jenis cumi dan ikan ada 12 jenis, menu olahan bebek ada 5 jenis, tak ketinggalan menu sayuran segarnya. Itu jumlah jenis makanan berat, belum camilan, minuman, soft drink dan kopi-teh. Jadi kalau ingin makan berat, banyak sekali pilihannya, tapi kalau hanya ingin mengemil dan minum kopi pun tersedia.

Rumah makan Legoh sempat jadi kontroversial karena menyediakan menu daging babi. Menu daging ini disediakan dan terbuka bagi para pelanggannya yang beragam. Meskipun menyediakan daging yang tidak diperbolehkan oleh kaum muslim, cara penanganan, alat-alat masak, tempat cuci dan penyimpanan dipisahkan. Meskipun sudah diatur sedemikian rupa, tetap saja pelanggan dan orang-orang yang peduli pada makanan halal tetap ragu-ragu. Sehingga untuk meminimalisir ketakutan diantara penikmat kuliner, sejak bulan lalu menu “khusus” ini ditiadakan dan diganti dengan menu baru dengan menjamin makanan itu aman dikonsumsi oleh orang muslim. Keputusan ini dibuat untuk memelihara dan menciptakan kepercayaan konsumen kembali, meskipun banyak juga beberapa konsumen yang suka menu itu, menyayangkan keputusan Legoh menghilangkan menu spesial ini. 

Nasi daun jeruk dan cumi tepung goreng.
Foto: Ima

Seminggu yang lalu, saya datang lagi ke Legoh karena ada menu baru yaitu mie baso dengan berbagai olahan. Ada mie yamin manis/asin, mie baso kuah, yahun yamin, bihun kuah dengan tambahan ceker maupun pangsit. Tampaknya setelah menu berbahan dasar babi ini ditiadakan, diciptakan menu baru dengan harapan bisa bertahan dan membangun kepercayaan konsumen lagi. Pemilihan menu baru ini rasanya tepat, hampir setiap orang suka mie baso, dan saya pun akhirnya pesan menu yamie baso pangsit dengan es kelapa muda.

Mie baso yamin manis.
Fot0: Ima


Sambil menunggu pesanan datang, saya coba makanan pesanan saudara yaitu brokoli jamur, daging sapi cuka dan nasi daun jeruk. Daging sapi cuka ini menu terbaru dan khas menado, sayur brokoli jamur ini sepertinya sederhana membuatnya, kedua bahan disatukan dengan cara dioseng. Sayurannya tetap segar dengan saus warna kecoklatan dan gurih, sepertinya ada bumbu saus tiram atau yang lain karena rasanya lebih enak dari saus tiram yang biasa saya pakai untuk mengoseng sayuran. Di menu, nyaris semua makanannya pedas, tapi rasa pedas ini ada beberapa level kepedasan dari yang biasa saja hingga sangat pedas.

Begitu mie baso ini datang, saya langsung melahap mienya yang panjang, tipis dan lembut. Bumbunya lebih terasa oriental mungkin karena ada minyak wijen. Seperti biasa saya melahap habis mie yamin manis dengan taburan pangsit goreng dengan potongan panjang-panjang. Basonya juga membuat sendiri, begitu di gigit teksturna rangu dan terasa dagingnya dengan kuah yang segar. Menurut Ratri, Kang Leon tidak pelit memberi bumbu selalu maksimal, karena kunci enaknya sebuah masakan ada di bumbu. 

Kwetiau hitam.
Foto: Ima

Kang Leon berbagi cerita tentang proses memelihara usaha kuliner yang sudah menginjak 12 tahun. Salah satu resepnya adalah selalu mendengar pendapat dan tanggapan dari konsumen. Bahkan, tak jarang Legoh membuat makanan hasil ide dari pelanggannya. Seperti kwetiaw goreng hitam, karena ada pelanggan yang biasa pesan kwetiaw dan ingin bumbunya hitam seperti nasi goreng hitam. Begitupun ketika rumah makan ini mulai sepi karena pelanggannya mulai ragu dengan masakan halalnya, Kang leon dan teman-teman tidak lantas berhenti, terus dicoba dengan segala kemungkinan. Begitu ada masalah cari solusi dan dicoba terus dan terus sampai akhirnya bisa bertahan selama ini. Resep usaha kuliner yang lain yaitu belanja sendiri, karena kunci usaha kuliner berawal dari pasar. Kita bisa memilih bahan baku yang terbaik, mendapatkan bahan dasar murah dan bisa menciptakan komunikasi yang baik dengan para pedagang di pasar. Dengan begitu, kita bisa tahu kondisi naik turun harga pasar dan prilaku konsumen saat ini.

Saya salut dengan komitmen yang dipegang Kang Leon, dia bisa menjalankan rumah makan Legoh berikut kelompok band Koil yang tetap ada . Sangat jarang sebuah kelompok band bisa bertahan lama apalagi ada usaha kuliner yang digarap bersama-sama. Persoalan visi dan ego masing-masing orang kerap menjadi masalah. Tapi begitu pertanyaan ini dilontarkan, ternyata kata Kang Leon mengungkapkan, kayanya kuncinya karena mereka kurang komunikasi, tepatnya jarang ngobrol. Mereka akan ngobrol begitu ada perlu untuk latihan, pentas atau urusan rumah makan. Seperti saat itu kami berbincang-bincang, temannya, Otong vokalis Koil, ada di ruang yang lain dengan urusannya. Bisa jadi ini salah satu cara untuk memelihara kelompok band dan usaha kulinernya.

Saya dapat rangkuman pengalaman dari Kang Leon: ketika ada masalah harus terus berusaha dan dicoba, sampai akhirnya semua masalah bisa dilewati. Nuhun, Kang! Akhir cerita, saya foto bareng sama Kang Leon buat pamer ke suami, karena dia nge-fans sama Koil. Haha…

Bandung, 6 September 2016

@imatakubesar
No Thumbnail

Kuliner dan Ngobrol di Rumah Makan Legoh bareng Kang Leon

Leon.


“Kalau ingin buka rumah makan dengan modal karena masakan kamu enak, itu engga cukup. Kalau ingin buka usaha kuliner dengan alasan itu, sebaiknya lupakan saja.” Begitu kata Leon salah seorang pemilik rumah makan Legoh yang sudah memelihara usahanya selama 12 tahun. 


Di rumah makan Legoh, saya bersama teman-teman berbincang sedikit tentang cara mengelola usaha kuliner. Kang Leon tidak sendiri, dia bersama teman-teman band Koil membangun usaha kuliner sebagai pilihan usaha yang bisa menghidupkan mereka. Begitu ide membuka usaha kulinet tercetus, Kang Leon mulai mencari resep masakan khas keluarga ke ibunya, lahirlah sebuah rumah makan dengan menu khas Menado di tahun 2004. Ternyata, membuka usaha kuliner ini tidak sesederhana yang dia fikirkan. Terutama masalah naik turun harga dan dalam pengelolaan stok. Rasa masakan Menado ini unik dan segar, banyak asam dan pedas, tapi karena beberapa alasan maka cita rasanya sedikit disesuaikan dengan lidah masyarakat di Bandung. Terutama lidah Sunda dan Jawa.

Sambil menguyah menu camilan khas Legoh yaitu keju aroma dan kelapa muda yang segar, obrolan tambah mengalir, asik dan cair. Suasana di Jl. Sultan Agung no. 9 Bandung terasa adem, pohon-pohon besar lengkap dengan angin segar, bawaanya betah dan ingin coba pesan menu yang lain. Selain drummer band koil, Kang Leon menjadi juru kunci kelezatan makanannya, karena dia sendiri yang masak dan belanja bahan baku ke pasar. 


Keju aroma, alpukat kerok dan es kelapa muda.
Foto: Ima
Legoh ini tempatnya tidak jauh dari pusat kota, pusat kota disini maksudnya BIP (Bandung Indah Plasa) maupun Balai Kota Bandung yang ada di jalan Merdeka. Tepatnya, kalau dari BIP, kamu bisa jalan kaki ke Jl. Juanda tak jauh dari perempatan ada patung orang yang sedang menambang minyak. Tinggal belok kanan, nah kamu sudah masuk ke Jl. Sultan Agung, hanya beberapa rumah dari awal jalan sudah tampak rumah makan Legoh, posisinya di seberang sekolah Aloysius. Tapi, kamu tidak akan lihat plang rumah makan legoh, yang ada tulisan Sultan Agung 9.


Untuk kesekian kalinya saya datang maupun pesan makanan yang dipesan pasti nasi goreng, menu disaat bingung memilih apa sehingga yang dipilih adalah nasi goreng. Tapi… nasi goreng di Legoh ini istimewa karena warna nasinya hitam. Bukan berasnya yang hitam, tapi nasi goreng ini ada campuran tinta cumi dan potongan cumi segar. Jadi rasa yang muncul gurih, ada daun jeruknya yang memelihara rasa yang nyaman di mulut. Legoh menyediakan beragam menu masakan, untuk nasi goreng saja ada 9 jenis, sambal ada 9 jenis, masakan ayam juga ada 9 jenis, masakan berbahan dasar sapi ada 6 jenis, jenis cumi dan ikan ada 12 jenis, menu olahan bebek ada 5 jenis, tak ketinggalan menu sayuran segarnya. Itu jumlah jenis makanan berat, belum camilan, minuman, soft drink dan kopi-teh. Jadi kalau ingin makan berat, banyak sekali pilihannya, tapi kalau hanya ingin mengemil dan minum kopi pun tersedia.

Rumah makan Legoh sempat jadi kontroversial karena menyediakan menu daging babi. Menu daging ini disediakan dan terbuka bagi para pelanggannya yang beragam. Meskipun menyediakan daging yang tidak diperbolehkan oleh kaum muslim, cara penanganan, alat-alat masak, tempat cuci dan penyimpanan dipisahkan. Meskipun sudah diatur sedemikian rupa, tetap saja pelanggan dan orang-orang yang peduli pada makanan halal tetap ragu-ragu. Sehingga untuk meminimalisir ketakutan diantara penikmat kuliner, sejak bulan lalu menu “khusus” ini ditiadakan dan diganti dengan menu baru dengan menjamin makanan itu aman dikonsumsi oleh orang muslim. Keputusan ini dibuat untuk memelihara dan menciptakan kepercayaan konsumen kembali, meskipun banyak juga beberapa konsumen yang suka menu itu, menyayangkan keputusan Legoh menghilangkan menu spesial ini. 

Nasi daun jeruk dan cumi tepung goreng.
Foto: Ima

Seminggu yang lalu, saya datang lagi ke Legoh karena ada menu baru yaitu mie baso dengan berbagai olahan. Ada mie yamin manis/asin, mie baso kuah, yahun yamin, bihun kuah dengan tambahan ceker maupun pangsit. Tampaknya setelah menu berbahan dasar babi ini ditiadakan, diciptakan menu baru dengan harapan bisa bertahan dan membangun kepercayaan konsumen lagi. Pemilihan menu baru ini rasanya tepat, hampir setiap orang suka mie baso, dan saya pun akhirnya pesan menu yamie baso pangsit dengan es kelapa muda.

Mie baso yamin manis.
Fot0: Ima


Sambil menunggu pesanan datang, saya coba makanan pesanan saudara yaitu brokoli jamur, daging sapi cuka dan nasi daun jeruk. Daging sapi cuka ini menu terbaru dan khas menado, sayur brokoli jamur ini sepertinya sederhana membuatnya, kedua bahan disatukan dengan cara dioseng. Sayurannya tetap segar dengan saus warna kecoklatan dan gurih, sepertinya ada bumbu saus tiram atau yang lain karena rasanya lebih enak dari saus tiram yang biasa saya pakai untuk mengoseng sayuran. Di menu, nyaris semua makanannya pedas, tapi rasa pedas ini ada beberapa level kepedasan dari yang biasa saja hingga sangat pedas.

Begitu mie baso ini datang, saya langsung melahap mienya yang panjang, tipis dan lembut. Bumbunya lebih terasa oriental mungkin karena ada minyak wijen. Seperti biasa saya melahap habis mie yamin manis dengan taburan pangsit goreng dengan potongan panjang-panjang. Basonya juga membuat sendiri, begitu di gigit teksturna rangu dan terasa dagingnya dengan kuah yang segar. Menurut Ratri, Kang Leon tidak pelit memberi bumbu selalu maksimal, karena kunci enaknya sebuah masakan ada di bumbu. 

Kwetiau hitam.
Foto: Ima

Kang Leon berbagi cerita tentang proses memelihara usaha kuliner yang sudah menginjak 12 tahun. Salah satu resepnya adalah selalu mendengar pendapat dan tanggapan dari konsumen. Bahkan, tak jarang Legoh membuat makanan hasil ide dari pelanggannya. Seperti kwetiaw goreng hitam, karena ada pelanggan yang biasa pesan kwetiaw dan ingin bumbunya hitam seperti nasi goreng hitam. Begitupun ketika rumah makan ini mulai sepi karena pelanggannya mulai ragu dengan masakan halalnya, Kang leon dan teman-teman tidak lantas berhenti, terus dicoba dengan segala kemungkinan. Begitu ada masalah cari solusi dan dicoba terus dan terus sampai akhirnya bisa bertahan selama ini. Resep usaha kuliner yang lain yaitu belanja sendiri, karena kunci usaha kuliner berawal dari pasar. Kita bisa memilih bahan baku yang terbaik, mendapatkan bahan dasar murah dan bisa menciptakan komunikasi yang baik dengan para pedagang di pasar. Dengan begitu, kita bisa tahu kondisi naik turun harga pasar dan prilaku konsumen saat ini.

Saya salut dengan komitmen yang dipegang Kang Leon, dia bisa menjalankan rumah makan Legoh berikut kelompok band Koil yang tetap ada . Sangat jarang sebuah kelompok band bisa bertahan lama apalagi ada usaha kuliner yang digarap bersama-sama. Persoalan visi dan ego masing-masing orang kerap menjadi masalah. Tapi begitu pertanyaan ini dilontarkan, ternyata kata Kang Leon mengungkapkan, kayanya kuncinya karena mereka kurang komunikasi, tepatnya jarang ngobrol. Mereka akan ngobrol begitu ada perlu untuk latihan, pentas atau urusan rumah makan. Seperti saat itu kami berbincang-bincang, temannya, Otong vokalis Koil, ada di ruang yang lain dengan urusannya. Bisa jadi ini salah satu cara untuk memelihara kelompok band dan usaha kulinernya.

Saya dapat rangkuman pengalaman dari Kang Leon: ketika ada masalah harus terus berusaha dan dicoba, sampai akhirnya semua masalah bisa dilewati. Nuhun, Kang! Akhir cerita, saya foto bareng sama Kang Leon buat pamer ke suami, karena dia nge-fans sama Koil. Haha…

Bandung, 6 September 2016

@imatakubesar
No Thumbnail

Dapoer Pandanwangi Bandung

Info resto: Dapoer Pandanwangi http://dapoerpandanwangi.com/ Alamat: Jl. Patuha No. 38, Talagobodas, Kota Bandung, Jawa Barat 40263 Telepon: +62 22 7309718 Jam buka: Pukul 10.00-22.00 Kisaran harga: Rp 7,500 – 70,000 (makanan) Jujur aja, walaupun saya tinggal di Bandung, tapi saya…

The post Dapoer Pandanwangi Bandung appeared first on Nyicip.