Browse By

All posts by Ima Rochmawati

Alasan Saya Pengen Ke Koto Gadang

Sumber foto: web kemenlu.

Dulu, saya punya impian bisa keliling Indonesia juga beberapa belahan negara. Ini pasti menyenangkan. Bisa mengenal budaya lokal dari berbagai sisi, entah peninggalan sejarahnya, makanan khas, kesenian, juga menikmati kekayaan alamnya. Semua unsur ini sebagai bentuk refleksi seluruh adat, sosial maupun budaya tersebut. Satu sisi, saya selalu menikmati setiap perjalanan. Suasana pinggir jalan, wangi dedaunan, bangunan yang khas dan pergerakan sosial tiap tempat dari segala sisi.

Beberapa tahun lalu, saya melakukan perjalanan ke beberapa kota karena tujuan kesehatan. Buat orang Sunda, khususnya keluarga saya, pergi taveling selalu mempertimbangan jarak. Karena kami bukan termasuk keluarga yang sengaja melakukan perjalanan, bahkan nyaris tidak pernah melakukan perjalanan kecuali ada yang menikah, melahirkan, sakit, ya, keperluan-keperluan keluarga maupun tugas dari kantor. Sementara saya sendiri selalu punya impian sedari kecil, ingin keluar Bandung dan melakukan banyak perjalanan ke berbagai daerah dan menikmati berbagai sisi yang unik.

Foto: Ima


Namun keinginan ini nyaris tidak pernah dilakukan kecuali sekalian pergi ke beberapa kota karena harus mengikuti program pertunjukan. Nah, setelah menikah saya lebih intuitif, saya dan suami cukup sering melakukan beberapa perjalanan. Jalan kaki, naik angkot, bis, kereta, melihat berbagai degup kota juga pedesaaan dengan ciri khas yang unik. Selalu menyusup rasa hangat, betapa bumi Allah ini sangat luas dan beragam.

Biasanya, sebelum melakukan perjalanan, saya akan mulai tanya kiri kanan dan browsing tentang:

1. Sejarah destinasi wisatanya.

2. Lokasi yang akan dikunjungi.

3. Makanan khas daerah.

4. Jenis keseniannya.

5. Pasar.

6. Tempat istirahat: menginap di rumah saudara atau hotel murah.

7. Pemilihan transportasi menuju kota tersebut.

8. Transportasi di dalam kota: sewa alat transportasi atau menggunakan alat transportasi umum.

Padang Kaya Akan Kuliner

Ke depan, saya ingin melakukan beberapa perjalanan, salah satunya Koto Gadang, Agam, Padang (koto: desa). Selama ini saya hanya tahu Kota Padang dari makanan yang kami makan bahkan semakin akrab di lidah meski kami tinggal di Bandung. Bersahabat dengan kaya rasa rempah, seperti daging rendang, sate Padang, lontong sayur dan camilan yang membuat saya ketagihan yaitu teh tarik, pisang goreng, ketan, keripik pedas. Ragam makanan yang bisa menggugah selera saya.

Sebagai orang Bandung, saya dimanjakan dengan berbagai resto, cafe, warung tenda, warung nasi yang menyediakan ragam rasa makanan khas daerah-daerah di seluruh Indonesia. Mungkin itu sebabnya saya jadi lebih mudah beradaptasi mencoba makanan yang baru.

Coba deh perhatikan, kuliner khas Padang dari yang ukuran warung hingga kelas restoran, ada dimana-mana. Melalui pergerakan yang masif Warung Padang, seperti memberi tanda bahwa suatu hari kota itu harus saya kunjungi. Karena dia telah memberi animo yang tinggi mempengaruhi selera makan dan tentu saja gaya hidup. Seseorang pernah bilang, belum lengkap kalau kamu belum mencoba makanan khas di tempatnya langsung, karena sensasi dan rasanya akan lebih terasa.

Rupanya dibalik jenis makanan yang kaya rempah, seperti memberi tanda bahwa orang awak ini punya tradisi merantau. Kebanyakan orang-orang yang hendak merantau selalu dibekali dengan makanan yang tahan lama. Salah satunya rendang yang diolah dengan kaya rempah dan proses yang lama lalu dibungkus dengan daun pisang. Konon, rempah dan daun pisang inilah yang membuat makanan tahan lama.

Saya dan suami kadang suka sengaja ke daerah Dipati Ukur, dari rumah saya ke tempat itu memakan waktu sekitar 20 menit demi sekedar menyegarkan pikiran dengan minum teh tarik yang dilengkapi dengan ketan dan pisang goreng. Ini makanan paling juara. Dari kesukaan menjelajah kuliner ini, terbersit ingin menikmati langsung makanan itu ke tempatnya langsung: Padang.

Meski belum tercapai, saya tetap memelihara itu sebagai bentuk doa. Saya percaya selalu ada jalan buat orang-orang yang selalu optimis, biasanya jalan rezekinya unik dan penuh kejutan.

Padang Kaya Akan Tokoh

Selain alasan makanan, saya ingin tahu langsung kondisi daerah Koto Gadang Agam yang terkenal melahirkan banyak tokoh-tokoh hebat yang berpengaruh di Indonesia. Katakanlah Buya Hamka, Agus Salim, Tan Malaka, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Taufiq Ismail, Mohammad Natsir, Roehana Koeddoes dan banyak lagi.

Ketika ikut acara mingguan di Museum Asia Afrika yang diadakan oleh komunitas Asia Africa Reading Club (AARC), komunitas yang kerap membahas buku-buku tokoh Indonesia yang memberi pengaruh dalam membuat gerakan Konferensi Asia Afrika di Bandung. Dimana tokoh-tokoh yang andil dalam mencetuskan dan membuat hubungan diplomasi antar negara ada Agus Salim dibelakangnya. Beliau diplomat hebat, unik dan cerdas sehingga kerap mendapat julukan The Grand Old Man. 


Sumber foto: brilio

Agus Salim yang menguasai 7 bahasa, merupakan salah satu tokoh diantara ratusan tokoh-tokoh berpengaruh di Indonesia yang lahir di Koto Gadang-Agam. Di sini saya baru “ngeh”, ternyata banyak sekali tokoh-tokoh dari mulai politisi, sastrawan, ulama juga pemimpin negara, lahir di sini. Bisa dikatakan desa terbanyak yang memunculkan tokoh-tokoh berpengaruh di Indonesia bahkan dunia. Rupanya, mereka menganut paham bahwa pendidikan adalah hal yang utama. Sehingga para pemudanya berangkat merantau untuk menggali ilmu.

Dua hal ini yang menarik saya untuk datang ke Padang. Melihat langsung karya besar penduduk lokal yang masih dipelihara dengan baik, seperti rumah gadang, tata kota, pertunjukan silat, perpustakaan, jam gadang, rumah bersejarah kelahiran Bung Hatta dan pergerakan kehidupan masyarakatnya.

Mengingat jarak yang jauh Bandung-padang, saya pun mulai browsing-browsing tentang Koto Gadang Agam yang terletak di Sumatera Barat ini. Kota yang pernah jadi Ibu Kota darurat Indonesia ini, mempunyai banyak peninggalan sejarah dari semasa kolonial dan keindahan alam yang sangat Indah. Mungkin kalian ingat dengan Tour to The Singkarak, sebuah lomba balap sepeda yang menelusuri pegunungan di Padang skala Internasional.

Semakin dicari tahu, semakin hangat, ya. Dari sekian banyak destinasi wisata di Padang, saya ingin datang ke sini:

1. Rumah kelahiran Bung Hatta

2. Benteng Fort de Kock

3. Jam gadang

4. Jembatan Limpapeh

5. Ngarai Sianok

6. Great Wall of Koto Gadang

7. Lobang Jepang Bukittinggi

8. Pasar

9. Kuliner

Sebenarnya ada lagi yang pengen saya kunjungi, mau nonton pertunjukan daerah khas di sana tapi belum dapat informasinya, nanti deh ubek-ubek lagi.

Hotel yang Murah di Kota Padang


Sumber foto: Airy Rooms

Setelah dapat informasi tentang beragam destinasi Kota Padang, saya harus cari hotel yang murah di Padang. Dan yang terpenting lainnya, dekat dengan koto/desa Agam, destinasi yang bakal dituju dan nyaman untuk istirahat. Biasanya kalau saya datang ke sebuah daerah, bakal ikut nginep di rumah saudara demi penghematan. Namun karena di sana tidak ada saudara, memang enaknya cari hotel saja.

Saya awam sekali tentang Kota Padang, saya harus cari-cari jaringan untuk mengumpulkan informasi hotel yang murah di Padang. Teman saya yang kebetulan pernah kerja di hotel, dia bilang sebaiknya saya buka informasi di Airy Rooms. Dia punya jaringan informasi berbagai jenis hotel di seluruh Indonesia bahkan yang berlabel syariah. 


Di website Airy Rooms, kita tinggal memilih beberapa opsi yang sesuai kita butuhkan.  Dari unak anik type kamar, akomodasi hotel, kisaran harga, konfigurasi bed, fasilitas dan lokasi hotel dekat dengan destinasi yang akan kita tuju.  Lalu daftar hotel yang direkomendasikan keluar menyesuaikan dengan opsi yang kita cek list.

Enaknya hidup jaman sekarang, asal punya handphone android, iOS Apps, lalu jaringan internet, proses-proses ribet gini bisa dibereskan dengan menggunakan handphone dan jaringan internet. Bisa sambil beres-beres, masak, nunggu anak sekolah, dan selang seling beresin tulisan. Klik lalu banyak sekali informasi yang kita cari, termasuk cara pesan hotel melalui website. 


Nah, sudah. Rasanya semua sudah aman, tinggal periksa menentukan waktu yang tepat pergi ke Padang dan mengatur anggaran. Sampai ketemu nanti Koto Gadang. :*

@imatakubesar

Alasan Saya Pengen Ke Koto Gadang

Sumber foto: web kemenlu.

Dulu, saya punya impian bisa keliling Indonesia juga beberapa belahan negara. Ini pasti menyenangkan. Bisa mengenal budaya lokal dari berbagai sisi, entah peninggalan sejarahnya, makanan khas, kesenian, juga menikmati kekayaan alamnya. Semua unsur ini sebagai bentuk refleksi seluruh adat, sosial maupun budaya tersebut. Satu sisi, saya selalu menikmati setiap perjalanan. Suasana pinggir jalan, wangi dedaunan, bangunan yang khas dan pergerakan sosial tiap tempat dari segala sisi.

Beberapa tahun lalu, saya melakukan perjalanan ke beberapa kota karena tujuan kesehatan. Buat orang Sunda, khususnya keluarga saya, pergi taveling selalu mempertimbangan jarak. Karena kami bukan termasuk keluarga yang sengaja melakukan perjalanan, bahkan nyaris tidak pernah melakukan perjalanan kecuali ada yang menikah, melahirkan, sakit, ya, keperluan-keperluan keluarga maupun tugas dari kantor. Sementara saya sendiri selalu punya impian sedari kecil, ingin keluar Bandung dan melakukan banyak perjalanan ke berbagai daerah dan menikmati berbagai sisi yang unik.

Foto: Ima


Namun keinginan ini nyaris tidak pernah dilakukan kecuali sekalian pergi ke beberapa kota karena harus mengikuti program pertunjukan. Nah, setelah menikah saya lebih intuitif, saya dan suami cukup sering melakukan beberapa perjalanan. Jalan kaki, naik angkot, bis, kereta, melihat berbagai degup kota juga pedesaaan dengan ciri khas yang unik. Selalu menyusup rasa hangat, betapa bumi Allah ini sangat luas dan beragam.

Biasanya, sebelum melakukan perjalanan, saya akan mulai tanya kiri kanan dan browsing tentang:

1. Sejarah destinasi wisatanya.

2. Lokasi yang akan dikunjungi.

3. Makanan khas daerah.

4. Jenis keseniannya.

5. Pasar.

6. Tempat istirahat: menginap di rumah saudara atau hotel murah.

7. Pemilihan transportasi menuju kota tersebut.

8. Transportasi di dalam kota: sewa alat transportasi atau menggunakan alat transportasi umum.

Padang Kaya Akan Kuliner

Ke depan, saya ingin melakukan beberapa perjalanan, salah satunya Koto Gadang, Agam, Padang (koto: desa). Selama ini saya hanya tahu Kota Padang dari makanan yang kami makan bahkan semakin akrab di lidah meski kami tinggal di Bandung. Bersahabat dengan kaya rasa rempah, seperti daging rendang, sate Padang, lontong sayur dan camilan yang membuat saya ketagihan yaitu teh tarik, pisang goreng, ketan, keripik pedas. Ragam makanan yang bisa menggugah selera saya.

Sebagai orang Bandung, saya dimanjakan dengan berbagai resto, cafe, warung tenda, warung nasi yang menyediakan ragam rasa makanan khas daerah-daerah di seluruh Indonesia. Mungkin itu sebabnya saya jadi lebih mudah beradaptasi mencoba makanan yang baru.

Coba deh perhatikan, kuliner khas Padang dari yang ukuran warung hingga kelas restoran, ada dimana-mana. Melalui pergerakan yang masif Warung Padang, seperti memberi tanda bahwa suatu hari kota itu harus saya kunjungi. Karena dia telah memberi animo yang tinggi mempengaruhi selera makan dan tentu saja gaya hidup. Seseorang pernah bilang, belum lengkap kalau kamu belum mencoba makanan khas di tempatnya langsung, karena sensasi dan rasanya akan lebih terasa.

Rupanya dibalik jenis makanan yang kaya rempah, seperti memberi tanda bahwa orang awak ini punya tradisi merantau. Kebanyakan orang-orang yang hendak merantau selalu dibekali dengan makanan yang tahan lama. Salah satunya rendang yang diolah dengan kaya rempah dan proses yang lama lalu dibungkus dengan daun pisang. Konon, rempah dan daun pisang inilah yang membuat makanan tahan lama.

Saya dan suami kadang suka sengaja ke daerah Dipati Ukur, dari rumah saya ke tempat itu memakan waktu sekitar 20 menit demi sekedar menyegarkan pikiran dengan minum teh tarik yang dilengkapi dengan ketan dan pisang goreng. Ini makanan paling juara. Dari kesukaan menjelajah kuliner ini, terbersit ingin menikmati langsung makanan itu ke tempatnya langsung: Padang.

Meski belum tercapai, saya tetap memelihara itu sebagai bentuk doa. Saya percaya selalu ada jalan buat orang-orang yang selalu optimis, biasanya jalan rezekinya unik dan penuh kejutan.

Padang Kaya Akan Tokoh

Selain alasan makanan, saya ingin tahu langsung kondisi daerah Koto Gadang Agam yang terkenal melahirkan banyak tokoh-tokoh hebat yang berpengaruh di Indonesia. Katakanlah Buya Hamka, Agus Salim, Tan Malaka, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Taufiq Ismail, Mohammad Natsir, Roehana Koeddoes dan banyak lagi.

Ketika ikut acara mingguan di Museum Asia Afrika yang diadakan oleh komunitas Asia Africa Reading Club (AARC), komunitas yang kerap membahas buku-buku tokoh Indonesia yang memberi pengaruh dalam membuat gerakan Konferensi Asia Afrika di Bandung. Dimana tokoh-tokoh yang andil dalam mencetuskan dan membuat hubungan diplomasi antar negara ada Agus Salim dibelakangnya. Beliau diplomat hebat, unik dan cerdas sehingga kerap mendapat julukan The Grand Old Man. 


Sumber foto: brilio

Agus Salim yang menguasai 7 bahasa, merupakan salah satu tokoh diantara ratusan tokoh-tokoh berpengaruh di Indonesia yang lahir di Koto Gadang-Agam. Di sini saya baru “ngeh”, ternyata banyak sekali tokoh-tokoh dari mulai politisi, sastrawan, ulama juga pemimpin negara, lahir di sini. Bisa dikatakan desa terbanyak yang memunculkan tokoh-tokoh berpengaruh di Indonesia bahkan dunia. Rupanya, mereka menganut paham bahwa pendidikan adalah hal yang utama. Sehingga para pemudanya berangkat merantau untuk menggali ilmu.

Dua hal ini yang menarik saya untuk datang ke Padang. Melihat langsung karya besar penduduk lokal yang masih dipelihara dengan baik, seperti rumah gadang, tata kota, pertunjukan silat, perpustakaan, jam gadang, rumah bersejarah kelahiran Bung Hatta dan pergerakan kehidupan masyarakatnya.

Mengingat jarak yang jauh Bandung-padang, saya pun mulai browsing-browsing tentang Koto Gadang Agam yang terletak di Sumatera Barat ini. Kota yang pernah jadi Ibu Kota darurat Indonesia ini, mempunyai banyak peninggalan sejarah dari semasa kolonial dan keindahan alam yang sangat Indah. Mungkin kalian ingat dengan Tour to The Singkarak, sebuah lomba balap sepeda yang menelusuri pegunungan di Padang skala Internasional.

Semakin dicari tahu, semakin hangat, ya. Dari sekian banyak destinasi wisata di Padang, saya ingin datang ke sini:

1. Rumah kelahiran Bung Hatta

2. Benteng Fort de Kock

3. Jam gadang

4. Jembatan Limpapeh

5. Ngarai Sianok

6. Great Wall of Koto Gadang

7. Lobang Jepang Bukittinggi

8. Pasar

9. Kuliner

Sebenarnya ada lagi yang pengen saya kunjungi, mau nonton pertunjukan daerah khas di sana tapi belum dapat informasinya, nanti deh ubek-ubek lagi.

Hotel yang Murah di Kota Padang


Sumber foto: Airy Rooms

Setelah dapat informasi tentang beragam destinasi Kota Padang, saya harus cari hotel yang murah di Padang. Dan yang terpenting lainnya, dekat dengan koto/desa Agam, destinasi yang bakal dituju dan nyaman untuk istirahat. Biasanya kalau saya datang ke sebuah daerah, bakal ikut nginep di rumah saudara demi penghematan. Namun karena di sana tidak ada saudara, memang enaknya cari hotel saja.

Saya awam sekali tentang Kota Padang, saya harus cari-cari jaringan untuk mengumpulkan informasi hotel yang murah di Padang. Teman saya yang kebetulan pernah kerja di hotel, dia bilang sebaiknya saya buka informasi di Airy Rooms. Dia punya jaringan informasi berbagai jenis hotel di seluruh Indonesia bahkan yang berlabel syariah. 


Di website Airy Rooms, kita tinggal memilih beberapa opsi yang sesuai kita butuhkan.  Dari unak anik type kamar, akomodasi hotel, kisaran harga, konfigurasi bed, fasilitas dan lokasi hotel dekat dengan destinasi yang akan kita tuju.  Lalu daftar hotel yang direkomendasikan keluar menyesuaikan dengan opsi yang kita cek list.

Enaknya hidup jaman sekarang, asal punya handphone android, iOS Apps, lalu jaringan internet, proses-proses ribet gini bisa dibereskan dengan menggunakan handphone dan jaringan internet. Bisa sambil beres-beres, masak, nunggu anak sekolah, dan selang seling beresin tulisan. Klik lalu banyak sekali informasi yang kita cari, termasuk cara pesan hotel melalui website. 


Nah, sudah. Rasanya semua sudah aman, tinggal periksa menentukan waktu yang tepat pergi ke Padang dan mengatur anggaran. Sampai ketemu nanti Koto Gadang. :*

@imatakubesar

Safari Ramadhan XL Axiata: Donasi Panti Asuhan dan Al Quran Braile

Bulan Ramadhan seperti menjadi bulan yang menstimulus orang-orang semakin terpacu untuk berbuat baik. Langkah-langkah baik kerap dilakukan oleh perseorangan hingga kelompok besar lembaga, komunitas maupun perusahaan. Seperti perusahan provider XL axiata memanfaatkan bulan Ramadhan ini menjalankan program CSR nya, yaitu menyerahkan donasi ke panti Asuhan Insan Harapan dan Al Quran Braile kepada Yayasan Raudatul Makfufin di Graha XL Martadinata, Bandung.


Pembacaan ayat Al- Quran oleh anak-anak Panti Asuhan Insan Harapan.
Foto: Ima

Rupanya Safari Ramadhan ini program tahunan yang biasa dilakukan sambil buka bersama dengan karyawan, media dan partner. Hari Senin kemarin tanggal 12 Juni 2017, karyawan beserta jajaran XL dengan memakai baju putih, khusuk mendengarkan untaian pembukaan berupa mengaji dan salitilawah perwakilan anak-anak dari panti asuhan. Mereka tanpa ibu dan bapak, tampak raut mukanya yang tenang dan penuh harap.


Simbol penyerahan CSR Ramadhan Berbagi ke Panti Asuhan.
Foto: Ima


Seperti yang diungkapkan oleh vice president XL Axiata Central Region, Rd Sofia Purbayanti,”Acara Safari Ramadhan ini sudah menjadi agenda tahunan XL Axiata, bukan hanya sekedar acara berbuka bersama, tapi sekaligus menjadi ajang untuk menjalin kebersamaan dengan sesama, serta berbagi manfaat dan keberkahan dalam segala hal.”


Buka bersama karyawan, partner dan media.
Foto: Ima


Rupanya sebelum penyerahan program donasi ini, dalam upaya mewujudkan berbagi manfaat dan keberkahan dalam segala hal. XL meresmikan jembatan Silaturahmi Xlalu ketiga. Jembatan yang rusak penghubung Desa Cicurug dan Desa Cinta Damai, akan dibangun kembali karena banjir bandang di Kecamatan Sukaresmi dan Pasirwangi di akhir tahun 2016 lalu. Upaya ini sebagai bentuk peduli agar sarana penghubung transportasi masyarakat desa kembali lancar yang tentu akan berpengaruh pada roda perekonomian dan kegiatan sehari-hari.

Untuk pembangunan kembali jembatan ini, tidak hanya mengandalkan dari kas CSR. Tapi menghimpun wakaf dari karyawan dan kepedulian pelanggan XL Axiata melalui SMS donasi. Upaya yang menarik, cara ini bisa menjadi media edukasi mengasah hati dan memelihara sifat berbagi. Tidak hanya XL tapi lingkungan yang saling terkait satu sama lain, karyawan, pengguna provider dan perusahan itu sendiri.

Saat ini, masyarakat mengandalkan jaringan internet sebagai media komunikasi yang efektif. Dari sms, telepon, jaringan komunikasi berbasis aplikasi yang mengandalkan internet. Menjelang hari besar muslim, mudik atau perjalanan pulang kampung di hari raya menjadi animo paling besar. Agar masyarakat tetap merasa nyaman berkomunikasi di saat mudik, sebagai informasi kalau XL Axiata menyediakan layanan XL 4G LTE di wilayah Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Purwakarta, Kota Banjar, Kota Cirebon, DI Jogjakarta dan sekitarnya. Pun Jawa Tengah meliputi Semarang, Tegal, Peklaongan, Solo, Purwokerto, Magelang, Kebumen, Cilacap dan berbagai mudik di area tersebut.

Sebagai pengguna, menarik memperhatikan upaya berbagai provider dalam melakukan berbagai upaya modernisasi jaringan, upgrade jaringan. Setiap hari kebutuhan data semakin bertambah dan akan berpengaruh pada peningkatan trafik data.

Menghadiri undangan Safari Ramadhan ini menjadi kesempatan yang inspiratif. Momen ini membukakan mata tentang pergerakan sebuah perusahaan yang mengasah nilai peduli dan silaturahmi dengan berbagai bentuk langkah-langkah nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.

@imatakubesar