Browse By

Daily Archives: 3 August 2017

Pantai Bagedur Banten, Pantai Menarik Untuk Dikunjungi

Pantai Bagedur, pantai selatan Propinsi Banten.
Foto: Ima, 2017

“Mudik nanti, Ayah* pengen ngajak Ima ke pantai.” Ajak Ayah beberapa hari sebelum Idul Fitri tiba.

“Hayuuu… kemana, ya. Tanjung Lesung, Sawarna, atau Carita?” Saya membayangkan sesuatu yang indah.

“Nanti deh kita lihat-lihat. Kalo Tanjung Lesung mah ke arah rumahnya Eman, di Sumur.”

“Oh, iya, kejauhan, ya. Pantai yang deket-deket aja.”

“Oke, aaamiiiin.”

“Kok, amin?”

“Semoga jadi, hahhaaaa…. biasanya kan suka gagal.”
***

Liburan

Liburan kali ini terasa sekali, mungkin karena ini kali pertama anak saya dapat libur semesteran dengan waktu yang cukup lama. Sekitar 3 minggu, hureeee… Ya liburan hari raya, ya liburan kenaikan kelas. Kami akan pergi ke kampung halaman suami di Pandeglang. Di Google Map, Pandeglang itu masih bagian dari propinsi Jawa Barat padahal sudah lepas menjadi Propinsi Banten sejak tahun 2000.

Sebenernya, pergi ke kampung halaman suami pun sudah terasa liburan. Mengingat daerah tempat tinggal mertua masih banyak pohon-pohon lebat, pesawahan, pemandangan gunung yang lezat dan permainan panorama di pagi dan sore hari. Itu sama seperti liburan tiap hari. Maunya jalan kaki, menikmati hamparan rumput, lihat-lihat sawah dan menikmati udara segar. 


Belakang rumah mertua di Pesantren Darul Iman,
Kadupandak Banten. Foto: Ima, 2017

Waktu bermalam di Pandeglang bakal lama sepertinya, mengingat liburan anak yang lama dan obat Ayah yang mencukupi sekitar 2-3 mingguan. Kalau tiap hari di rumah ya tetep aja ga enak, jadi asik juga kami rencanakan ke pantai. Sementara orang-orang mulai masuk kerja tanggal 3 Juli, kami berangkat ke Pantai. Harap maklum, karena kerja kami di rumah. Buat kami bekerja adalah liburan, liburan adalah bekerja. Kumaha ieu teh? Nya kitu weh, bebas menafsirkan. ((hahahaaa..))

Nah, jadi di hari ke-5 di Pandeglang, akhirnya kami ke Pantai. Iya, pantai. Heheheee…

Dari beberapa pilihan pantai yang disebutkan sebelumnya, tidak ada yang terpilih. Saat Ayah bilang ada pantai bagus di Pandeglang namanya Pantai Bagedur. Saya meng-iya kan saja. Nama yang asing dan baru didengar, sepertinya bakal menarik. Dari semua anggota keluarga, cuma Ayah saja yang pernah ke Pantai Bagedur, itu pun rekreasi bersama sekolah di waktu dia masih SD. SD, itu sekitar tahun 88-an, hitung sendiri berapa tahun lampau. Jadi kami browsing-browsing lewat google map, dimanakah letak Pantai Bagedur dan berapa jauh jarak dari rumah ke pantai.

Persiapan Traveling Ke Pantai Bagedur

Pertama, kami mulai mencari jalur dan referensi Pantai Bagedur lewat google map. Hasil browsing dan foto-foto yang pernah ke sana, pantainya menarik karena masih jarang jadi kunjungan wisata. Rupanya, jalurnya cukup sederhana dan jarak tempuh hanya 2,5 jam saja dari Kampung Kadupandak Kabupaten Pandeglang. Prediksi kami jalanan rusak dan macet. Sehingga jarak tempuh yang diperkirakan Google Map molor sekitar 1-2 jam.

Kedua, mempersiapkan baju ganti kami, handuk, alat mandi, dan baby cream. Mengingat anak-anak pasti akan main pasir dan panas-panasan di pinggir pantai. Beberapa mainan pun dibawa agar anak-anak bisa main dan meng-explore pasir.

Ketiga, bawa obat-obatan.

Keempat, bawa handphone yang sudah di carge penuh, power bank juga kabel agar bisa puas foto-foto.

Keempat, camilan. Camilan ini penting buat anak-anak, biar perjalanan bisa lebih asik dan tenang. Jadi di tengah perjalanan nanti kami berhenti di mini market untuk membeli beberapa camilan kesukaan anak-anak. Seperti; permen, cokelat, kripik, roti, susu, air mineral, crakers, juga kacang.

Kami tidak bawa nasi dan temannya dengan harapan bisa makan ikan di pinggir pantai. Untuk tambahan camilan, kami bawa beberapa kue idul fitri. Camilan anak-anak ini perlu agar anak-anak menikmati perjalanan.

Kelima, uang secukupnya untuk bensin, supir dan beli makan.

Rute Perjalanan Ke Pantai Bagedur
Kami berangkat dari rumah mertua jam 09.00 wib, khawatir terjadi kemacetan dan pulangnya tidak terlalu malam. Kami berangkat rame-rame. Tetangga kami yang jadi supir, Ade adiknya Ayah, Mama, Saya, Ayah, Aden, Bayan dan Kaira (sepupu Aden). Satu mobil cukup, di depan ada supir dan Ade karena dia hamil, di tengah ada Ayah dan Mama, di belakang saya dan anak-anak.


Pemandangan sepanjang jalan Malingping.
Foto: Ima, 2017

Saya siapkan kresek, telon juga pakaian ganti kalau-kalau anak-anak mabuk di tengah jalan. Baru beberapa menit perjalanan, anak-anak seperti yang mengantuk, mereka tidur sekenanya. Tapi kemudian segar lagi begitu berhenti di Alfamart. Ini kalo anak-anak udah melihat logonya aja, langsung segar dan gelisah karena mau jajan.

Kami turun, saya dan anak-anak langsung ke bagian camilan sementara Ade beli air mineral 1 dus. Wajah lesu anak-anak berubah ceria. Masing-masing beli camilan yang mereka suka, meski saya batasi masing-masing beli 1 jenis makanan dan 1 jenis minuman. Tapi gagal total, karena masing-masing mereka mau beli mainan juga. Oke! Di acara ke pantai ini saya ga mau ada yang “manyun”, jadi saya kabulkan saja permintaan mereka. Sebagian camilan saya pilihkan seperti agar-agar dengan isi yang banyak, kripik dengan isi yang banyak agar mereka makan sama-sama dan senang berbagi.

Setelah jajan di Alfamart, kami lanjut perjalanan menuju pantai. 


Jalan-jalan melewati kebun karet.
Foto: Ima, 2017


Kalau dari Kampung Kadupandak (rumah mertua), ada beberapa desa yang akan kami lewati. Diantaranya Batubantar, Saketi lalu Malingping. Kalau dari alun-alun Pandeglang, kamu bisa menelusuri jalan Raya Labuan ke arah Saketi. Di Saketi ciri-cirinya ada pasar dan kios-kios buah-buahan yang sangat menarik. Perjalanan cukup mengikuti jalan besar. Berbelok-belok dan naik turun bukit. Pemandangan masih sangat alami, kiri kanan melewati kebun sawit dan kebun karet.

Rupanya perjalanan cukup lancar, arus liburan sudah sepi. Jadi waktu perjalanan kami sesuai dengan perkiraan di google map yaitu 2,5 jam saja. Sementara arus balik ke arah Jakarta cukup padat.

Pantai Bagedur, Pantai Selatan Banten


Jalan menuju pantai dari pintu utama.
Foto: Ita, 2017


Sekitar jam 12.00 wib kami sampai di Malingping, di sana terdapat gapura bertuliskan “Bagedur Beach”. Dari jalan besar ke arah pantai sekitar 1 km. Di tengah ada pos tiket, harga masuk tiap orang Rp. 5000 saja. Tapi menariknya, yang dihitung hanya orang-orang besarnya saja, jadi kami membayar tiket masuk Rp. 25.000, biaya parkir mobil tidak dihitung.

Ayah dan Aden.
Foto: Ima, 2017


Begitu sampai di pinggir pantai, rupanya mobil bisa masuk ke bibir pantai. Di sebelah kiri terdapat kios-kios yang memanjang. Dari pedagang makanan, baju, sendal dan sepatu. Meskipun sudah banyak pedagang, pantai cukup sepi, hanya segelintir orang yang ada menikmati keindahan Pantai Bagedur. Kios-kios makanan berjajar sangat panjang, tapi sayangnya tak ada satu kios pun yang menjual nasi dan ikan bakar. Padahal salah satu tujuan kami ke pantai yaitu ingin menikmati ikan segar di pinggir pantai sambil menikmati deburan ombak. Rata-rata kios-kios itu menjual mie baso. 




Dengan banyaknya kios dan pengunjung yang sepi, kami sangat leluasa memilih tempat untuk berteduh, mengingat begitu sampai matahari sedang terik-teriknya.

Kami pilih parkir di depan kios yang cukup nyaman di atas pasir yang cukup tahan untuk parkir mobil. Tempat mobil parkir dan kios tempat kami menarik, jarak dari kios ke pantai seperti halaman rumah, dekat sekali. Di masing-masing kios pun menyediakan kamar mandi untuk membasuh badan dan ganti pakaian, berikut ada sepetak tempat untuk shalat. Di sebelah kios tempat kami berteduh, ada kios es kelapa muda. Ini es kelapa muda yang paling enak yang pernah saya lahap. Bisa jadi karena faktor gula merah yang melengkapi rasa manisnya.

Menikmati laut yang sangat luas, langit yang tak berbatas dan permainan beburung juga awan putih yang indah, segelas kelapa muda. Kenikmatan yang meredakan kepala dan hati yang kusut.

Waktu di pantai cukup lama, sambil menunggu matahari turun, anak-anak bermain di pinggir kios agar tidak kena terik matahari. Sementara Ade menghubungi salah satu santri yang tinggal dekat di daerah pantai. Dia pun datang menggunakan motor, aih senangnya! Namanya Ita. Karena kami belum makan nasi, jadi saya minta antar Ita untuk mencari tempat makan. Saya dan Ita pergi keluar ke arah jalan besar Malingping menuju pasar. Di sana ada warung nasi padang, akhirnya saya beli nasi, ikan bakar juga perkedel kentang. Oke, meski tidak beli ikan di pinggir pantai tapi terobati dapat ikan bakar segar di Warung Nasi Padang. Horeee!

Cahaya matahari mulai turun, anak-anak mulai mendekati ombak. Bermain pasir basah dan menangkap air laut yang asin. Mereka senang sekali, sama, saya juga. Dari yang cuma berdiri sampai tidur-tiduran di pantai sambil di sapu ombak. Teriak dan tawa pun tak henti keluar dari mulut kami. Mama menikmati permaian kami di dalam kios sambil makan nasi ikan padang. Bermain dari yang tadinya air lautnya agak jauh hingga air mulai pasang. Petugas pantai mulai meniup pluitnya jika ada pengunjung yang berenang ke batas yang dilarang. 


Sampah berserakan, pemandangan
di tiap tempat wisata.
Foto: Ima, 2017
Pantai ini termasuk pantai yang cukup besar ombaknya. Berdasarkan kabar di berita-berita on-line, waktu itu kondisi ombak termasuk sedang tinggi dan besar.

Sore semakin merambat, cukup alot saya membujuk anak-anak berhenti bermain dan segera membasuh badannya. Anak-anak senang, begitupun kami. Liburan yang menyenangkan.

Bandung, 3 Agustus 2017

@imatakubesar


*Ayah=Panggilan suami.

Pantai Bagedur Banten, Pantai Menarik Untuk Dikunjungi

Pantai Bagedur, pantai selatan Propinsi Banten.
Foto: Ima, 2017

“Mudik nanti, Ayah* pengen ngajak Ima ke pantai.” Ajak Ayah beberapa hari sebelum Idul Fitri tiba.

“Hayuuu… kemana, ya. Tanjung Lesung, Sawarna, atau Carita?” Saya membayangkan sesuatu yang indah.

“Nanti deh kita lihat-lihat. Kalo Tanjung Lesung mah ke arah rumahnya Eman, di Sumur.”

“Oh, iya, kejauhan, ya. Pantai yang deket-deket aja.”

“Oke, aaamiiiin.”

“Kok, amin?”

“Semoga jadi, hahhaaaa…. biasanya kan suka gagal.”
***

Liburan

Liburan kali ini terasa sekali, mungkin karena ini kali pertama anak saya dapat libur semesteran dengan waktu yang cukup lama. Sekitar 3 minggu, hureeee… Ya liburan hari raya, ya liburan kenaikan kelas. Kami akan pergi ke kampung halaman suami di Pandeglang. Di Google Map, Pandeglang itu masih bagian dari propinsi Jawa Barat padahal sudah lepas menjadi Propinsi Banten sejak tahun 2000.

Sebenernya, pergi ke kampung halaman suami pun sudah terasa liburan. Mengingat daerah tempat tinggal mertua masih banyak pohon-pohon lebat, pesawahan, pemandangan gunung yang lezat dan permainan panorama di pagi dan sore hari. Itu sama seperti liburan tiap hari. Maunya jalan kaki, menikmati hamparan rumput, lihat-lihat sawah dan menikmati udara segar. 


Belakang rumah mertua di Pesantren Darul Iman,
Kadupandak Banten. Foto: Ima, 2017

Waktu bermalam di Pandeglang bakal lama sepertinya, mengingat liburan anak yang lama dan obat Ayah yang mencukupi sekitar 2-3 mingguan. Kalau tiap hari di rumah ya tetep aja ga enak, jadi asik juga kami rencanakan ke pantai. Sementara orang-orang mulai masuk kerja tanggal 3 Juli, kami berangkat ke Pantai. Harap maklum, karena kerja kami di rumah. Buat kami bekerja adalah liburan, liburan adalah bekerja. Kumaha ieu teh? Nya kitu weh, bebas menafsirkan. ((hahahaaa..))

Nah, jadi di hari ke-5 di Pandeglang, akhirnya kami ke Pantai. Iya, pantai. Heheheee…

Dari beberapa pilihan pantai yang disebutkan sebelumnya, tidak ada yang terpilih. Saat Ayah bilang ada pantai bagus di Pandeglang namanya Pantai Bagedur. Saya meng-iya kan saja. Nama yang asing dan baru didengar, sepertinya bakal menarik. Dari semua anggota keluarga, cuma Ayah saja yang pernah ke Pantai Bagedur, itu pun rekreasi bersama sekolah di waktu dia masih SD. SD, itu sekitar tahun 88-an, hitung sendiri berapa tahun lampau. Jadi kami browsing-browsing lewat google map, dimanakah letak Pantai Bagedur dan berapa jauh jarak dari rumah ke pantai.

Persiapan Traveling Ke Pantai Bagedur

Pertama, kami mulai mencari jalur dan referensi Pantai Bagedur lewat google map. Hasil browsing dan foto-foto yang pernah ke sana, pantainya menarik karena masih jarang jadi kunjungan wisata. Rupanya, jalurnya cukup sederhana dan jarak tempuh hanya 2,5 jam saja dari Kampung Kadupandak Kabupaten Pandeglang. Prediksi kami jalanan rusak dan macet. Sehingga jarak tempuh yang diperkirakan Google Map molor sekitar 1-2 jam.

Kedua, mempersiapkan baju ganti kami, handuk, alat mandi, dan baby cream. Mengingat anak-anak pasti akan main pasir dan panas-panasan di pinggir pantai. Beberapa mainan pun dibawa agar anak-anak bisa main dan meng-explore pasir.

Ketiga, bawa obat-obatan.

Keempat, bawa handphone yang sudah di carge penuh, power bank juga kabel agar bisa puas foto-foto.

Keempat, camilan. Camilan ini penting buat anak-anak, biar perjalanan bisa lebih asik dan tenang. Jadi di tengah perjalanan nanti kami berhenti di mini market untuk membeli beberapa camilan kesukaan anak-anak. Seperti; permen, cokelat, kripik, roti, susu, air mineral, crakers, juga kacang.

Kami tidak bawa nasi dan temannya dengan harapan bisa makan ikan di pinggir pantai. Untuk tambahan camilan, kami bawa beberapa kue idul fitri. Camilan anak-anak ini perlu agar anak-anak menikmati perjalanan.

Kelima, uang secukupnya untuk bensin, supir dan beli makan.

Rute Perjalanan Ke Pantai Bagedur
Kami berangkat dari rumah mertua jam 09.00 wib, khawatir terjadi kemacetan dan pulangnya tidak terlalu malam. Kami berangkat rame-rame. Tetangga kami yang jadi supir, Ade adiknya Ayah, Mama, Saya, Ayah, Aden, Bayan dan Kaira (sepupu Aden). Satu mobil cukup, di depan ada supir dan Ade karena dia hamil, di tengah ada Ayah dan Mama, di belakang saya dan anak-anak.


Pemandangan sepanjang jalan Malingping.
Foto: Ima, 2017

Saya siapkan kresek, telon juga pakaian ganti kalau-kalau anak-anak mabuk di tengah jalan. Baru beberapa menit perjalanan, anak-anak seperti yang mengantuk, mereka tidur sekenanya. Tapi kemudian segar lagi begitu berhenti di Alfamart. Ini kalo anak-anak udah melihat logonya aja, langsung segar dan gelisah karena mau jajan.

Kami turun, saya dan anak-anak langsung ke bagian camilan sementara Ade beli air mineral 1 dus. Wajah lesu anak-anak berubah ceria. Masing-masing beli camilan yang mereka suka, meski saya batasi masing-masing beli 1 jenis makanan dan 1 jenis minuman. Tapi gagal total, karena masing-masing mereka mau beli mainan juga. Oke! Di acara ke pantai ini saya ga mau ada yang “manyun”, jadi saya kabulkan saja permintaan mereka. Sebagian camilan saya pilihkan seperti agar-agar dengan isi yang banyak, kripik dengan isi yang banyak agar mereka makan sama-sama dan senang berbagi.

Setelah jajan di Alfamart, kami lanjut perjalanan menuju pantai. 


Jalan-jalan melewati kebun karet.
Foto: Ima, 2017


Kalau dari Kampung Kadupandak (rumah mertua), ada beberapa desa yang akan kami lewati. Diantaranya Batubantar, Saketi lalu Malingping. Kalau dari alun-alun Pandeglang, kamu bisa menelusuri jalan Raya Labuan ke arah Saketi. Di Saketi ciri-cirinya ada pasar dan kios-kios buah-buahan yang sangat menarik. Perjalanan cukup mengikuti jalan besar. Berbelok-belok dan naik turun bukit. Pemandangan masih sangat alami, kiri kanan melewati kebun sawit dan kebun karet.

Rupanya perjalanan cukup lancar, arus liburan sudah sepi. Jadi waktu perjalanan kami sesuai dengan perkiraan di google map yaitu 2,5 jam saja. Sementara arus balik ke arah Jakarta cukup padat.

Pantai Bagedur, Pantai Selatan Banten


Jalan menuju pantai dari pintu utama.
Foto: Ita, 2017


Sekitar jam 12.00 wib kami sampai di Malingping, di sana terdapat gapura bertuliskan “Bagedur Beach”. Dari jalan besar ke arah pantai sekitar 1 km. Di tengah ada pos tiket, harga masuk tiap orang Rp. 5000 saja. Tapi menariknya, yang dihitung hanya orang-orang besarnya saja, jadi kami membayar tiket masuk Rp. 25.000, biaya parkir mobil tidak dihitung.

Ayah dan Aden.
Foto: Ima, 2017


Begitu sampai di pinggir pantai, rupanya mobil bisa masuk ke bibir pantai. Di sebelah kiri terdapat kios-kios yang memanjang. Dari pedagang makanan, baju, sendal dan sepatu. Meskipun sudah banyak pedagang, pantai cukup sepi, hanya segelintir orang yang ada menikmati keindahan Pantai Bagedur. Kios-kios makanan berjajar sangat panjang, tapi sayangnya tak ada satu kios pun yang menjual nasi dan ikan bakar. Padahal salah satu tujuan kami ke pantai yaitu ingin menikmati ikan segar di pinggir pantai sambil menikmati deburan ombak. Rata-rata kios-kios itu menjual mie baso. 




Dengan banyaknya kios dan pengunjung yang sepi, kami sangat leluasa memilih tempat untuk berteduh, mengingat begitu sampai matahari sedang terik-teriknya.

Kami pilih parkir di depan kios yang cukup nyaman di atas pasir yang cukup tahan untuk parkir mobil. Tempat mobil parkir dan kios tempat kami menarik, jarak dari kios ke pantai seperti halaman rumah, dekat sekali. Di masing-masing kios pun menyediakan kamar mandi untuk membasuh badan dan ganti pakaian, berikut ada sepetak tempat untuk shalat. Di sebelah kios tempat kami berteduh, ada kios es kelapa muda. Ini es kelapa muda yang paling enak yang pernah saya lahap. Bisa jadi karena faktor gula merah yang melengkapi rasa manisnya.

Menikmati laut yang sangat luas, langit yang tak berbatas dan permainan beburung juga awan putih yang indah, segelas kelapa muda. Kenikmatan yang meredakan kepala dan hati yang kusut.

Waktu di pantai cukup lama, sambil menunggu matahari turun, anak-anak bermain di pinggir kios agar tidak kena terik matahari. Sementara Ade menghubungi salah satu santri yang tinggal dekat di daerah pantai. Dia pun datang menggunakan motor, aih senangnya! Namanya Ita. Karena kami belum makan nasi, jadi saya minta antar Ita untuk mencari tempat makan. Saya dan Ita pergi keluar ke arah jalan besar Malingping menuju pasar. Di sana ada warung nasi padang, akhirnya saya beli nasi, ikan bakar juga perkedel kentang. Oke, meski tidak beli ikan di pinggir pantai tapi terobati dapat ikan bakar segar di Warung Nasi Padang. Horeee!

Cahaya matahari mulai turun, anak-anak mulai mendekati ombak. Bermain pasir basah dan menangkap air laut yang asin. Mereka senang sekali, sama, saya juga. Dari yang cuma berdiri sampai tidur-tiduran di pantai sambil di sapu ombak. Teriak dan tawa pun tak henti keluar dari mulut kami. Mama menikmati permaian kami di dalam kios sambil makan nasi ikan padang. Bermain dari yang tadinya air lautnya agak jauh hingga air mulai pasang. Petugas pantai mulai meniup pluitnya jika ada pengunjung yang berenang ke batas yang dilarang. 


Sampah berserakan, pemandangan
di tiap tempat wisata.
Foto: Ima, 2017
Pantai ini termasuk pantai yang cukup besar ombaknya. Berdasarkan kabar di berita-berita on-line, waktu itu kondisi ombak termasuk sedang tinggi dan besar.

Sore semakin merambat, cukup alot saya membujuk anak-anak berhenti bermain dan segera membasuh badannya. Anak-anak senang, begitupun kami. Liburan yang menyenangkan.

Bandung, 3 Agustus 2017

@imatakubesar


*Ayah=Panggilan suami.
No Thumbnail

Penerjunan Benny Moerdani

Tujuan Indonesia hanya satu, mengacaukan kekuatan Belanda di Pulau Biak. Apabila Merauke berhasil diinvasi dan diporak-porandakan maka Belanda akan mengerahkan pasukannya ke Merauke dan hal tersebut akan memecah konsentrasi pasukan mereka di Biak. Renc…