Browse By

Daily Archives: 22 May 2017

Tentang Persahabatan: The Guardian of The Galaxi 2

Yonda: “Saya tidak menggerakan panah degan pikiran tapi dengan hati”

Sumber foto: disini

Ini adalah salah satu dialog salah satu tokoh di film The Guardian of The Galaxi.  Dialog keluar ketika pertempuran masuk pada situasi paling genting.  Satu persatu teman-team superhero terancam mati.  Sementara Quills masih belum bisa menggunakan kekuatan super yang baru saja dia dapatkan untuk melawan musuhnya.  Ketika Yonda nyaris mati, dia memberi petunjuk pada Quills bagaimana dia mengontrol panahnya sehingga tepat sasaran dan menyadarkan Quills cara mengolah kekuatannya itu. 


Film yang dipenuhi adegan pertempuran para superhero ini intinya tentang hati.  Cinta, harapan, obsesi, impian masing-masing tokoh di tengah-tengah situasi serius, keras, kejam dan penuh pertempuran di angkasa raya sekaligus dikemas dengan komedi situasi yang segar.



Nobar Citoku: Teman Nontonku


Saya dapat tiket nonton bareng Citoku di BEC.  Engga tau yah, saya ini kalau mau nonton bawaanya harus perfect (Haha!).  Agak-agak ‘menyebalkan’ memang.  Kalau kata film Janji Jhoni mah, bisa jadi saya termasuk penonton piknik.  Kategori penonton piknik itu, dia selalu bawa makanan dan minuman sambil menikmati tontonan.  Kalau boleh bawa makanan dari luar, saya mau bawa martabak, hahhaaaa… engga lah engga se ekstrim itu, kalo di rumah… iya, hehee, martabak atau gorengan atau seputar kriuk kriuk kaya Citoku.  Pembelaannya mungkin karena saya mau mengapresiasi karya seni kali, ya, jadi butuh sedikit banyak energi.  Entah ini titisan gen dari mana, makanan itu semacam unsur yang harus ada dalam ritual nonton.  Jadi begitu Citoku ngajak nonton bareng, saya seneng banget lah.  Cociks pisan buat temen nonton.


Nah, karena camilannya udah ada, jadi saya tinggal ajak temen yang asik buat nonton.  Saya harus memilih salah satu temen, agak susah susah gampang soalnya temen-temen saya orangnya pada asik.  Siapa, ya.  Maunya sih ajak suami, tapi kondisi dia sekarang ga kuat kena AC dan ga boleh liat sinar yang datang tiba-tiba.  Ya, masalah medis.  Panjang lah kalau diceritain, padahal dia temen yang asik buat diajak diskusi abis nonton dan baca buku.  Diskusinya bisa panjang lebar dan kebawa-bawa mimpi, hahahaa. 


Mulai deh nge-daftar nama-nama, dari temen sma, kuliah, stuba, tobucil, saudara, blogger.  Saya coba kontak Ina, temen jaman SMA yang udah berabad lamanya ga pernah ngobrol dan jalan bareng.  Mungkin saya pikir ini momen yang pas buat ketemuan.  Soalnya saya termasuk orang yang kedul*pisan jalan bareng, belanja bareng, atau main-main ke rumah teman.  Bukan berarti ga kangen atau ga suka sama temen, kadang suka bingung kalo gitu teh mau ngapain.  Tapi kalau udah ketemu ya bawaanya pengen cerita-cerita sih dan denger banyak hal, masak bareng, nonton bareng, bikin kopi bareng.  Tapi karena “tanggung jawab” makin banyak (huh, Ima nih so gaya), kadang keinginan buat ketemu dan seru-seruan kaya gitu agak di rem. 


Jadi kesempatan ini, saya ajak Ina nonton dan dia mau.  Horeeeh! 


Kami nonton bareng di BEC 2, bioskopnya ada di lantai 3A.  Orang-orang sudah mulai datang dan ketemu beberapa orang yang saya kenal.  Kami semua ganti kaos merah khas Citoku dan ngikutin games dulu di studio.  Seru seruan lah.  Acaranya bisa kamu lihat di IG-nya Citoku di @temannontonku. 


MC melemparkan bungkus Ciktoku dan peserta yang nangkap bungkusnya maju ke depan dan ikut games.  Gamesnya seru, ngelatih fokus kita.  Dari 10 orang yang dapat lemparan bungkus Citoku, jadi peserta dan harus maju ke depan.  Aturannya, para  peserta berhitung bergantian, yang dapet giliran nyebutin angka ganjil harus bilang “Citoku”.  Ayooo… coba deh di rumah, kaya yang gampang, tapi malah jadi belibet bisa jadi karena deg deg an.  Yang gagal, balik ke kursi penonton dan dapat bingkisan.  Horeee.. Sampai yang tersisa 2 orang.  Saya termasuk yang gagal karena gak konsen.  Seru. 


Selesai permainan, film The Guardian of The Galaxi 2 mulai diputar.  Saya segera buka Citoku biar suara plastiknya gak ganggu penonton lain pas film berlangsung.  Lalu tentu saja mematikan handphone.  Ya, saya kan engga nonton di rumah tapi nonton di tempat umum, jadi harus jaga kenyamanan orang juga kan ya, gak bisa seenaknya.



Ini Tentang Filmnya


Sumber foto: Link ini


Film The Guardian of The Galaxi 2 ini gendre film action dan penuh limpahan musik tahun 70-an yang menjadi soundtrack setiap adegan.  Saya enjoy bangeeet.  Sebagian besar adegan dikemas komedi situasi dan slapstick, tampilan ini berhasil bikin saya ketawa-ketawa (ngakak tepatnya).  Bayangkan, di sebuah planet entah dimana, di tengah pertempuran, Rocket menyuruh Quills untuk mengambilkannya selotip buat nahan tombol bom.  Sambil melawan serangan sinar dan Peter Quill mencari-cari selotip yang entah dimana ke teman-temannya.  Situasi yang menggelikan.


Film dimulai dengan adegan sepasang manusia yang naik mobil berdua sambil nyanyi-nyanyi , musik klasik keluar dari audio mobilnya.  Lalu mereka berdua jalan kaki menuju tengah hutan.  Si laki-lakinya menanam bunga di tengah hutan. 


Kemudian adegan di lanjut ke tengah pertempuran di angkasa.  Baby Groot si pohon kecil yang kecil bermata bulat dan lucu, menyalakan lagu di sebuah tape jaman tahun 70-an khas bumi.  Ini yang jadi pertanyaan, bagaimana mungkin di tengah angkasa raya yang serba canggih para superhero ini punya radio tape, walkman dan kaset pita. 


Sumber foto: Disini


Baby Groot menari-nari santai mengikuti irama lagu klasik ditengah pertempuran teman-temannya yang sedang melawan monster-semacam cumi raksasa yang banyak lendirnya.  Tariannya makin nikmat mengikuti ketukan musik yang santai dan damai.  Sementara disekelilingnya, teman-teman Groot sedang bertempur.  Tentakel monster itu menyerang ke kiri, ke kanan, terlempar liar, situasi-situasi berbahaya yang mengancam Baby Groot sama sekali tidak terjadi.  Baby Groot tidak terluka sama sekali sampai si monster itu berhasil di tumbangkan oleh sekelompok The Guardian: Quills, Nebula, Gamora, Drex dan Rocket.  Banyak adegan yang menarik dan lucu. 


Adegan keras diiringi dengan musik yang ringan.  Penonton seperti dibawa untuk lebih santai menghadapi adegan-adegan yang penuh pertempuran, tokoh-tokoh yang mengerikan dan sadis. 

Film ini seolah menjelaskan situasi pertempuran merupakan bagian dari denyut nadi, hentakannya biasa dihadapi oleh para Guardian of The Galaxi.  Setiap babak ada saja kejutan yang  memicu adrenalin.  Musik pengiring ini, menyusupkan sisi “manusia” yang tidak bisa dihapus. 

Cerita ini menarik, saya menangkap kentalnya persahabatan diantara mereka di tengah pertempuran.  Meskipun dari awal kamu bakal melihat mereka selalu saling meledek, menghujat, menggoda, merendahkan satu sama lain dan ingin terlihat lebih hebat di hadapan temannya.  Kelakuannya ini sampe bisa mengancam nyawa mereka.  Meskipun begitu, ketika terancam oleh musuh, satu sama lain saling menjaga, memperhatikan dengan cara yang tak biasa bahkan berkesan kasar dan gak sopan.  Sampai-sampai salah satu tawanan mereka-Gamora- yang memperhatikan mereka selalu berantem sepanjang perjalanan.  Menganggap bahwa mereka berlima bukan teman, karena sepanjang perjalanan saling melontarkan hujatan satu sama lain. 


Banyak adegan yang lucu dan absurd.  Adegan paling bodor ketika Rocket menjelaskan ke Baby Groot tentang tombol bom yang harus di tekan di inti otak Ego.  Tapi Baby Groot gak ngerti-ngerti sampai Rocket kehilangan kesabaran lalu minta dicarikan selotip ke si Quills.  Selotip buat menahan tombol, biar tombol bahayanya tidak ditekan Baby Groot sehingga bisa menghancurkan seluruh planet dengan cepat.  

Situasinya, para The Guardian ini sedang melawan Ego yang menyerang mereka dengan kekuatan yang super dahsyat.  Lalu Rocket berteriak ke Quills minta dicarikan selotip.  Quill menanyakan ke teman-temannya sambil berteriak, melawan, terbang ke kiri kanan, kena serangan, Rocket berteriak-teriak memberi petunjuk letak menyimpan selotip ke Quills.  Dialog ini kaya dua orang yang sedang ada di rumah bertingkat dua, orang 1 lagi di lantai satu dan orang 2 lagi di lantai dua.  Minta tolong sambil marah-marah dan yang satu lagi frustasi karena tidak menemukan benda yang dicarinya.  Dialog itu dibawa ke situasi di tengah pertempuran di sebuah angkasa.  Absud pisaan, ini salah satu adegan yang bikin saya ketawa-ketawa. 


Meskipun sepanjang adegan banyak menunjukan satu sama lain saling menjatuhkan, meledek, marah-marahan.  Tapi saat salah satu terancam nyawanya, semua berusaha menyelamatkan dan saling melindungi.  Mereka tidak mau kehilangan teman mereka. 

Inti film ini, para penjaga galaksi ini dikejar dan diserang oleh musuhnya.  Lalu ada seseorang yang menyelamatkan mereka dengan menghancuran semua pesawat penyerang, sampai akhirnya pesawat yang ditumpangi The Guardian ini terdampar di sebuah planet.  Di planet ini mereka bertemu dengan laki-laki namanya Ego, dialah yang menyelamatkan serangan para musuh sewaktu di angkasa.  Rupanya, Ego ini adalah ayahnya.  Ego menjelaskan dan memperlihatkan sebuah bukti bahwa Quills adalah anaknya.  Disini konflik muncul, siapa sebenarnya Ego, apa tujuannya hidup menyamar menjadi manusia sehingga bisa membuahi manusia dan melahirkan seorang anak laki-laki: Quills.  

Quills yang terobsesi ingin bertemu dengan ayahnya merasa hidupnya lebih lengkap dan bahagia.  Tapi, dibalik semua itu justru mengancam hidup Quills.  Teman-temannya tidak tinggal diam, mereka menyerang Ego dan menyelamatkan Quills.  Berhasil atau tidak, kamu harus nonton. 

Karena, kamu bakal liat bentuk persahabatan yang beda diantara mereka, cara ungkap dan menunjukan sikap yang berkesan saling benci.  Buat kita yang punya tafsir kalau bersikap ke sahabat itu manis, lucu, penuh canda tawa dan asik.  Justru kita gak melihat gambaran persahabatan kaya gitu diantara mereka, kecuali ketika bicara ke Baby Groot.  Semua bersikap manis dan baik.  Di film ini, kamu akan disuguhkan sisi lembut the Guardian ketika salah satu temannya tak selamat. 


Musik The Father and Son versi Cat Steven (Yusuf Islam) pun menutup adegan The Guardian of The Galaxi.  Ini, memeras hati dan mengoyak jiwa terdalam.  Hiks.


@imatakubesar  


Tentang Persahabatan: The Guardian of The Galaxi 2

Yonda: “Saya tidak menggerakan panah degan pikiran tapi dengan hati”

Sumber foto: disini

Ini adalah salah satu dialog salah satu tokoh di film The Guardian of The Galaxi.  Dialog keluar ketika pertempuran masuk pada situasi paling genting.  Satu persatu teman-team superhero terancam mati.  Sementara Quills masih belum bisa menggunakan kekuatan super yang baru saja dia dapatkan untuk melawan musuhnya.  Ketika Yonda nyaris mati, dia memberi petunjuk pada Quills bagaimana dia mengontrol panahnya sehingga tepat sasaran dan menyadarkan Quills cara mengolah kekuatannya itu. 


Film yang dipenuhi adegan pertempuran para superhero ini intinya tentang hati.  Cinta, harapan, obsesi, impian masing-masing tokoh di tengah-tengah situasi serius, keras, kejam dan penuh pertempuran di angkasa raya sekaligus dikemas dengan komedi situasi yang segar.



Nobar Citoku: Teman Nontonku


Saya dapat tiket nonton bareng Citoku di BEC.  Engga tau yah, saya ini kalau mau nonton bawaanya harus perfect (Haha!).  Agak-agak ‘menyebalkan’ memang.  Kalau kata film Janji Jhoni mah, bisa jadi saya termasuk penonton piknik.  Kategori penonton piknik itu, dia selalu bawa makanan dan minuman sambil menikmati tontonan.  Kalau boleh bawa makanan dari luar, saya mau bawa martabak, hahhaaaa… engga lah engga se ekstrim itu, kalo di rumah… iya, hehee, martabak atau gorengan atau seputar kriuk kriuk kaya Citoku.  Pembelaannya mungkin karena saya mau mengapresiasi karya seni kali, ya, jadi butuh sedikit banyak energi.  Entah ini titisan gen dari mana, makanan itu semacam unsur yang harus ada dalam ritual nonton.  Jadi begitu Citoku ngajak nonton bareng, saya seneng banget lah.  Cociks pisan buat temen nonton.


Nah, karena camilannya udah ada, jadi saya tinggal ajak temen yang asik buat nonton.  Saya harus memilih salah satu temen, agak susah susah gampang soalnya temen-temen saya orangnya pada asik.  Siapa, ya.  Maunya sih ajak suami, tapi kondisi dia sekarang ga kuat kena AC dan ga boleh liat sinar yang datang tiba-tiba.  Ya, masalah medis.  Panjang lah kalau diceritain, padahal dia temen yang asik buat diajak diskusi abis nonton dan baca buku.  Diskusinya bisa panjang lebar dan kebawa-bawa mimpi, hahahaa. 


Mulai deh nge-daftar nama-nama, dari temen sma, kuliah, stuba, tobucil, saudara, blogger.  Saya coba kontak Ina, temen jaman SMA yang udah berabad lamanya ga pernah ngobrol dan jalan bareng.  Mungkin saya pikir ini momen yang pas buat ketemuan.  Soalnya saya termasuk orang yang kedul*pisan jalan bareng, belanja bareng, atau main-main ke rumah teman.  Bukan berarti ga kangen atau ga suka sama temen, kadang suka bingung kalo gitu teh mau ngapain.  Tapi kalau udah ketemu ya bawaanya pengen cerita-cerita sih dan denger banyak hal, masak bareng, nonton bareng, bikin kopi bareng.  Tapi karena “tanggung jawab” makin banyak (huh, Ima nih so gaya), kadang keinginan buat ketemu dan seru-seruan kaya gitu agak di rem. 


Jadi kesempatan ini, saya ajak Ina nonton dan dia mau.  Horeeeh! 


Kami nonton bareng di BEC 2, bioskopnya ada di lantai 3A.  Orang-orang sudah mulai datang dan ketemu beberapa orang yang saya kenal.  Kami semua ganti kaos merah khas Citoku dan ngikutin games dulu di studio.  Seru seruan lah.  Acaranya bisa kamu lihat di IG-nya Citoku di @temannontonku. 


MC melemparkan bungkus Ciktoku dan peserta yang nangkap bungkusnya maju ke depan dan ikut games.  Gamesnya seru, ngelatih fokus kita.  Dari 10 orang yang dapat lemparan bungkus Citoku, jadi peserta dan harus maju ke depan.  Aturannya, para  peserta berhitung bergantian, yang dapet giliran nyebutin angka ganjil harus bilang “Citoku”.  Ayooo… coba deh di rumah, kaya yang gampang, tapi malah jadi belibet bisa jadi karena deg deg an.  Yang gagal, balik ke kursi penonton dan dapat bingkisan.  Horeee.. Sampai yang tersisa 2 orang.  Saya termasuk yang gagal karena gak konsen.  Seru. 


Selesai permainan, film The Guardian of The Galaxi 2 mulai diputar.  Saya segera buka Citoku biar suara plastiknya gak ganggu penonton lain pas film berlangsung.  Lalu tentu saja mematikan handphone.  Ya, saya kan engga nonton di rumah tapi nonton di tempat umum, jadi harus jaga kenyamanan orang juga kan ya, gak bisa seenaknya.



Ini Tentang Filmnya


Sumber foto: Link ini


Film The Guardian of The Galaxi 2 ini gendre film action dan penuh limpahan musik tahun 70-an yang menjadi soundtrack setiap adegan.  Saya enjoy bangeeet.  Sebagian besar adegan dikemas komedi situasi dan slapstick, tampilan ini berhasil bikin saya ketawa-ketawa (ngakak tepatnya).  Bayangkan, di sebuah planet entah dimana, di tengah pertempuran, Rocket menyuruh Quills untuk mengambilkannya selotip buat nahan tombol bom.  Sambil melawan serangan sinar dan Peter Quill mencari-cari selotip yang entah dimana ke teman-temannya.  Situasi yang menggelikan.


Film dimulai dengan adegan sepasang manusia yang naik mobil berdua sambil nyanyi-nyanyi , musik klasik keluar dari audio mobilnya.  Lalu mereka berdua jalan kaki menuju tengah hutan.  Si laki-lakinya menanam bunga di tengah hutan. 


Kemudian adegan di lanjut ke tengah pertempuran di angkasa.  Baby Groot si pohon kecil yang kecil bermata bulat dan lucu, menyalakan lagu di sebuah tape jaman tahun 70-an khas bumi.  Ini yang jadi pertanyaan, bagaimana mungkin di tengah angkasa raya yang serba canggih para superhero ini punya radio tape, walkman dan kaset pita. 


Sumber foto: Disini


Baby Groot menari-nari santai mengikuti irama lagu klasik ditengah pertempuran teman-temannya yang sedang melawan monster-semacam cumi raksasa yang banyak lendirnya.  Tariannya makin nikmat mengikuti ketukan musik yang santai dan damai.  Sementara disekelilingnya, teman-teman Groot sedang bertempur.  Tentakel monster itu menyerang ke kiri, ke kanan, terlempar liar, situasi-situasi berbahaya yang mengancam Baby Groot sama sekali tidak terjadi.  Baby Groot tidak terluka sama sekali sampai si monster itu berhasil di tumbangkan oleh sekelompok The Guardian: Quills, Nebula, Gamora, Drex dan Rocket.  Banyak adegan yang menarik dan lucu. 


Adegan keras diiringi dengan musik yang ringan.  Penonton seperti dibawa untuk lebih santai menghadapi adegan-adegan yang penuh pertempuran, tokoh-tokoh yang mengerikan dan sadis. 

Film ini seolah menjelaskan situasi pertempuran merupakan bagian dari denyut nadi, hentakannya biasa dihadapi oleh para Guardian of The Galaxi.  Setiap babak ada saja kejutan yang  memicu adrenalin.  Musik pengiring ini, menyusupkan sisi “manusia” yang tidak bisa dihapus. 

Cerita ini menarik, saya menangkap kentalnya persahabatan diantara mereka di tengah pertempuran.  Meskipun dari awal kamu bakal melihat mereka selalu saling meledek, menghujat, menggoda, merendahkan satu sama lain dan ingin terlihat lebih hebat di hadapan temannya.  Kelakuannya ini sampe bisa mengancam nyawa mereka.  Meskipun begitu, ketika terancam oleh musuh, satu sama lain saling menjaga, memperhatikan dengan cara yang tak biasa bahkan berkesan kasar dan gak sopan.  Sampai-sampai salah satu tawanan mereka-Gamora- yang memperhatikan mereka selalu berantem sepanjang perjalanan.  Menganggap bahwa mereka berlima bukan teman, karena sepanjang perjalanan saling melontarkan hujatan satu sama lain. 


Banyak adegan yang lucu dan absurd.  Adegan paling bodor ketika Rocket menjelaskan ke Baby Groot tentang tombol bom yang harus di tekan di inti otak Ego.  Tapi Baby Groot gak ngerti-ngerti sampai Rocket kehilangan kesabaran lalu minta dicarikan selotip ke si Quills.  Selotip buat menahan tombol, biar tombol bahayanya tidak ditekan Baby Groot sehingga bisa menghancurkan seluruh planet dengan cepat.  

Situasinya, para The Guardian ini sedang melawan Ego yang menyerang mereka dengan kekuatan yang super dahsyat.  Lalu Rocket berteriak ke Quills minta dicarikan selotip.  Quill menanyakan ke teman-temannya sambil berteriak, melawan, terbang ke kiri kanan, kena serangan, Rocket berteriak-teriak memberi petunjuk letak menyimpan selotip ke Quills.  Dialog ini kaya dua orang yang sedang ada di rumah bertingkat dua, orang 1 lagi di lantai satu dan orang 2 lagi di lantai dua.  Minta tolong sambil marah-marah dan yang satu lagi frustasi karena tidak menemukan benda yang dicarinya.  Dialog itu dibawa ke situasi di tengah pertempuran di sebuah angkasa.  Absud pisaan, ini salah satu adegan yang bikin saya ketawa-ketawa. 


Meskipun sepanjang adegan banyak menunjukan satu sama lain saling menjatuhkan, meledek, marah-marahan.  Tapi saat salah satu terancam nyawanya, semua berusaha menyelamatkan dan saling melindungi.  Mereka tidak mau kehilangan teman mereka. 

Inti film ini, para penjaga galaksi ini dikejar dan diserang oleh musuhnya.  Lalu ada seseorang yang menyelamatkan mereka dengan menghancuran semua pesawat penyerang, sampai akhirnya pesawat yang ditumpangi The Guardian ini terdampar di sebuah planet.  Di planet ini mereka bertemu dengan laki-laki namanya Ego, dialah yang menyelamatkan serangan para musuh sewaktu di angkasa.  Rupanya, Ego ini adalah ayahnya.  Ego menjelaskan dan memperlihatkan sebuah bukti bahwa Quills adalah anaknya.  Disini konflik muncul, siapa sebenarnya Ego, apa tujuannya hidup menyamar menjadi manusia sehingga bisa membuahi manusia dan melahirkan seorang anak laki-laki: Quills.  

Quills yang terobsesi ingin bertemu dengan ayahnya merasa hidupnya lebih lengkap dan bahagia.  Tapi, dibalik semua itu justru mengancam hidup Quills.  Teman-temannya tidak tinggal diam, mereka menyerang Ego dan menyelamatkan Quills.  Berhasil atau tidak, kamu harus nonton. 

Karena, kamu bakal liat bentuk persahabatan yang beda diantara mereka, cara ungkap dan menunjukan sikap yang berkesan saling benci.  Buat kita yang punya tafsir kalau bersikap ke sahabat itu manis, lucu, penuh canda tawa dan asik.  Justru kita gak melihat gambaran persahabatan kaya gitu diantara mereka, kecuali ketika bicara ke Baby Groot.  Semua bersikap manis dan baik.  Di film ini, kamu akan disuguhkan sisi lembut the Guardian ketika salah satu temannya tak selamat. 


Musik The Father and Son versi Cat Steven (Yusuf Islam) pun menutup adegan The Guardian of The Galaxi.  Ini, memeras hati dan mengoyak jiwa terdalam.  Hiks.


@imatakubesar  


Tips Memilih Baju Koko yang Keren Untuk Ayah

Suasana Ramadhan mulai terasa nih, di mini market dekat rumah mulai menjual kurma, kue-kue kalengan dan syrup di rak khusus.  Harga-harga bahan pokok di pasar sederhana mulai merangkak naik.  Ucapan menjelang Ramadhan dari teman-teman bertebaran di pesan singkat, WhatUp, juga timeline media sosial.  Menjelang Ramadhan artinya tidak hanya menjalani puasa, tapi juga persiapan menyambut hari raya.  Dari menyiapkan baju yang keren, makanan enak dan persiapan pulang kampung.

Ayah (panggilan anak-anak buat suami) termasuk orang yang cuek, tidak terlalu punya keinginan beli baju baru.  Waktu saya menawarkan beli baju koko keren buat Ied nanti, dia bilang,
“Tenang aja, ada baju koko syukur, yang ada juga masih enak dipakai, kok.  Lagian Ayah kan sehari-hari di rumah. ”  
Mungkin karena dia ‘males’ harus pergi ke toko dan memilih pakaian itu kadang-kadang menguras energi.  Sejak Ayah ada masalah medis, dia belum bisa beraktifitas seperti layaknya orang-orang.  Jadi untuk mengisi hari-harinya, dia memilih menekuni dunia drawing.  Sendiri, sunyi, kadang rame oleh suara celoteh dan tawa anak-anak saja.  Rupanya aktifitas ini cocok dengan fungsi tubuh dan mentalnya.  
Sehari-hari aktifitas di depan rumah yang disulap jadi studio gambar.  Jadi pakaian yang digunakan Ayah seputar t-shirt, kemeja santai, sweater dipadukan dengan sarung maupun celana pendek.  Buat dia, yang penting enak dan nyaman di badan.  Koleksi kemeja dan celana panjang pensiun menemani hari-hari Ayah.  Kemeja  maupun baju koko biasanya dipakai begitu harus keluar rumah, seperti kontrol bulanan ke dokter, shalat Jumat, menenuhi undangan pernikahan dan perjalanan pulang ke kampung halamannya.  

Ayah ini sifatnya eazy going, tapi dibalik sifatnya itu kadang lebih susah memilihkan baju yang keren versi dia.  Mungkin karena Ayah cukup peka sama desain, selera seninya juga cukup tinggi, seringkali pilihan baju jatuh pada desain yang engga gampang di tebak.  Kadang modelnya simple banget seperti polos hitam dengan kancing yang minimalis, kadang aplikasi baju koko yang dia pilih unik seperti aplikasi batik dengan bentuk yang dinamis.  Jadi, seringkali pilihan saya suka engga tepat, karena selera dia cenderung berubah-ubah, tapi yang paling aman sih saya bakal pilihkan baju koko warna hitam, polos.  
Karena sekarang dia engga bisa jalan kaki terlalu lama dan melihat kerumunan orang yang cukup banyak.  Jadi saya ajak dia buat liat-lihat toko online.  Banyak pilihan produk yang ditawarkan termasuk baju koko.  Di toko online ini tidak hanya memperlihatkan foto produk saja, tapi spesifikasi produknya cukup jelas dan jumlah barang yang tersedia.  Jadi kita tinggal memilih thubnail dan fokus kategori  produk-produk yang kita cari.  Seperti, baju muslim.  Baju muslim ini terbagi  jadi baju muslim pria dan baju muslim wanita.
Karena fokusnya mencari baju koko keren pilihan Ayah, saya tinggal buka web toko online lalu klik kategori fashion.  Dari fashion ini klik baju koko.   Sudah.  Pas Ayah lagi duduk santai, sambil minum teh hangat dan camilan, dia tinggal pilah pilih.  
Ada beberapa tips nih memilihkan baju koko untuk Ayah:
  1. Kenali sifatnya: ekstrovert atau introvert
Baju yang dia pakai akan memperkuat karakternya.  Kalau desain pakaian tidak sesuai dengan sifatnya, biasanya si Ayah jadi tidak begitu menarik.  Kurang menyatu.  Ada baju yang keren tapi ketika dipakai sama Ayah jadi ‘engga banget’ tapi ketika dipakai oleh yang lain terlihat lebih cocok.  Biasanya, kalau dia sudah ngerasa cocok, baju itu akan dipakai berulang-ulang sampai belel, begitu pun sebaliknya.  Kalau tidak cocok, baju itu akan terlipat rapi sangat lama di lemari pakaian.
  1. Kenali bentuk badannya
Kalau besar, ambil baju yang warnanya kalem dan netral untuk menghidari kesalahan dalam memilih, seperti, warna coklat, khaki, hitam bisa jadi pilihan yang tepat.  
  1. Kenali lingkungan kerjanya
Seringkali nih, lingkungan kerja akan saling menularkan sifat dan selera.  Tidak hanya kaum wanita, trend baju di lingkungan pria pun cenderung saling mempengaruhi.  Pria akan merasa ‘gaya’ ketika pakai baju dengan merk maupun model baju yang lagi trend.
  1. Kenali merk-merk baju pria
Sesekali kita baca deh majalah maupun website pria.  Disana bertebaran baju-baju dan style pria dengan berbagai gendre.  Gaya baju Ayah yang seniman dan gaya baju Ayah seorang guru, tentu akan beda.  Seniman cenderung lebih terlihat free style, sementara guru lebih rapi.
Yang saya perhatikan, berdasarkan perkembangan dan adaptasi budaya, model baju koko kini engga cuma warna hitam dan putih polos.  Tapi variasinya semakin banyak, tak kalah tredy dan menarik banyak peminat.  Jadi, baju koko engga cuma bisa digunakan di bulan Ramadhan saja atau hari Jumat, tapi digunakan di sekolah, di tempat kerja, dan aktifitas sehari-hari.  

@imatakubesar
Sumber foto: mm

Tips Memilih Baju Koko yang Keren Untuk Ayah

Suasana Ramadhan mulai terasa nih, di mini market dekat rumah mulai menjual kurma, kue-kue kalengan dan syrup di rak khusus.  Harga-harga bahan pokok di pasar sederhana mulai merangkak naik.  Ucapan menjelang Ramadhan dari teman-teman bertebaran di pesan singkat, WhatUp, juga timeline media sosial.  Menjelang Ramadhan artinya tidak hanya menjalani puasa, tapi juga persiapan menyambut hari raya.  Dari menyiapkan baju yang keren, makanan enak dan persiapan pulang kampung.

Ayah (panggilan anak-anak buat suami) termasuk orang yang cuek, tidak terlalu punya keinginan beli baju baru.  Waktu saya menawarkan beli baju koko keren buat Ied nanti, dia bilang,
“Tenang aja, ada baju koko syukur, yang ada juga masih enak dipakai, kok.  Lagian Ayah kan sehari-hari di rumah. ”  
Mungkin karena dia ‘males’ harus pergi ke toko dan memilih pakaian itu kadang-kadang menguras energi.  Sejak Ayah ada masalah medis, dia belum bisa beraktifitas seperti layaknya orang-orang.  Jadi untuk mengisi hari-harinya, dia memilih menekuni dunia drawing.  Sendiri, sunyi, kadang rame oleh suara celoteh dan tawa anak-anak saja.  Rupanya aktifitas ini cocok dengan fungsi tubuh dan mentalnya.  
Sehari-hari aktifitas di depan rumah yang disulap jadi studio gambar.  Jadi pakaian yang digunakan Ayah seputar t-shirt, kemeja santai, sweater dipadukan dengan sarung maupun celana pendek.  Buat dia, yang penting enak dan nyaman di badan.  Koleksi kemeja dan celana panjang pensiun menemani hari-hari Ayah.  Kemeja  maupun baju koko biasanya dipakai begitu harus keluar rumah, seperti kontrol bulanan ke dokter, shalat Jumat, menenuhi undangan pernikahan dan perjalanan pulang ke kampung halamannya.  

Ayah ini sifatnya eazy going, tapi dibalik sifatnya itu kadang lebih susah memilihkan baju yang keren versi dia.  Mungkin karena Ayah cukup peka sama desain, selera seninya juga cukup tinggi, seringkali pilihan baju jatuh pada desain yang engga gampang di tebak.  Kadang modelnya simple banget seperti polos hitam dengan kancing yang minimalis, kadang aplikasi baju koko yang dia pilih unik seperti aplikasi batik dengan bentuk yang dinamis.  Jadi, seringkali pilihan saya suka engga tepat, karena selera dia cenderung berubah-ubah, tapi yang paling aman sih saya bakal pilihkan baju koko warna hitam, polos.  
Karena sekarang dia engga bisa jalan kaki terlalu lama dan melihat kerumunan orang yang cukup banyak.  Jadi saya ajak dia buat liat-lihat toko online.  Banyak pilihan produk yang ditawarkan termasuk baju koko.  Di toko online ini tidak hanya memperlihatkan foto produk saja, tapi spesifikasi produknya cukup jelas dan jumlah barang yang tersedia.  Jadi kita tinggal memilih thubnail dan fokus kategori  produk-produk yang kita cari.  Seperti, baju muslim.  Baju muslim ini terbagi  jadi baju muslim pria dan baju muslim wanita.
Karena fokusnya mencari baju koko keren pilihan Ayah, saya tinggal buka web toko online lalu klik kategori fashion.  Dari fashion ini klik baju koko.   Sudah.  Pas Ayah lagi duduk santai, sambil minum teh hangat dan camilan, dia tinggal pilah pilih.  
Ada beberapa tips nih memilihkan baju koko untuk Ayah:
  1. Kenali sifatnya: ekstrovert atau introvert
Baju yang dia pakai akan memperkuat karakternya.  Kalau desain pakaian tidak sesuai dengan sifatnya, biasanya si Ayah jadi tidak begitu menarik.  Kurang menyatu.  Ada baju yang keren tapi ketika dipakai sama Ayah jadi ‘engga banget’ tapi ketika dipakai oleh yang lain terlihat lebih cocok.  Biasanya, kalau dia sudah ngerasa cocok, baju itu akan dipakai berulang-ulang sampai belel, begitu pun sebaliknya.  Kalau tidak cocok, baju itu akan terlipat rapi sangat lama di lemari pakaian.
  1. Kenali bentuk badannya
Kalau besar, ambil baju yang warnanya kalem dan netral untuk menghidari kesalahan dalam memilih, seperti, warna coklat, khaki, hitam bisa jadi pilihan yang tepat.  
  1. Kenali lingkungan kerjanya
Seringkali nih, lingkungan kerja akan saling menularkan sifat dan selera.  Tidak hanya kaum wanita, trend baju di lingkungan pria pun cenderung saling mempengaruhi.  Pria akan merasa ‘gaya’ ketika pakai baju dengan merk maupun model baju yang lagi trend.
  1. Kenali merk-merk baju pria
Sesekali kita baca deh majalah maupun website pria.  Disana bertebaran baju-baju dan style pria dengan berbagai gendre.  Gaya baju Ayah yang seniman dan gaya baju Ayah seorang guru, tentu akan beda.  Seniman cenderung lebih terlihat free style, sementara guru lebih rapi.
Yang saya perhatikan, berdasarkan perkembangan dan adaptasi budaya, model baju koko kini engga cuma warna hitam dan putih polos.  Tapi variasinya semakin banyak, tak kalah tredy dan menarik banyak peminat.  Jadi, baju koko engga cuma bisa digunakan di bulan Ramadhan saja atau hari Jumat, tapi digunakan di sekolah, di tempat kerja, dan aktifitas sehari-hari.  

@imatakubesar
Sumber foto: mm
No Thumbnail

Hindari Denda Kartu Kredit Dengan Jurus Ampuh Ini !!

  Para pengguna kartu kredit tentunya sudah tau akan resiko mendapatkan denda ketika melewatkan atau melenceng dari kesepakatan. Besarnya denda ini terbilang cukup tinggi. Makanya tidak heran bila banyak masyarakat yang sering mengeluh karena biaya denda yang terlalu besar. Hal ini sebenarnya cukup aneh. Denda kartu kredit HSBC tentu tidak akan muncul ketika pengguna menjalankan… Read More »