Browse By

Monthly Archives: November 2016

No Thumbnail

Dengan Shop and Drive, Aki Soak Gak Usah Norak

Teman-teman, pernah nyobain nebelin muka setebel-tebelnya alias cuek-cuekin diri dari rasa malu setengah mati, gak? Saya pernah. Pernah banget. Waktu itu, sekitar tahun 2000-an. Suatu hari saat saya diajak seorang temen jalan-jalan pake mobil barun…

No Thumbnail

Dengan Shop and Drive, Aki Soak Gak Usah Norak

Teman-teman, pernah nyobain nebelin muka setebel-tebelnya alias cuek-cuekin diri dari rasa malu setengah mati, gak? Saya pernah. Pernah banget. Waktu itu, sekitar tahun 2000-an. Suatu hari saat saya diajak seorang temen jalan-jalan pake mobil barun…

No Thumbnail

Aki Kendaraan Baik, Pengobatan Pun Jalan

Ayah.  Foto: Ima

Maret 2014, kami tinggal di rumah Teh Embay dan Wa Alwis (demikian saya memanggilnya), mereka adalah kakak ipar saya.  Upaya ini dilakukan dalam rangka pengobatan dan perawatan optimal untuk Ayah (suami saya).  Saat itu priotas saya adalah Ayah, kesembuhan Ayah.  Ceritanya panjang alasan kami “hijrah” dari Bandung ke Tangsel.  Alasan kuatnya, Ayah sakit, ada benjolan di saraf kiri otaknya, hal ini membuat tubuh dan mentalnya serba rentan.  Sekarang dia sudah bebas dari gangguan benjolan itu, keadaannnya jauh lebih baik setelah melakukan pengobatan sana sini dan sekarang sudah ada di Bandung lagi.

Awal tahun 2014, keadaan fisiknya yang tidak bisa beradaptasi dengan udara dingin dan beberapa situasi yang tak bisa dihadapi oleh Ayah. Hasil diskusi saya dengan Teh Embay dengan berbagai pertimbangan, saat itu kami memutuskan untuk membawa dia ke Tangsel, tinggal di rumahnya Teh Embay. Disana udaranya cukup panas dan setidaknya bisa menangani satu masalah yang bisa mengganggu pemicu nge-drop keadaan fisiknya. 

Suasana tempat dia tinggal, harus benar-benar membuatnya nyaman, jangan sampai terdengar hal-hal yang membuatnya sedih, takut, khawatir, atau menunjukan rasa haru. Kesimpulan ini berdasarkan beberapa situasi yang membuatnya drop, contohnya, melihat saya panik saja, langsung tubuhnya merespons jadi lemah dan muncul aura kejang.  Selama di Tangsel, keadaan benar-benar kami jaga.

Agar saya fokus memantau, mencari tempat-tempat pengobatan dan mengurus Ayah, kedua anak saya dititip ke kakak-kakak saya di Bandung. Segala keputusan kami buat, mau tidak mau, kami pun harus menjalankan ini. 

Karena benjolan itulah, dia tiba-tiba mendapat serangan kejang berulang-ulang hingga drop dan koma. Ayah dibawa ke Rumah Sakit Rajawali dan dilakukan penanganan selama 4 hari, lalu selanjutnya dipindahkan ke Rumah Sakit Borromeus.  Dia harus rawat inap selama 9 hari. Meskipun sudah diperbolehkan pulang, keadaan fisik Ayah belumlah pulih benar. Paska koma, muncul gangguan bicara dan sulit berjalan. Selain fungsi fisiknya yang rentan, psikisnya pun seperti telur merah. “Tersentuh” sedikit, pecahlah dia. Dia tidak bisa menghadapi situasi yang terlalu bahagia dan tidak bisa terlalu sedih, jika itu terjadi, maka kondisi fisiknya menurun.

Keadaan itu yang kami jaga, pergi kemana-mana untuk kebutuhan berobat harus menggunakan kendaraan pribadi. Dia tidak bisa bertemu banyak orang, tak bisa menghadapi suasana yang crowded. Situasi tempat dia tinggal harus benar-benar kondusif, tenang dan pembawaan riang gembira, tenang, positif dan penuh semangat . Kebutuhan kendaraan pribadi menjadi hal yang penting dan suasana perjalanan harus dibuat nyaman. Jadi, kami benar-benar mempersiapkan kondisi kendaraan dalam keadaan fit. Seperti band mobil, aki, oli, dan kebersihan mobilnya.

Awal-awal di Tangsel, saya, Teh Embay dan Wa Alwis diskusi panjang lebar dan melakukan beberapa langkah. Merangkai berbagai tanda dan cari info sana sini, melalui jaringan pertemanan, keluarga, browsing dan mencari berbagai pandangan orang-orang. Saya coba “tangkap” beberapa pesan itu untuk kemungkinan langkah yang akan kami buat. Berpacu dengan waktu, kami pun mulai mencari pengobatan medis, membandingan beberapa pengobatan alternatif dari herbal hingga tenaga dalam.

Setelah mempertimbangan banyak hal, kami pun memutuskan untuk menggunakan herbal sebagai pengobatan alternatif untuk menangani penyakit Ayah di Jakarta.  Kamipun membawa Ayah ke Jakarta, diperiksa, dianalisa dan kami akhirnya membeli obat herbal tersebut. Sambil mengonsumsi herbal, 7 hari sekali Ayah harus melakukan rawat jalan sebagai upaya pengontrolan ke RS Borromeus Bandung. Setiap hari ke-7, Abah (Bapak mertua) selalu mengirim mobil dan supir untuk mengantar kami ke Bandung. Itulah yang membuat kami bisa bolak balik Tangsel Bandung.  Mau tidak mau, kendaraan ini harus stand by, harus fit.  Aki, oli, bensin, keadaan ban selalu kami periksa.

Respons tubuh ayah terhadap herbal itu baik, waktu 7 hari pertama, respons tubuhnya cukup melesat. Lalu 7 hari kedua pita suaranya bertahap membaik dan jalannya tidak lagi dipegang. Kemudian, 7 hari minggu ketiga jalannya semakin lancar dan pita suara semakin bulat. 7 hari minggu keempat, suaranya benar-benar bulat dan jalannya semakin yakin dan fisiknya semakin fit. Ya, Ayah bisa jalan dan bisa bicara lagi. Sebulan hampir 4 kali bolak balik untuk rawat jalan.  Lalu, dokter memutuskan untuk rawat jalan sebulan sekali.  Setelah ada keputusan itu, saya boyong anak-anak untuk pindah tinggal ke Pandeglang (rumah mertua).  Alasannya masih sama, karena cuaca di Pandeglang panas dan suasana lingkungan santri memberi energi yang postif buat Ayah.  Memory masa kecil yang menyenangkan, bisa memicu semangat untuk jiwanya.

Sejak itu, kami menjadi akrab dengan situasi jalanan. Pandeglang-Bandung, Pandeglang Jakarta, jarak tak jadi masalah, saya semakin terbiasa.  Lebih santai dalam menghadapi berbagai perjalanan untuk mengikuti jadwal berobat.  Kepala saya seperti sudah menjadi robot, harus menyiapkan a, b, c, d.  Saat itu, proses pengobatan menjadi prioritas, segala hal disiapkan, mobil, makanan berat yang fresh, camilan, obat-obatan, baju ganti, medical cek up. 


Setelah 4 bulan kami tinggal di Pandeglang, Ayah drop lagi.  Tak disangka ada seorang teman Ayah sewaktu kuliah dulu, Denta, menawarkan dan mengajak Ayah untuk berobat di tempat akupunktur ibunya tanpa bayaran.  Atas kebesaran hati dan semangat semua keluarga, kami kembali tinggal di Tangsel dan mulai terapi akupuntur.  Setiap hari, selama 10 hari pertama kami bolak balik Tangsel-Meridien Depok. Selanjutnya terapi seminggu 3x, alhasil kami bolak balik Tangsel-Depok dan kami harus menempuh perjalanan 2-3 jam.

The Help.  gambar: Cholis


Kakak Ayah-Teh Embay-selalu siap sedia mengantar kami ke tujuan dengan menggunakan mobil pribadinya. Jika Teh Embay ada pekerjaan, kami biasanya suka menyewa supir dan mobilnya boleh kami gunakan. Biasanya, jika sebelum berangkat ke tempat pengobatan, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Saya biasanya masak makanan segar untuk makan di rumah dan bekal di perjalanan untuk 2 kali makan serta camilan. Ini harus, karena Ayah tidak bisa jajan atau beli makanan sembarangan. Begitu minum herbal dan akupunktur, ada beberapa pantangan makan yang harus dipatuhi, mau tidak mau saya harus memenuhi segala kebutuhan Ayah. Lalu menyiapkan herbal yang harus dikonsumsi untuk beberapa kali waktu makan obatnya. Dan alat transportasinya fit.

Suasana dan keadaan mobil dibuat senyaman mungkin, teman perjalanan kami kadang musik, penyiar radio pagi Gen FM yang bikin kami ketawa-ketawa, berita tivi di mobil dan film Frozen. Iya, Frozen ini bisa membuat anak-anak tenang. Karena Teh Embay punya anak seumuran Alif namanya Joya. Saat itu, Alif dan Joya berumur 5 tahunan. Masih belum sekolah dan selalu ngintil kemanapun para emaknya pergi. Jadi, Alif dan Joya, ikut kemanapun kami pergi. Film kartun dan camilan selalu sedia di mobil, agar mereka tenang dan Ayah pun lebih asik menempuh perjalanan. 

Bayangkan, kadang kami harus melakukan perjalanan dari Tangsel ke Jakarta, Tangsel ke Bandung, Tangsel ke Depok, Tangsel ke Ciledug, Tangsel ke Pandeglang. Sementara, kondisi Ayah tidak bisa kontak dengan banyak orang, artinya, dia tidak bisa naik transportasi umum. Kemana-mana harus menggunakan kendaraan pribadi. Biasanya, sebelum pergi kemana-mana, beberapa hal penting yang akan diperiksa oleh Teh Embay maupun Wa Alwis, isi bensin, oli, air dan aki mobil.  Kami tidak bisa membayangkan jika tiba-tiba aki habis, mogok, ban bocor sehingga perjalanan terganggu.  Setelah itu siap, kami pun berangkat.

Semua perjalanan terasa holistic. Tidak hanya tujuan pengobatan itu yang kami dapat, tapi setiap perjalanan yang kami lakukan memberi makna kehidupan yang dalam. Mobil Teh Embay dan mobil Abah menjadi saksi perjalanan kami.  Mungkin karena kami aki-nya jadi cepat habis, oli-nya jadi sering diganti.

Kendaraan jagoan milik kakak kami dan sesekali menggunakan mobil punya Abah, sangat membantu dan bersejarah sekali buat kami. Tanpa kendaraan dan kesediaan teteh kami tidak bisa melakukan pengobatan sana sini. Terutama waktu kami mulai memutuskan terapi akupunktur di Meridien Depok dan herbal di Ciledug.  Nyaris 80% kehidupan kami ada dijalanan untuk menempuh pengobatan Ayah.  Kami bisa menghabiskan waktu 6 jam pulang pergi.  


Setiap hari, kami melewati jalan yang sama.  Suasana perjalanan, beragam mobil yang memenuhi jalan tol, dari yang paling bagus hingga paling biasa. Kami sampai hafal tiap titik jalan, bengkel, ciri khas kota, bangunan-banguannya, mal-mal yang berjajar, cahaya pagi saat kami pergi dan sore saat kami pulang selesai terapi. Kami hanya mengenal kota saat pagi dan sore yang kerap bergerak rapat dan berlari.  Kecepatan tinggi di jalan tol, kadang membawa pikiran kemana-mana, seolah hidup saya akan seperti sisypus. Perjalanan tanpa akhir, absurd, tapi tetap kami jalani.  


Tapi, saat itu saya hanya berusaha mempertahankan pikiran dan menguatkan keyakinan, bahwa setiap masalah jika dihadapi pasti ada titik akhirnya.  Masuk ke dalamnya, pelajari, jalani, tega pada diri sedniri, percaya, lihat celah kebahagiaan diantaranya.

Foto: Ima

Jalan tol, jalan perkotaan, pedesaan, memberi pandangan sendiri bagi saya. Kakak kami- Teh Embay- dibalik tubuhnya yang kecil dan wajahnya yang tenang, selalu menularkan energi positif dan tahan banting.  Sejak awal bulan Agustus 2014 hingga Maret 2015, kami terus melakukan terapi akupunktur. Meskipun diantara proses itu, Abah sakit berat.  Perhatian keluarga terbelah, saya titipkan anak kedua ke keluarga di Bandung.  


Saat itu, saya menjalankan apa yang ada.  Begitu menjalankan akupunktur, kondisi fisik dan psikis Ayah banyak sekali perubahan, dia terlihat lebih bersemangat dan berenergi. Selain akupunktur, asupan makan tetap dijaga dengan pola makan food combining. Segala kemungkinan kami jalankan semaksimal mungkin.  Setiap ada masalah, dalam pikiran saya adalah solusi yang harus diambil lalu jalankan.

Setiap proses tidak selalu lancar, ada saja kejadian yang lucu dan menghambat upaya kami.  Pernah sampai suatu hari ada kejadian lucu, seperti biasa saya mulai masak jam 05.00 wib untuk sarapan di rumah dan bekal perjalanan menuju Depok. Buah-buahan dipotong dan dimasukan ke dalam kotak makan, obat-obatan dipersiapkan, medical cek up aman, baju ganti, makanan anak-anak sudah oke, minum mineral sudah terisi. Jadi setiap mau pergi kami bawa beberapa tas goodie bag, untuk bawa makanan, obat, baju, camilan.  

Setelah siap semua, kami tinggal menunggu Teh Embay turun dari kamar dan sambil nonton acara tipi. Tak lama, Wa Alwis turun dan pergi ke depan untuk memanaskan mobil, tapi ternyata mesin tidak menyala. Cek sana sini ternyata aki-nya mati. Padahal perkiraan Wa Alwis mestinya aki masih cukup. Ternyata setelah diingat-ingat, setelah Teh Embay pulang presentasi dari rumah temannya dan pulang larut. Seperti biasa, teteh pun segera naik ke kamarnya, sementara lampu bagian dalam mobilnya tetap hidup dan ini yang membuat aki habis.

Mobil jadi tidak bisa diapa-apakan, kami sempat panik dan bingung harus bagaimana. Padahal hari itu jadwalnya akupunktur, jadi ya sudahlah sepertinya jalan keluarnya cancel saja. Tapi untunglah salah satu diantara kami tenang dan tertawa-tawa, lalu memanfaatkan waktu beryoga sambil nonton acara televisi. Rupanya Wa Alwis sudah punya toko langganan untuk masalah aki dan oli, yaitu Call Shop and Drive-toko aki dan oli dari Astra Otoparts di 15-000-15. Kalau sekarang, Shop and Drive sudah menyediakan aplikasi sejak 2015, cara ini dilakukan untuk mempermudah konsumen.  Untuk pembayarannya pun sederhana, bisa cash, debit dan kredit.  Ini link aplikasi Shop and Drive, semua pemilik kendaraan pasti membutuhkan.  Karena seringkali kita lupa memperhatikan keadaan oli dan aki, tahu-tahu sudah soak.  Oya, klik link ini untuk download aplikasi: Klik disini.


Nomor telepon Shop and Drive ini sangat mudah sekali diingat, Astra Otoparts yang selalu siap sedia 24 jam. Tidak kenal malam, pagi, subuh, kapanpun, dimanapun, mereka siap melayani kebutuhan konsumen. Tak lama dihubungi, pihak GS Astra Otoparts datang sambil bawa aki dan sekaligus memasangkannya sambil memeriksa beberapa elemen mesin mobil. Ah, hari yang lucu. Setelah semua selesai dan aman, kami pun segera bersiap (kembali) dan berangkat ke Depok.

Pengalaman yang sangat berharga. Saya selalu percaya, bahwa setiap kejadian tidak ada yang kebetulan. Dibalik semua hal yang baik maupun buruk (versi manusia), pasti ada pelajaran yang berharga. Setiap unsur kehidupan tak ada yang kecil maupun besar, semua hal, sekeliling kita bekerja kolektif mendukung semua terwujud. Aku, kamu, kalian, mobil, tas, plastik, buah-buahan, obat, handphone, kunci mobil, bantal, film kartun, penyiar radio yang lucu, cahaya matahari, hujan,jarum-jarum akupunktur, orang-orang baik yang selalu mendoakan dan bergerak tiada henti. Terima kasih kehidupan, terima kasih segala perjalanan. Kamu mengajarkan, setiap waktu sangatlah berharga.

Yuk, 
Tulis dan ceritakan pengalaman berharga kamu, mungkin bagi kamu biasa saja, tapi belum tentu buat orang lain.  Selain bisa berbagi pengalaman, ceritanya bisa diikutkan ke Storytelling Competition Shop and Drive GS Astra.  Selalu ada hal yang baik disekeliling kita, sebarkan dengan cinta.  Untuk ikut berkompetisi, silahkan klik link berikut ini:

http://idblognetwork.com/microsite/shopndrive?refid=158

Bandung, 30 November 2016
@imatakubesar

No Thumbnail

Aki Kendaraan Baik, Pengobatan Pun Jalan

Ayah.  Foto: Ima

Maret 2014, kami tinggal di rumah Teh Embay dan Wa Alwis (demikian saya memanggilnya), mereka adalah kakak ipar saya.  Upaya ini dilakukan dalam rangka pengobatan dan perawatan optimal untuk Ayah (suami saya).  Saat itu priotas saya adalah Ayah, kesembuhan Ayah.  Ceritanya panjang alasan kami “hijrah” dari Bandung ke Tangsel.  Alasan kuatnya, Ayah sakit, ada benjolan di saraf kiri otaknya, hal ini membuat tubuh dan mentalnya serba rentan.  Sekarang dia sudah bebas dari gangguan benjolan itu, keadaannnya jauh lebih baik setelah melakukan pengobatan sana sini dan sekarang sudah ada di Bandung lagi.

Awal tahun 2014, keadaan fisiknya yang tidak bisa beradaptasi dengan udara dingin dan beberapa situasi yang tak bisa dihadapi oleh Ayah. Hasil diskusi saya dengan Teh Embay dengan berbagai pertimbangan, saat itu kami memutuskan untuk membawa dia ke Tangsel, tinggal di rumahnya Teh Embay. Disana udaranya cukup panas dan setidaknya bisa menangani satu masalah yang bisa mengganggu pemicu nge-drop keadaan fisiknya. 

Suasana tempat dia tinggal, harus benar-benar membuatnya nyaman, jangan sampai terdengar hal-hal yang membuatnya sedih, takut, khawatir, atau menunjukan rasa haru. Kesimpulan ini berdasarkan beberapa situasi yang membuatnya drop, contohnya, melihat saya panik saja, langsung tubuhnya merespons jadi lemah dan muncul aura kejang.  Selama di Tangsel, keadaan benar-benar kami jaga.

Agar saya fokus memantau, mencari tempat-tempat pengobatan dan mengurus Ayah, kedua anak saya dititip ke kakak-kakak saya di Bandung. Segala keputusan kami buat, mau tidak mau, kami pun harus menjalankan ini. 

Karena benjolan itulah, dia tiba-tiba mendapat serangan kejang berulang-ulang hingga drop dan koma. Ayah dibawa ke Rumah Sakit Rajawali dan dilakukan penanganan selama 4 hari, lalu selanjutnya dipindahkan ke Rumah Sakit Borromeus.  Dia harus rawat inap selama 9 hari. Meskipun sudah diperbolehkan pulang, keadaan fisik Ayah belumlah pulih benar. Paska koma, muncul gangguan bicara dan sulit berjalan. Selain fungsi fisiknya yang rentan, psikisnya pun seperti telur merah. “Tersentuh” sedikit, pecahlah dia. Dia tidak bisa menghadapi situasi yang terlalu bahagia dan tidak bisa terlalu sedih, jika itu terjadi, maka kondisi fisiknya menurun.

Keadaan itu yang kami jaga, pergi kemana-mana untuk kebutuhan berobat harus menggunakan kendaraan pribadi. Dia tidak bisa bertemu banyak orang, tak bisa menghadapi suasana yang crowded. Situasi tempat dia tinggal harus benar-benar kondusif, tenang dan pembawaan riang gembira, tenang, positif dan penuh semangat . Kebutuhan kendaraan pribadi menjadi hal yang penting dan suasana perjalanan harus dibuat nyaman. Jadi, kami benar-benar mempersiapkan kondisi kendaraan dalam keadaan fit. Seperti band mobil, aki, oli, dan kebersihan mobilnya.

Awal-awal di Tangsel, saya, Teh Embay dan Wa Alwis diskusi panjang lebar dan melakukan beberapa langkah. Merangkai berbagai tanda dan cari info sana sini, melalui jaringan pertemanan, keluarga, browsing dan mencari berbagai pandangan orang-orang. Saya coba “tangkap” beberapa pesan itu untuk kemungkinan langkah yang akan kami buat. Berpacu dengan waktu, kami pun mulai mencari pengobatan medis, membandingan beberapa pengobatan alternatif dari herbal hingga tenaga dalam.

Setelah mempertimbangan banyak hal, kami pun memutuskan untuk menggunakan herbal sebagai pengobatan alternatif untuk menangani penyakit Ayah di Jakarta.  Kamipun membawa Ayah ke Jakarta, diperiksa, dianalisa dan kami akhirnya membeli obat herbal tersebut. Sambil mengonsumsi herbal, 7 hari sekali Ayah harus melakukan rawat jalan sebagai upaya pengontrolan ke RS Borromeus Bandung. Setiap hari ke-7, Abah (Bapak mertua) selalu mengirim mobil dan supir untuk mengantar kami ke Bandung. Itulah yang membuat kami bisa bolak balik Tangsel Bandung.  Mau tidak mau, kendaraan ini harus stand by, harus fit.  Aki, oli, bensin, keadaan ban selalu kami periksa.

Respons tubuh ayah terhadap herbal itu baik, waktu 7 hari pertama, respons tubuhnya cukup melesat. Lalu 7 hari kedua pita suaranya bertahap membaik dan jalannya tidak lagi dipegang. Kemudian, 7 hari minggu ketiga jalannya semakin lancar dan pita suara semakin bulat. 7 hari minggu keempat, suaranya benar-benar bulat dan jalannya semakin yakin dan fisiknya semakin fit. Ya, Ayah bisa jalan dan bisa bicara lagi. Sebulan hampir 4 kali bolak balik untuk rawat jalan.  Lalu, dokter memutuskan untuk rawat jalan sebulan sekali.  Setelah ada keputusan itu, saya boyong anak-anak untuk pindah tinggal ke Pandeglang (rumah mertua).  Alasannya masih sama, karena cuaca di Pandeglang panas dan suasana lingkungan santri memberi energi yang postif buat Ayah.  Memory masa kecil yang menyenangkan, bisa memicu semangat untuk jiwanya.

Sejak itu, kami menjadi akrab dengan situasi jalanan. Pandeglang-Bandung, Pandeglang Jakarta, jarak tak jadi masalah, saya semakin terbiasa.  Lebih santai dalam menghadapi berbagai perjalanan untuk mengikuti jadwal berobat.  Kepala saya seperti sudah menjadi robot, harus menyiapkan a, b, c, d.  Saat itu, proses pengobatan menjadi prioritas, segala hal disiapkan, mobil, makanan berat yang fresh, camilan, obat-obatan, baju ganti, medical cek up. 


Setelah 4 bulan kami tinggal di Pandeglang, Ayah drop lagi.  Tak disangka ada seorang teman Ayah sewaktu kuliah dulu, Denta, menawarkan dan mengajak Ayah untuk berobat di tempat akupunktur ibunya tanpa bayaran.  Atas kebesaran hati dan semangat semua keluarga, kami kembali tinggal di Tangsel dan mulai terapi akupuntur.  Setiap hari, selama 10 hari pertama kami bolak balik Tangsel-Meridien Depok. Selanjutnya terapi seminggu 3x, alhasil kami bolak balik Tangsel-Depok dan kami harus menempuh perjalanan 2-3 jam.

The Help.  gambar: Cholis


Kakak Ayah-Teh Embay-selalu siap sedia mengantar kami ke tujuan dengan menggunakan mobil pribadinya. Jika Teh Embay ada pekerjaan, kami biasanya suka menyewa supir dan mobilnya boleh kami gunakan. Biasanya, jika sebelum berangkat ke tempat pengobatan, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Saya biasanya masak makanan segar untuk makan di rumah dan bekal di perjalanan untuk 2 kali makan serta camilan. Ini harus, karena Ayah tidak bisa jajan atau beli makanan sembarangan. Begitu minum herbal dan akupunktur, ada beberapa pantangan makan yang harus dipatuhi, mau tidak mau saya harus memenuhi segala kebutuhan Ayah. Lalu menyiapkan herbal yang harus dikonsumsi untuk beberapa kali waktu makan obatnya. Dan alat transportasinya fit.

Suasana dan keadaan mobil dibuat senyaman mungkin, teman perjalanan kami kadang musik, penyiar radio pagi Gen FM yang bikin kami ketawa-ketawa, berita tivi di mobil dan film Frozen. Iya, Frozen ini bisa membuat anak-anak tenang. Karena Teh Embay punya anak seumuran Alif namanya Joya. Saat itu, Alif dan Joya berumur 5 tahunan. Masih belum sekolah dan selalu ngintil kemanapun para emaknya pergi. Jadi, Alif dan Joya, ikut kemanapun kami pergi. Film kartun dan camilan selalu sedia di mobil, agar mereka tenang dan Ayah pun lebih asik menempuh perjalanan. 

Bayangkan, kadang kami harus melakukan perjalanan dari Tangsel ke Jakarta, Tangsel ke Bandung, Tangsel ke Depok, Tangsel ke Ciledug, Tangsel ke Pandeglang. Sementara, kondisi Ayah tidak bisa kontak dengan banyak orang, artinya, dia tidak bisa naik transportasi umum. Kemana-mana harus menggunakan kendaraan pribadi. Biasanya, sebelum pergi kemana-mana, beberapa hal penting yang akan diperiksa oleh Teh Embay maupun Wa Alwis, isi bensin, oli, air dan aki mobil.  Kami tidak bisa membayangkan jika tiba-tiba aki habis, mogok, ban bocor sehingga perjalanan terganggu.  Setelah itu siap, kami pun berangkat.

Semua perjalanan terasa holistic. Tidak hanya tujuan pengobatan itu yang kami dapat, tapi setiap perjalanan yang kami lakukan memberi makna kehidupan yang dalam. Mobil Teh Embay dan mobil Abah menjadi saksi perjalanan kami.  Mungkin karena kami aki-nya jadi cepat habis, oli-nya jadi sering diganti.

Kendaraan jagoan milik kakak kami dan sesekali menggunakan mobil punya Abah, sangat membantu dan bersejarah sekali buat kami. Tanpa kendaraan dan kesediaan teteh kami tidak bisa melakukan pengobatan sana sini. Terutama waktu kami mulai memutuskan terapi akupunktur di Meridien Depok dan herbal di Ciledug.  Nyaris 80% kehidupan kami ada dijalanan untuk menempuh pengobatan Ayah.  Kami bisa menghabiskan waktu 6 jam pulang pergi.  


Setiap hari, kami melewati jalan yang sama.  Suasana perjalanan, beragam mobil yang memenuhi jalan tol, dari yang paling bagus hingga paling biasa. Kami sampai hafal tiap titik jalan, bengkel, ciri khas kota, bangunan-banguannya, mal-mal yang berjajar, cahaya pagi saat kami pergi dan sore saat kami pulang selesai terapi. Kami hanya mengenal kota saat pagi dan sore yang kerap bergerak rapat dan berlari.  Kecepatan tinggi di jalan tol, kadang membawa pikiran kemana-mana, seolah hidup saya akan seperti sisypus. Perjalanan tanpa akhir, absurd, tapi tetap kami jalani.  


Tapi, saat itu saya hanya berusaha mempertahankan pikiran dan menguatkan keyakinan, bahwa setiap masalah jika dihadapi pasti ada titik akhirnya.  Masuk ke dalamnya, pelajari, jalani, tega pada diri sedniri, percaya, lihat celah kebahagiaan diantaranya.

Foto: Ima

Jalan tol, jalan perkotaan, pedesaan, memberi pandangan sendiri bagi saya. Kakak kami- Teh Embay- dibalik tubuhnya yang kecil dan wajahnya yang tenang, selalu menularkan energi positif dan tahan banting.  Sejak awal bulan Agustus 2014 hingga Maret 2015, kami terus melakukan terapi akupunktur. Meskipun diantara proses itu, Abah sakit berat.  Perhatian keluarga terbelah, saya titipkan anak kedua ke keluarga di Bandung.  


Saat itu, saya menjalankan apa yang ada.  Begitu menjalankan akupunktur, kondisi fisik dan psikis Ayah banyak sekali perubahan, dia terlihat lebih bersemangat dan berenergi. Selain akupunktur, asupan makan tetap dijaga dengan pola makan food combining. Segala kemungkinan kami jalankan semaksimal mungkin.  Setiap ada masalah, dalam pikiran saya adalah solusi yang harus diambil lalu jalankan.

Setiap proses tidak selalu lancar, ada saja kejadian yang lucu dan menghambat upaya kami.  Pernah sampai suatu hari ada kejadian lucu, seperti biasa saya mulai masak jam 05.00 wib untuk sarapan di rumah dan bekal perjalanan menuju Depok. Buah-buahan dipotong dan dimasukan ke dalam kotak makan, obat-obatan dipersiapkan, medical cek up aman, baju ganti, makanan anak-anak sudah oke, minum mineral sudah terisi. Jadi setiap mau pergi kami bawa beberapa tas goodie bag, untuk bawa makanan, obat, baju, camilan.  

Setelah siap semua, kami tinggal menunggu Teh Embay turun dari kamar dan sambil nonton acara tipi. Tak lama, Wa Alwis turun dan pergi ke depan untuk memanaskan mobil, tapi ternyata mesin tidak menyala. Cek sana sini ternyata aki-nya mati. Padahal perkiraan Wa Alwis mestinya aki masih cukup. Ternyata setelah diingat-ingat, setelah Teh Embay pulang presentasi dari rumah temannya dan pulang larut. Seperti biasa, teteh pun segera naik ke kamarnya, sementara lampu bagian dalam mobilnya tetap hidup dan ini yang membuat aki habis.

Mobil jadi tidak bisa diapa-apakan, kami sempat panik dan bingung harus bagaimana. Padahal hari itu jadwalnya akupunktur, jadi ya sudahlah sepertinya jalan keluarnya cancel saja. Tapi untunglah salah satu diantara kami tenang dan tertawa-tawa, lalu memanfaatkan waktu beryoga sambil nonton acara televisi. Rupanya Wa Alwis sudah punya toko langganan untuk masalah aki dan oli, yaitu Call Shop and Drive-toko aki dan oli dari Astra Otoparts di 15-000-15. Kalau sekarang, Shop and Drive sudah menyediakan aplikasi sejak 2015, cara ini dilakukan untuk mempermudah konsumen.  Untuk pembayarannya pun sederhana, bisa cash, debit dan kredit.  Ini link aplikasi Shop and Drive, semua pemilik kendaraan pasti membutuhkan.  Karena seringkali kita lupa memperhatikan keadaan oli dan aki, tahu-tahu sudah soak.  Oya, klik link ini untuk download aplikasi: Klik disini.


Nomor telepon Shop and Drive ini sangat mudah sekali diingat, Astra Otoparts yang selalu siap sedia 24 jam. Tidak kenal malam, pagi, subuh, kapanpun, dimanapun, mereka siap melayani kebutuhan konsumen. Tak lama dihubungi, pihak GS Astra Otoparts datang sambil bawa aki dan sekaligus memasangkannya sambil memeriksa beberapa elemen mesin mobil. Ah, hari yang lucu. Setelah semua selesai dan aman, kami pun segera bersiap (kembali) dan berangkat ke Depok.

Pengalaman yang sangat berharga. Saya selalu percaya, bahwa setiap kejadian tidak ada yang kebetulan. Dibalik semua hal yang baik maupun buruk (versi manusia), pasti ada pelajaran yang berharga. Setiap unsur kehidupan tak ada yang kecil maupun besar, semua hal, sekeliling kita bekerja kolektif mendukung semua terwujud. Aku, kamu, kalian, mobil, tas, plastik, buah-buahan, obat, handphone, kunci mobil, bantal, film kartun, penyiar radio yang lucu, cahaya matahari, hujan,jarum-jarum akupunktur, orang-orang baik yang selalu mendoakan dan bergerak tiada henti. Terima kasih kehidupan, terima kasih segala perjalanan. Kamu mengajarkan, setiap waktu sangatlah berharga.

Yuk, 
Tulis dan ceritakan pengalaman berharga kamu, mungkin bagi kamu biasa saja, tapi belum tentu buat orang lain.  Selain bisa berbagi pengalaman, ceritanya bisa diikutkan ke Storytelling Competition Shop and Drive GS Astra.  Selalu ada hal yang baik disekeliling kita, sebarkan dengan cinta.  Untuk ikut berkompetisi, silahkan klik link berikut ini:

http://idblognetwork.com/microsite/shopndrive?refid=158

Bandung, 30 November 2016
@imatakubesar

No Thumbnail

Ingin Liburan Bali Murah? Yuk, Intip 7 Tips Berikut

Punya kerjaan freelance seperti kami kadang-kadang tidak punya waktu liburan. Tak ada tanggal merah dan tak ada akhir pekan. Waktu liburan ditentukan oleh ada dan tidak adanya pekerjaan. Meskipun begitu, kadang kami membuat waktu libur sendiri. Misalnya seminggu sekali ke kebun binatang, agak jauhan makan jagung di Lembang, trekking di Dago Pakar (atau sekarang Tahura). Jalan-jalan yang dekat tapi energi liburannya dapat, mengingat sedikit waktu untuk liburan. Nah, kali ini kami maunya punya waktu beberapa hari jalan ke Bali. Aha! Bali? Iya, Bali. Sudah lama saya dan suami mau datang ke sana, keliling-keliling mencari inspirasi dari budaya, seni yang kental, suasana pedesaan dan alamnya yang cantik.

Sumber: gayahidup.republika.co.id

Pulau Dewata.  Ini salah satu destinasi impian kami.  Bali selalu punya daya tarik untuk dikunjungi, pesonanya tak pernah pudar. Selain masalah waktu pekerjaan, ada alasan lain kenapa kami tidak wisata ke Bali yaitu malasah biaya. Tapi saya selalu percaya, disitu ada keinginan maka akan ada jalan.

Sepertinya tak ada yang menolak jika dapat kesempatan liburan Bali murah. Nah, biasanya kami cara sendiri mewujudkan keinginan agar bisa tetap liburan dengan budget hemat? Ada beberapa trik dan tips nyentrik nih untuk bisa mendapatkan pengalaman liburan asyik namun tetap hemat. Let’s check this out!

1. Cari penginapan Low Budget

Penginapan menjadi kebutuhan utama di Bali yang tak bisa dipungkiri. Pengunjung bisa memilih sesuka hati sesuai keinginan dan kebutuhan. Ada banyak jenis penginapan dan hotel yang tersebar hampir di semua kawasan Bali, kawasan Kuta, Seminyak, Ubud dan Sanur adalah lokasi favorit wisatawan.

Namun, lain halnya jika kamu memang hendak memangkas budget liburan kamu. Pilihan paling dianjurkan adalah penginapan di kawasan Jalan Legian. Bisa juga mencari di sekitar Kuta, karena di sana tersedia pilihan penginapan mulai dari hotel melati, budget hotel hingga hotel berbintang lima yang mewah. Kamu bisa mendapatkan fasilitas cukup nyaman berupa single bed, kamar mandi, kipas angin dan fasilitas lainnya dengan kisaran harga antara Rp100.000 hingga Rp350.000 saja.

Selain itu, banyak tersedia obyek wisata di kawasan Kuta yang aksesibel, sehingga tak harus mengeluarkan dana berlebih untuk biaya transportasinya. Hal yang utama, sebaiknya cek lebih dulu melalui beberapa sumber terpercaya.

2. Transportasi selama di Bali

Kebutuhan transportasi selama di Bali cukup penting. Ada berbagai cara untuk bisa menghemat biaya ini. Saat pertama kali sampai di Bali kamu bisa menggunakan jasa taksi bandara, dengan catatan lokasi penginapan berada dekat dengan Bandara, seperti misalnya di kawasan Kuta. Hal ini karena argo taksi bandara, umumnya disesuaikan dengan wilayah tujuannya.

Selanjutnya, kamu bisa menggunakan jasa sewa mobil sekaligus degan driver dan bahan bakarnya. Sewa mobil ini akan lebih pas dipilih ketika kamu berwisata dengan tim atau rombongan rekan lain yang berwisata. Namun, jika melakukan solo traveling atau berdua saja, maka pilihan tepatnya adalah menyewa sepeda motor. Kamu bisa memanfaatkan fasilitas tekhnologi untuk membantu menyusuri rute jalan yang bahkan kamu tak tahu sama sekali.


Sumber: kaskushootthreads.blogspot.co.id


Memilih sewa sepeda motor akan mengemat budget liburan lebih maksimal lho dibandingkan memilih kendaraan lain. Jangan ragu juga untuk menawar ya, apalagi jika menyewa hingga lebih dari sehari, karena akan ada tawaran potongan harga sewanya.

1. Alokasi Dana

Seringkali saat berwisata kita akan mengeluarkan biaya yang tak terduga. Jika ingin pengeluaran tetap terkontrol, maka siapkan sejak awal alokasi dana keberangkatan dan akomodasi dengan biaya untuk makan, tiket masuk wisata, transportasi saat di lokasi, dan juga biaya membeli oleh-oleh.

Bawalah uang cash secukupnya saja dan sisanya bisa tetap di simpan di rekening. Selain menghemat, hal ini cukup aman karena tak perlu khawatir jika terjadi hal yang tak diinginkan saat membawa uang yang terlalu banyak. 


Sumber: brighterlife.co.id


1. Cari tempat makan khusus backpacker

Kebutuhan untuk makan menjadi hal utama yang tak boleh ditinggalkan. Pilihlah jenis makanan yang mengenyangkan dan bertahan lama. Hindari membeli jenis cemilan dan jajan yang hanya akan menguras isi dompetmu.

Kamu bisa memilih makanan di beberapa warung makan berbentuk perumahan yang ada di sekitar pantai. Umumnya warung-warung tersebut menjual aneka makanan dengan harga murah, sehingga seringkali jadi tempat tongkrongan favorit para backpacker.

2. Cari waktu berangkat yang tepat

Waktu keberangkatan sangat berpengaruh. Sebisa mungkin hindari memilih waktu peak season ataupun akhir pekan. Nyatanya, biaya wisata di waktu-waktu tersebut akan jauh lebih mahal dibandingkan dengan weekday, baik dalam hal penginapan, perjalanan, juga makanan. Belum lagi kondisi penuh sesak yang selalu terjadi saat harus berhamburan mengunjungi tempat wisata saat suasana liburan.

Perjalanan berangkat dan pulang menuju ke lokasi wisata juga bisa disiasati dengan memilih jadwal penerbangan yang tepat. Kamu bisa memilih rute penerbangan malam di hari kerja agar bisa mendapat harga yang lebih miring.

3. Membeli oleh-oleh dan suvenir di pasar tradisional

Rasanya tak afdol jika berwisata ke suatu daerah tanpa membeli cindera mata alias oleh-oleh. Tak salah jika kita memiliki budget khusus untuk hal ini. Namun, jika ingin berhemat, maka sebaiknya tidak membeli suvenir dan oleh-oleh di outlet atau pun toko yang ada di sekitar jalan utama di Bali karena harganya akan jauh lebih mahal. Kamu bisa membeli beberapa jenis barang yang serupa dengan harga hemat di beberapa pasar tradisional di Bali seperti Sukowati, Pasar Kumbasari dan banyak lagi.

4. Riset dan menyususn itinerary harian

Agar jadwal wisata di Bali semakin terencana dan efisien, maka sebaiknya siapkan jauh hari jadwal harian atau itinerary harian kamu. Itinerary ini tentu mencakup waktu, tempat tujuan dan juga estimasi biaya yang dibutuhkan, sehingga kamu akan dipermudah dengan perhitungan yang matang dan penggunaan waktu seefisien mungkin. Cari info sebanyak-banyaknya agar persiapan lebih matang dan liburan semakin nyaman.

So, sudah siap meluncur ke Bali tanpa ragu saat ini kan? Selamat menikmati liburan hemat!