Warung Blogger
Warung Blogger adalah sebuah grup di fesbuk yang didirikan secara iseng oleh Mas L.A. yang kemudian ditanggapi positif oleh Mbak Jum hingga mau membuatkan logonya. Saat ini anggotanya telah mencapai 668 orang di seluruh dunia.
Makna dari logo Warung Blogger di atas adalah:
- Huruf W, diletakkan pada wadah cangkir untuk para blogger pria maupun wanita dengan warna merah yang berarti berani dan semangat.
- Isi cangkir dengan asap mengebul, disajikan sesuai selera. Mau kopi pahit, manis, atau ditambahi krim ala warung yang dijamin selalu hangat.
- Sedotan pada pegangan cangkir disediakan bagi yang mau menggunakannya atau diletakkan saja karena merasa lebih nikmat diseruput langsung.
- Cangkir putih sebagai lambang silaturahmi dan berbagi informasi, serta menjalin persahabatan. Bukan sebagai arena perang, tawuran, atau caci maki.
- Tulisan “Ngopi Asyik Bareng BLOGGER”, menikmati kebersamaan dengan warna hijau merah yang berarti berani tapi menyejukkan.
Warung Blogger warungnya para blogger
Nongkrong tanpa sungkan ngomongin yang seger-seger
Warung Blogger bukan sekedar warung kopi
Di sini boleh cuap-cuap yang penting pada hepi
Warung … Blogger!
Bagi yang ingin bergabung dengan Warung Blogger dipersilakan mampir. Tidak ada aturan atau persyaratan khusus, apalagi Warung Blogger buka selama 24 jam nonstop. Dijamin![]
Berbela Sungkawa
Cerita ini adalah kisah nyata dari sosok itu saat masih duduk di bangku SMU. Nama dan latar belakang cerita sengaja dibedakan plus ditambah bumbu-bumbu dapur untuk menciptakan rasa yang enak dan gurih, eh, bisa dinikmati oleh pembaca. Kalaupun ada kesamaan nama tokoh atau peristiwa, tolong jangan ditanyakan pada pihak keamanan kompleks karena dia tidak tahu apa-apa dan sedang disuruh memanggil tukang sayur yang tadi terlewati begitu saja. Selamat menikmati.
—-Di tempat duduknya, Yoyok mematung. Sudah hampir setengah jam kedua tangannya terus memegangi kepala. Pandangannya seolah-olah kosong. Buku tulis di hadapannya pun seperti hilang. Angin yang berembus dari arah jendela di sebelahnya seperti tidak bisa mengusik lamunannya yang teramat panjang. Angin itu pula yang membuat lembaran-lembaran kertas bukunya bergerak-gerak. Bahkan, suasana kelas yang ramai pun seperti tidak bermakna di telinga dan matanya. Ia seperti berada di dunia lain. Dimana yang ada hanyalah gelap. Pekat. Tetapi bergemuruh.
—-Dalam ruang yang gelap itu, bayangan-bayangan berkelebat di sekelilingnya. Kecepatannya pun berubah-ubah. Beberapa di antaranya membentuk slide-slide bergambar. Layaknya sebuah film yang diputar di gedung bioskop. Menampakkan beberapa episode kehidupannya yang telah lampau. Terutama yang berhubungan dengan sosok yang kini sedang dilamuninya. Sosok perempuan yang berulang-ulang hadir dalam slide-slide itu. Yang kadang tertawa. Kadang melotot. Kadang mencibir. Kadang menjulurkan lidah. Kadang tersenyum, tetapi senyum yang mengejek.
—-Salah satu slide itu kemudian menampilkan dirinya yang berdiri terpaku di depan sebuah kelas. Yang sangat ramai. Kelas barunya di sebuah sekolah negeri tingkat pertama. Seragam putih-birunya pun masih baru. Ia terlihat ragu-ragu ketika memasuki kelas itu. Tetapi akhirnya, ia pun memberanikan diri untuk masuk. Baru tiga langkah ia masuk, tubuhnya yang kecil tiba-tiba langsung menegang. Tubuhnya bergetar karena rasa malu dan takut. Entah kenapa, kelas yang tadinya ramai kini telah berbalik menjadi sunyi. Dan semua pandangan mata yang ada di kelas itu, kini mengarah padanya.
—-Yoyok serba salah. Beberapa kali kacamatanya yang agak tebal dibenarkan. Padahal, kacamata itu telah benar letaknya. Tepat di atas hidungnya yang tidak terlalu mancung. Akhirnya, ia pun memberanikan diri untuk menatapi semua teman-teman barunya. Hanya untuk mengetahui kenapa mereka semua tiba-tiba saja menjadi diam. Dan tahulah kenapa ia dipandang seperti itu. Ternyata tidak ada satu pun dari mereka yang berkacamata! Namun untunglah hal itu tidak berlangsung lama. Mereka pun kembali ramai. Seolah-olah ia tidak ada di depan kelas.
—-Sekali lagi, Yoyok memandang ke seluruh ruangan kelas. Kali ini, ia ingin mencari bangku kosong. Dan ia menemukan dua tempat kosong. Satu berada di deretan ketiga dari depan dan barisan kedua dari kiri, sedang satunya lagi di pojok belakang sebelah kanan. Ia tidak mungkin duduk di pojok belakang, karena sudah pasti tidak dapat melihat tulisan di papan tulis. Jadi, pilihan pertamalah yang ia tuju. Di sana, duduk seorang murid perempuan yang sedang asyik membaca komik.
—-Rambut perempuan itu dikepang, dengan ikatan pita merah. Dari bentuk wajahnya yang oval, kulit yang langsat, bibir tipis, alis mata tebal, Yoyok menilai kalau perempuan itu sangat cantik. Sangat beruntung ia dapat duduk di sampingnya. Maka tanpa ragu-ragu lagi, ia pun langsung menuju ke tempat itu dan duduk begitu saja di sampingnya. Dan pada saat itulah—sekali lagi—suasana kelas kembali hening. Yoyok pun sadar kalau pandangan teman-teman barunya di kelas itu sedang menghujam dirinya. Termasuk pandangan perempuan di sebelahnya yang melotot tajam.
—-“Emangnya kamu siapa?! Berani-beraninya duduk di sebelahku?!” teriak perempuan berkepang itu langsung berdiri. Kedua tangannya berkacak pinggang. “Nggak ngaca apa kalau muka sama penampilan kamu tuh tidak pantas untuk duduk di sini?!” Kedua tangan perempuan itu tiba-tiba saja langsung mengambil tas Yoyok dan melemparkannya ke lantai. “Cih! Dasar mata empat nggak tahu diri!”
—-Saat itu, tubuh Yoyok terasa seperti mengecil. Hingga hanya sebesar semut yang langsung berlari terbirit-birit. Mukanya memerah karena rasa malu yang amat sangat. Maka, ia pun segera mengambil tasnya dan berjalan ke arah belakang. Tampaknya tidak ada pilihan lain baginya selain duduk di pojok belakang.
—-Slide itu lenyap. Bayangan-bayangan pun berkelebat lagi. Hingga akhirnya sebuah slide lain muncul. Di sana, dirinya sedang berada di dalam bus kota yang lumayan penuh. Di sebelahnya, duduk seorang perempuan yang pernah menolaknya untuk duduk bersama waktu kelas satu. Hanya saja rambut perempuan itu tidak dikepang lagi, melainkan dibiarkan terurai. Sementara di depannya, duduk salah seorang guru pembimbing yang mengantarkan mereka berdua mengikuti seleksi pelajar teladan tingkat SLTP se-Bandung. Waktu itu dia sudah kelas dua.
—-“Yan,” ujar Yoyok takut-takut pada perempuan di sebelahnya. “Gimana dengan soal-soal tadi. Kamu bisa mengerjakannya?” Dalam pandangannya, perempuan di sebelahnya yang bernama Yani terlihat sempurna. Sudah cantik, pintar lagi. Pantas saja kalau Yani menjadi primadona sekolahnya.
Yani tidak menanggapi pertanyaan Yoyok. Pandangannya lurus saja ke luar jendela bus. Tubuhnya pun seakan-akan disengaja agar tidak sehelai benang pun di pakaiannya yang boleh menyentuh Yoyok.
—-“Yan….”
—-“Heh!” seru Yani dengan nada yang amat kesal. Matanya hanya melirik pada Yoyok. “Kamu itu sebenarnya mau apa sih sama aku?!” teriak Yani tiba-tiba. Yoyok pun terkejut karena suara Yani mampu didengar oleh seluruh penumpang bus. “Ngaca dulu dong kalo mau ngobrol sama aku. Pantas nggak?!”
—-Diteriaki—atau lebih tepatnya didamprat—seperti itu, membuat Yoyok kehilangan nyali. Ia hanya bisa menatap lantai bus. Kupingnya seakan-akan memerah mendengar ucapan Yani. Tanpa sadar, di dalam perutnya pun bergejolak hebat.
—-“Kamu tuh beruntung bisa pergi dan duduk bersama aku! Sangat beruntung!” Yani memandang Yoyok tak berkedip, bahkan dengan bola mata yang terlihat besar. “Kalo bukan karena pilihan guru, aku tidak akan mau berangkat sama kamu! Tahu nggak?!”
—-Dan saat itulah Yoyok tidak kuat lagi menahan gejolak perutnya yang demikian hebat. Tanpa sempat dicegah lagi, ia pun muntah. Guru pembimbing yang tidak bisa mencegah semprotan Yani tadi, segera menolong Yoyok dengan memijit-mijit tengkuknya. Sementara Yani sendiri hanya mencibir dengan senyum licik yang seolah-olah dia telah memenangkan sebuah pertempuran.
—-Slide itu pun hilang. Lalu diganti dengan slide lain dengan setting sekolah. Dalam slide yang berganti-ganti cepat itu, terlihat wajah teman-temannya—termasuk Yani—yang menertawakan dan mencemoohkannya karena ketahuan muntah di bus kota. Kata-kata mengejek, mencibir, dan lainnya yang sejenis menyerang dirinya dari segala penjuru. Mereka semua menertawakannya, hingga akhirnya semua murid di sekolah itu pun tahu kalau Yoyok memang selalu muntah jika harus naik kendaraan umum.
—-Bayangan-bayangan kembali berkelebat. Lalu muncullah slide yang menampilkan Yoyok yang sedang berjalan di koridor sekolah. Di tangannya terpegang semangkok baso yang dipesan oleh guru IPA-nya. Ia berjalan begitu hati-hati agar kuah baso yang penuh itu tidak ada setetes pun yang tumpah. Apalagi pada jam istirahat, banyak murid-murid yang lalu-lalang tanpa memperhatikan jalan. Terutama yang berlari-lari. Sementara tak jauh di depannya, Yani dan kedua temannya sedang asyik mengobrol sambil mengemut permen lolipop.
—-Yoyok langsung menunduk. Ia memang suka salah tingkah jika berpapasan dengan Yani. Yani sendiri pun akhirnya sadar kalau Yoyok akan lewat di hadapannya. Tetapi ia pura-pura tidak tahu dan terus saja asyik mengobrol dengan membelakangi Yoyok. Tepat ketika Yoyok lewat, tiba-tiba saja Yani mundur sambil memegang perutnya dan tertawa. Seolah-olah ia memang tidak sengaja melakukan hal itu karena mengobrol sesuatu yang sangat lucu. Keruan saja, tubuh Yani pun langsung menabrak tubuh Yoyok.
—-Yoyok yang tidak menduga dengan gerakan Yani itu segera kehilangan keseimbangannya. Mangkok baso yang dipegangnya hampir saja jatuh, tetapi isinya sudah tumpah sebagian. Yani yang pura-pura tidak tahu, segera meminta maaf sambil menahan tawa melihat wajah Yoyok yang sudah berubah pasi. Dan Yani akhirnya tidak bisa menahan tawa ketika Yoyok dengan susah payah mengumpulkan kembali baso dan mienya yang tercecer. Sudah pasti Yoyok harus membayar harga semangkok baso itu dan juga menggantinya lagi dengan yang baru.
—-Kemudian slide lain menggantikan. Kali ini menampilkan ruangan kelas yang sedang mengadakan ulangan. Waktu sudah lewat satu jam dari dimulainya ulangan itu. Kebetulan saat itu adalah ulangan matematika. Sebagaian besar murid mengerutkan dahi mereka. Beberapa di antaranya melihat ke kanan-kiri. Celingukan melihat temannya dalam mengerjakan soal. Dan salah satunya adalah Yani yang terus memperhatikan Yoyok yang lagi serius berkutat dengan soal-soal. Di tangan kanannya tergenggam segumpal kertas.
—-Tepat ketika guru sedang lengah, Yani segera melempar kertas itu ke arah Yoyok. Kertas itu mengenai tubuh Yoyok dan langsung jatuh di sebelahnya. Yoyok pun segera menoleh ke arah lemparan kertas itu untuk mengetahui siapa yang melemparnya. Tetapi Yani pura-pura tidak tahu dengan berkutat pada soal-soal ulangan. Yoyok melihat kertas yang dilemparkan ke arahnya. Dan bersamaan dengan itu, gurunya melihat kertas itu.
—-“Itu kertas apa?!” tanya guru matematikanya pada Yoyok, sambil mendekat dan memungut kertas itu. Lalu membuka dan melihatnya.
—-Muka Yoyok terlihat memutih. Jantungnya berdebar sangat cepat.
—-“Ini punya kamu kan?!” tuding gurunya pada Yoyok.
—-Yoyok tidak bisa menjawab. Yang ada hanyalah tubuhnya yang gemetar. Ia memang tipe orang yang serba salah dan bingung jika dibentak seperti itu.
—-“Ya sudah! Sekarang kamu keluar sekarang juga!” bentak gurunya menunjuk ke arah pintu. “Saya paling tidak suka kalau ada murid yang berbuat curang!”
—-Dengan tubuh yang masih gemetar, Yoyok pun akhirnya berdiri dan meninggalkan ruangan kelas. Sebelum melewati pintu, masih dilihatnya Yani yang berusaha menutupi mulutnya yang tersenyum.
—-Slide lainnya kemudian langsung menampilkan lapangan sekolah yang ramai oleh murid-murid yang sedang berolah raga. Kebetulan waktu itu adalah pelajaran bola basket. Dan Yoyok sudah duduk di kelas tiga SMP. Yang dinilai saat itu adalah masuk tidaknya bola ke keranjang dari titik yang sudah ditunjuk guru. Kesempatan yang diberikan adalah tiga kali. Jika masuk semua, maka nilainya sempurna. Jika hanya masuk dua, nilainya delapan. Jika hanya masuk satu, nilainya enam. Jika tidak masuk sama sekali, maka nilai yang didapat adalah empat.
—-Bermacam-macam yang didapat para murid. Ada lima orang murid yang sempurna melakukan lemparan. Tetapi kebanyakan adalah yang hanya masuk dua bola atau satu bola saja. Yani sendiri berhasil memasukkan dua bola. Kebetulan memang, jarak dari titik lemparan dengan keranjang bagi murid laki-laki lebih jauh jika dibandingkan murid perempuan. Dan pada akhirnya, tibalah giliran Yoyok untuk melempar. Memang dia selalu berada pada urutan terakhir jika berdasarkan absen.
—-Pada lemparan pertama, bolanya sama sekali tidak menyentuh keranjang. Teman-temannya pun menertawakan. Yoyok segera membetulkan letak kacamatanya. Dan setelah ancang-ancang, ia pun melemparkan bola keduanya. Bola itu menyentuh keranjang, tetapi memantul kembali hingga tidak masuk. Teman-temannya kembali menertawakan. Bahkan di telinganya, terdengar ucapan Yani yang mengatakan, “Punya mata empat kok tidak masuk-masuk sih?!” Sesaat diliriknya Yani. Kembali ia membetulkan kacamata tebalnya lagi. Dan setelah ancang-ancang, ia pun melemparkan bola terakhirnya. Bola itu mengenai keranjang, lalu ke papan, lalu kembali ke keranjang, dan jatuh keluar. —-Yoyok menarik napas. Ia telah gagal. Nilai empat sudah pasti didapatkannya. Teman-temannya pun kembali menertawakan. Karena memang hanya Yoyoklah yang sama sekali tidak berhasil memasukkan bola. Tawa itu terus bergema hingga pelajaran olah raga usai.
—-Tak sampai di situ, Yani pun terus mengejek Yoyok hingga sampai pulang sekolah. Kupingnya panas mendengar ejekan dan cibiran Yani yang seperti tidak ada habis-habisnya. Entah kenapa, Yani tampaknya suka sekali mengejek dan menggoda Yoyok. Yoyok sendiri tidak tahu kenapa.
—-Slide itu pun menghilang. Lalu dilanjutkan dengan slide-slide lainnya yang terus berganti-ganti. Ada slide yang menampilkan Yoyok yang sedang jatuh karena kakinya dijegal oleh kaki Yani. Ada slide yang menampilkan Yoyok dicemooh oleh Yani. Dicibir. Dimarah-marahi. Dan berbagai macam perlakuan yang tidak mengenakkan hati. Slide-slide itu pun kemudian beralih dengan sangat cepat. Sehingga yang ada adalah tampilan wajah Yani yang berubah-ubah bentuk. Melotot. Tersenyum mengejek. Tertawa. Menjulurkan lidah.
—-Hingga pada akhirnya, slide-slide itu pun menghilang. Meledak. Bersamaan dengan keadaan gelap pekat yang tiba-tiba saja menjadi bercahaya. Amat terang. Lalu cahaya itu hilang berangsur-angsur. Sampai akhirnya, Yoyok dapat melihat buku tulisnya sendiri. Dan ia pun dapat merasakan sentuhan lembut di bahunya.
—-“Yok! Yoyok! Kok melamun sih?” tegur seseorang.
—-Yoyok mengerjapkan matanya. Kepalanya diangkat dan langsung menoleh pada sumber suara yang menegur. “Eh, Don. Ada apa?” ujarnya sambil membetulkan kacamata tebalnya.
—-“Kok, ada apa, sih?” Doni balik bertanya. “Jadi ikut nggak ke rumah Yani?”
—-Yoyok kembali mematung.
—-“Tuh, kan. Malah bengong lagi. Jadi ikut, nggak?” Doni menggeser Yoyok dan langsung duduk di sebelahnya. Tangan Doni merangkul bahu Yoyok. “Yok, Yani itu teman kita waktu SMP. Bahkan, dia satu kelas terus sama kita dari kelas satu sampai kelas tiga. Sekarang pun, kita satu kelas lagi. Teman-teman SMP kita yang melanjutkan sekolah ke SMU Nusantara ini hanya sedikit.”
—-Yoyok menatap Doni, “Kamu tahu apa yang sering ia lakukan terhadapku?”
—-Doni terdiam. Matanya hanya memandang wajah Yoyok. Beberapa saat, ia menghela napas panjang. “Itu urusan kamu, Yok. Aku hanya mau mengajak bareng ke rumah Yani. Kalau kamu mau ikut, pas bubaran sekolah nanti, kita bisa sama-sama ke sana,” ujar Doni, kemudian berdiri. Setelah menepuk bahu Yoyok dua kali, Doni pun meninggalkannya.
—-Yoyok mendesah. Pandangannya masih saja kosong.
—-Siang yang panas. Di rumah Yani sudah banyak orang yang datang. Kebanyakan dari mereka berpakaian serba hitam. Yang laki-laki, ada juga yang berpeci. Makanan-makanan kecil tersaji di piring-piring bagi para tamu yang duduk di luar. Sementara di dalam rumah, terdengar beberapa orang yang sedang mengaji. Rombongan anak-anak sekolah yang berseragam putih-abu-abu dari SMU Nusantara terlihat masuk ke dalam. Di antaranya, terdapat Yoyok. Sesampainya di dalam, Yoyok melihat jenazah ayah Yani yang meninggal karena kecelakaan. Ada hati yang membuncah ketika melihat jenazah itu. Sementara di sebelah jenazah itu, Yani duduk bersimpuh dengan mata yang sembap. Air matanya seolah-olah tak pernah kering. Selalu saja ada yang menggenang di pelupuk matanya. Dan ketika Yani melihatnya, Yoyok terpana sesaat. Ia pun kemudian menangkupkan kedua tangannya di dada sebagai tanda berbela sungkawa.[]
Hikmah: Dalam setiap kehidupan selalu ada saatnya di atas dan ada saatnya di bawah. Kita tidak pernah tahu kapan kita ada di atas dan kapan ada di bawah. Oleh karena itu, berbijaklah dalam berkehidupan sosial. Termasuk memaafkan orang yang pernah menyakiti kita.
Bang Aswi berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’
yang didalangi oleh “Jeng Soes-Jeng Dewi-Jeng Nia”
dan disponsori oleh “Jeng Anggie, Desa Boneka, Kios108”
Jakarta, Kota Yang Tak Lagi Ramah Bagi Pejalan Kaki
Masih lekat dalam ingatan kita tentang kengerian kecelakaan lalu lintas di Tugu Tani Jakarta yang terjadi pada hari minggu 22 januari yang lalu. Sebuah mobil minibus yang melaju kencang menabrak sejumlah pejalan kaki yang akhirnya memakan korban jiwa sebanyak 9 orang dan 3 korban luka. Sungguh prihatin dengan kejadian ini dimana kegiatan jalan kaki yang merupakan kegiatan sehat dan menyenangkan malah menjadi pengantar nyawa bagi pejalan kaki itu sendiri. Hal ini membuktikan Jakarta bukan lagi kota yang ramah pada para pejalan kakinya.
Pernyataan ini bukan tanpa alasan karena saya sendiri terkadang mengalami hal yang tidak menyenangkan ketika menjadi pejalan kaki di Jakarta. Mulai dari fasilitas bagi pejalan kaki yang tidak memadai seperti trotoar yang sempit dan tidak rata terkadang juga rusak akibat galian listrik/telepon, trotoar yang hilang karena telah berganti fungsi sebagai tempat jualan pedagang K5 dan tempat parkir motor, zebra cross yang tidak jelas penampakannya karena sebagian telah terhapus dan tidak diperbaiki, jembatan penyebrangan banyak yg rusak dan dijadikan tempat jualan, hingga kelakuan pengguna jalan lain khususnya pengendara kendaraan bermotor yang jarang sekali mau mengalah terhadap pejalan kaki. Di Jakarta, sepertinya para pejalan kaki ditempatkan pada kasta terendah dari semua pengguna jalan, sedangkan di banyak negara khususnya negara maju pejalan kaki merupakan pengguna jalan yg memiliki prioritas tertinggi di jalan.
Saya yang termasuk juga sebagai pejalan kaki di Jakarta pernah beberapa kali merasakan hal kurang menyenangkan dari pengguna jalan lain. Saya pernah hampir cekcok dengan pengendara motor yang naik ke atas trotoar ketika jalanan macet, pengendara tersebut dengan seenaknya meng-klakson & berteriak supaya saya minggir tentu hal tersebut tidak saya terima karena trotoar adalah tempat pejalan kaki, pada saat itulah saya cekcok dengan dia, mungkin karena malu berbuat salah dan disaksikan banyak orang pengendara tersebut akhirnya turun dari trotoar dan berlalu. Kejadian lainnya ketika hendak menyeberang jalan di zebra cross ketika itu ada seorang pengendara mobil yang marah karena saya dianggapnya menghambat perjalanan, padahal bukankah ketika mendekati zebra cross semua pengendara seharusnya melambatkan kendaraan untuk memberikan kesempatan pada pejalan kaki kecuali si pejalan kaki tidak menyeberang pada tempatnya.
Sebenarnya masih banyak kejadian dan pengalaman tidak menyenangkan lainnya sebagai pejalan kaki, itu hanya sebagian kecil yang mungkin juga pernah dirasakan oleh teman-teman sebagai sesama pejalan kaki. Sangat menyedihkan ketika melihat kondisi fasilitas bagi pejalan kaki di Jakarta. Banyak jalan raya diperlebar sedangkan trotoar makin sempit, banyak flyover yang berdiri sedangkan jembatan penyeberangan dalam kondisi tidak layak, banyak underpass yang dibagun sedangkan banyak zebra cross yang telah hilang. Sepertinya memang pemerintah hanya menjadikan pejalan kaki hanya sebagai pelengkap yang tidak terpenuhi hak-hak nya sebagai pengguna jalan.
“Turut Berduka Bagi Para Keluarga Korban Kecelakaan di Tugu Tani Jakarta Semoga Tabah Menerima Ujian Tersebut”
Credit: Picture taken from Republika.co.id and Kompasiana.com When It Comes To Law and Order
Saya lagi kerajingan tayangan criminal. Ya. Semenjak menggunakan layanan TV berbayar, waktu leha-leha saya dan suami dihabiskan kalau bukan di ranjang sehat (aih
) ya di depan TV. Meskipun punya meja makan, tetap saja makannya di depan TV
Sambil peluk-pelukan. Menghabiskan liburan yang malas kemanamana karena cuaca yang cenderung galau dan labil. Well, you’ve got the picture I guess :p
Balik ke soal tayangan kriminalnya. Sinetron favorit saya sejak nonton TV kabel itu kalo ngga CSI, Criminal Minds, ya Law and Order. Mau episode nya banyak yang ulangan juga gapapa, wong saya emang baru mulai nontonin kok
Eh, saya juga selalu sih nonton PSYCH dan Dexter dan How I Met Your Mother dan… duh banyak hahaha tapi kan lagi ngomongin yang criminal ih :p Saya tau, apa yang kita tonton di TV itu jauh sekali dari keadaan di dunia nyata. Tapi sedikit banyak jadi belajar seputar sistem pengadilan dan mengumpulkan barang bukti sebagai penunjang sebuah kasus.

Ga tau juga ya apa sama antara sistem peradilan di luar negeri dengan di Indonesia. Tapi kayanya kan sebagian besar yang merupakan hal dasar pasti sama lah ya? Ada jaksa penuntut. Hakim pastinya. Pengacara pembela. Saksi, dll. Tapi mungkin kalau disini ga ada sistem Juri ya? Kalau liat berita perasaan ga ada jurinya soalnya.
Ini maapkeun banget kalo postingan dangkal banget dan saya bakal bilang kalo saya sebenernya ga tau pasti, karena emang ngga. Tapi sebagai orang Indonesia, suka denger ya desas desus yang namanya kebenaran maupun keputusan itu bisa dibeli dengan uang? Demikian juga dengan berita jaksa penuntut atau hakim yang disuap. Kayanya ada aja. Jadi ada stigma negative kalau semua aparat yang ada disini gampangan dan ga bisa dipercaya. Duh. Padahal tau aja ngga. Belum tau harusnya ga usah bersuara lah ya?
Saya makanya jarang nulis yang berat-berat, karena hidup saya sih ringan banget. Tapi saya termasuk orang yang berprasangka buruk rasanya. Punya kepercayaan yang kurang pada sistem peradilan di Indonesia karena banyak berita-berita miring soal kasus yang dialami banyak orang susah, yang kayanya sepele sekali, tapi hukumannya cepat diputuskan dan seringnya lumayan berat. Didukung juga dengan berita-berita soal kasus-kasus korupsi yang besar-besar yang ga tuntas-tuntas dan kalaupun dijatuhi hukuman terlalu ringan dan tidak sesuai dengan kejahatannya.
Saya jadi belajar sedikit dari menonton film seri tentang jalannya pengadilan dan pengusutan kasus. Barang bukti adalah
hal yang utama, dan proses mendapatkan barang bukti harus sedemikian transparan dan terlalu banyak batasan yang rasanya menyulitkan pengumpulan bukti yang akan membentuk sebuah tuntutan. Makanya saya jadi mengerti, kenapa orang yang kejahatannya sepele seperti nyolong sendal jepit, nyolong semangka, nyolong apalah yang harganya ga bahkan sampai seratus ribu, bisa dihukum denda besar dan kurungan yang cukup lama. Karena buktinya ada. Karena tidak bisa membayar siapa-siapa buat menghancurkan barang bukti. Makanya juga saya jadi kepikiran kenapa mereka yang kasusnya korupsi milyaran itu ga beres-beres sampai berita bosan menampilkan mereka dan berganti drama seru baru lainnya, ya mungkin karena ketidakadaan barang bukti tersebut. Entah benar tidak ada, atau sekali lagi mungkin, dilenyapkan dengan berbagai cara.
Kemudian, saya juga belajar bahwa pengacara pembela orang jahat yang bersalah itu memang biasanya super pintar dan tahu saja celah yang bisa digunakan untuk mementahkan tuntutan, memintir fakta, mengalihkan fokus, mencari-cari kesalahan dari perangkat hukum yang membentuk kasus melawan kliennya. Sumpah, sering gemes sekali jadinya kadang kalau melihat ulah pengacara pembela yang pinter dan licik! Oh ya, mereka umumnya dibayar sangat mahal, terutama bila digunakan oleh orang yang sangat jahat (yang umumnya kaya juga). Mungkin kalau pengacara pro bono di sini ga banyak yang benar-benar serius bekerja membela kliennya yang padahal adalah korban. Mungkin memang banyak halangannya dan tidak ada dana untuk membentuk suatu upaya pembelaan.
Ada juga jaksa penuntut yang ga punya hati, yang kadang ga peduli apakah orang yang mereka tuntut itu sebenarnya bersalah atau tidak. Yang padahal mereka sudah tau kebenaran kasusnya, sudah tau bahwa terdakwa sebenarnya adalah korban, tapi tetap membabat habis karena yang penting adalah presentase kemenangan mereka di pengadilan. Bukan soal keadilan sama sekali pada akhirnya. Ya, sudah pasti bisa dibeli juga kalau di film sih. Ada team Juri yang kadang ada saja yang bisa disuap sekalipun sudah dirahasiakan dan disembunyikan sedemikian rupa. Kalau di Indonesia Juri ini ga ada ya? Pengambilan keputusan dilakukan oleh team Hakim. CMIIW beneran deh. Adakah peluang untuk praktek suap-menyuap kalau begitu? Oh well… Nilai saja sendiri. I know nothing about it.
Ya, memang semua hanya apa yang saya tonton di film. Tapi kayanya sebagai warga emang pengen ya, melihat pelaku kejahatan berat dihukum seberat-beratnya sesuai dengan kejahatannya (mungkin seperti si pelaku bencana Tugu Tani), dan yang memang tidak begitu parah kejahatannya, apalagi baru pertama kalinya, atau justru sebenarnya berlaku jahat karena membela diri sebagai korban atau sebagai pertahanan diri dalam keadaan apapun, yang begitu dihukum cukup ringan saja dan diperlakukan dengan kelembutan, karena bagaimanapun adalah korban.
Makanya saya stop liat TV lokal. Bukan belagu. Dari internet aja saya sudah cukup dapat banyak berita yang memilukan hati, yang ga kalah apdet pastinya ya. Menyimak ketidakadilan di depan mata di televisi cuma bikin kesal, memaki, padahal ga bisa juga berbuat apa-apa.
Semoga keadilan di Indonesia ga semurah kacang goreng. Semoga pahlawan pembela kebenaran seperti yang suka saya lihat di film-film seri yang benar-benar membuat senang itu betulan ada. Semoga, entah gimana caranya, saya yang cuma bisa nonton bisa membantu entah bagaimana caranya ditegakkannya keadilan, dan mengurangi duka mereka yang jadi korban (sumpah jadi pengen belajar banyak soal ilmu hukum ini, supaya paham mana yang adil dan beneran kebangetan ga adil). Semoga. A girl can wish, right?
Filed under: Feels and Thoughts Tagged: keadilan, law and order, sidang, sistem peradilan Indonesia, tv kabel
Ketika Pagi Itu Datang…
“Menikah itu seperti pagi, tidak bisa dipercepat atau pun diperlambat.” Begitulah sebuah kata-kata bijak yang meluncur dari ibu seorang teman dulu. Dan kini, bagi saya, pagi itu telah tiba. Pada 1 Januari 2012 lalu, saya resmi beristrikan Fathonah Fitrianti yang akrab dengan panggilan Ine. Hal yang menakjubkan bagi saya, pagi itu datang tiba-tiba tanpa ada yang menduga, termasuk saya dan istri.
Saya dan istri sendiri sudah saling mengenal kira-kira sejak setahun sebelumnya. Meskipun sering melihatnya beredar di Salman ITB, tetapi saya mengenalnya justru di Facebook. Baru beberapa bulan setelahnya, kami bertegur sapa di ranah nyata. Itu pun tak lebih dari 30 detik. Hanya bertegur sapa sambil berkata, “Hai!” atau bertanya, “Apa kabar?”
Mengenai hati, namanya manusia yang berlainan jenis kelamin, tentunya memiliki perasaan suka. Namun, bagi saya ketika itu, hanya sebatas suka dan tidak berani lebih. Karena saya menilai bahwa istri saya tidak akan bisa saya raih untuk ke jenjang yang lebih serius. Jujur, saya tidak terlalu percaya diri.
Bagaimana pun, manusia hanya bisa berencana, Tuhan pula lah yang akan menentukan.
Pada awal Desember 2011, istri menghubungi saya untuk sebuah pekerjaan mengedit buku. Kakaknya yang seorang dokter adalah seorang penulis buku tentang Parenting. Ketika itu, sang kakak ipar membutuhkan editor untuk buku terbarunya yang akan segera terbit Januari 2012 ini.
Dulu saya pernah menjadi editor untuk buku teman saya. Karena berbagai kemalasan saya, akhirnya buku tersebut baru selesai setelah setahun. Hal inilah yang sebenarnya membuat saya menimbang-nimbang untuk menerima tawaran dari istri saya. Khawatirnya, kemalasan saya akan berulang yang menjadikan buku itu tidak pernah saya kerjakan.
Meskipun sempat bimbang, akhirnya saya terima juga tawaran sebagai editor buku berjudul “Time Out” yang ditulis kakak ipar saya. Alasannya, saya ingin mencoba untuk melawan kemalasan saya sekaligus menambah jam terbang dalam hal penyuntingan buku. Kami pun sepakat untuk bertemu pada 7 Desember 2011 di rumah kakak ipar saya di bilangan Cikadut. Agendanya pun jelas profesional: membahas pekerjaan penyuntingan buku “Time Out”.
Pada hari itu juga, saya pertama kalinya mengobrol dengan istri lebih dari 30 detik. Kami mengobrol cukup lama sembari menunggu kakak ipar saya yang sedang rehat sebentar usai pulang bekerja. Obrolannya pun seputar keseharian kami. Dan saya pun menilai tidak ada yang istimewa dari pertemua itu selain akhirnya bisa mengobrol lama dengan istri saya. Juga berkenalan dengan kakak sulungnya.
Usai berbincang-bincang bertiga dengan istri dan kakak ipar saya, kemudian shalat maghrib dan makan malam, saya pun pamit pulang. Dan tanpa saya ketahui, ternyata kakak ipar saya ini juga berprofesi sebagai comblang. Tanpa saya ketahui juga, dia memperhatikan saya sepanjang pertemuan pembahasan kerjaan penyuntingan buku terbarunya tersebut.
Singkat cerita, kakak ipar saya ini menghubungi kembali pada malam 10 Desember 2011, 4 hari setelah kami pertama kali bertemu. Isi obrolannya pun seputar aktivitas saya. Obrolan ini bersambung hingga keesokan harinya sekitar jam 5-an. Isinya pun semakin mengerucut, yaitu tentang status saya yang belum menikah.
Akhirnya, tanpa saya duga, kakak ipar menembak saya. “Kalau nih misalnya calonnya Neng Ine, Yudha kira-kira cocok nggak?” tanyanya melalui messenger. “Feeling saya, sih. Kayaknya Ine cocok sama profilnya Yudha,” lanjutnya.
Mendapatkan terkaman seperti itu, saya paniknya bukan main. Dan dengan asyiknya kakak ipar saya hanya menanggapi dengan berkomentar, “Santai saja, lah. Cuma nikah.” Bingung harus jawab apa, saya pun mengajukan usulan untuk kakak ipar dan istri saya melihat biodata saya terlebih dahulu. Alasannya, agar mereka bisa melihat saya lebih menyeluruh. Dan kakak ipar pun setuju.
***
Malamnya, kami bertiga plus adik saya berkumpul di rumah kakak ipar saya di bilangan Cikadut. Niat awalnya pun hanya mengajari istri saya perangkat lunak grafis sekaligus mengantarkan adik saya untuk periksa di kakak ipar saya. Namun, yang terjadi lebih dari itu.
Yah, kakak ipar saya melanjutkan perbincangan mengenai tawaran menikah yang dia sampaikan paginya. Muka saya langsung merah padam dan suhu ruangan saya rasakan mendadak naik. Istri saya pun mengalami hal serupa.
Arah perbincangan pun mulai mengerucut pada tanggal pernikahan. Saya sendiri mengusulkan Maret 2012. Alasannya, saya benar tidak punya apa-apa ketika itu. Uang tabungan yang pada 4 bulan sebelumnya cukup untuk membayar kuliah semester depan, menjelang akhir taun hampir mendekati nol Rupiah. Jangankan berencana, bermimpi untuk menikah dalam waktu dekat pun tidak.
Namun, kakak ipar saya menawarkan tanggal yang lebih ekstrim, yaitu 1 Januari 2012. Hanya berselang 3 minggu dari hari tersebut. Ada beberapa alasan kuat yang dia paparkan mengenai tanggal ini. Setelah mempertimbangkannya, saya pun menyetujuinya. Sedangkan untuk biaya pernikahan, kami Bismillah saja.
Hari-hari berikutnya, proses demi proses pun saya dan istri lalui. Mulai dari beraudiensi ke kakak kedua istri, bertemu mertua, kunjungan keluarga istri ke keluarga orang tua saya, hingga lamaran tiba pada 22 Desember 2012. Alhamdulillah semua prosesnya lancar.
***
Agenda selanjutnya adalah pernikahan. Mengenai biaya pernikahan, Alhamdulillah sudah tersedia menginjak acara lamaran. Datangnya pun tak terduga. Hal yang membuat lega, semua dana tersedia tanpa harus meminjam sedikit pun.
Mengenai konsep pernikahan sendiri, saya dan istri sepakat hanya akad saja, tanpa resepsi. Untuk undangan, kami mengandalkan Facebook dan Layanan Pesan Singkat (SMS). Hal ini juga sesuai dengan yang saya cita-citakan pada 2005 silam. Waktu itu, saya hanya ingin membuktikan bahwa pernikahan itu tidak harus mahal, tetapi bisa dengan sederhana dan berbiaya murah.
Untuk konsumsi, bagi undangan kami sediakan 200 kotak snack. Sedangkan untuk keluarga, kami suguhi makan siang. Tempatnya pun tidak jauh-jauh dari lokasi akad nikah, yaitu kantin Salman ITB.
Untuk rasa makanan, orang-orang yang kami tanyai menilai enak dan cukup puas. Menu yang kami suguhkan adalah ayam kecap, sayur capcay jamur, kerupuk udang, buah, lalap dan sambal. Satu porsinya kantin memberi harga 10 ribu Rupiah.
Jumlah keluarga yang mencapai 100 orang pun, ternyata tertampung di ruangan kantin yang hanya seluas lapangan voli tersebut. Memang, jauh hari sebelum hari-H, kami pernah menghitung jumlah kursi yang tersedia di kantin Salman ITB. Jumlahnya mencapai 120 kursi. Sehingga kami cukup tenang menjadikan kantin Salman ITB sebagai tempat makan keluarga yang hadir.
***
Ada banyak pelajaran yang saya syukuri dari jenjang kehidupan bernama pernikahan ini. Pertama dan paling penting, bahwa manusia boleh berencana, tetapi Tuhan jualah yang menentukan. Dalam hal ini, kuncinya adalah bersabar dan berserah diri pada-Nya.
Sejak 2008, saya gencar mencoba peruntungan untuk menikah. Pertama dengan seorang gadis asal Sumatera. Namun, apa daya, kandas di restu orang tua sang gadis. Selanjutnya saya menargetkan gadis-gadis Jawa yang relatif lebih dekat. Namun, lagi-lagi ganjalan restu para orang tua gadis membuatnya terasa mustahil.
Hingga akhirnya saya sudah cukup putus asa dan kehilangan kesabaran. Bahkan, saya pernah bilang dalam hati, “Ya Allah, terserah, deh. Saya mau nikah atau nggak. Saya benar-benar sudah pasrah.” Ternyata Allah punya kehendak lain. Dan pada waktunya, semua itu akan terwujud dengan cara yang sempurna.
Bukan juga berarti manusia berserah diri tanpa berbuat. Hanya saja, ketika sudah berusaha, berserah dirilah menunggu hasilnya dan bersabarlah menerima apa yang terpapar kemudian.
Pun jangan memaksakan bila hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita. Percayalah bahwa Allah memiliki pasangan yang lebih baik untuk kita.
Dalam hal ini, berkehidupanlah seperti air yang mengalir mengikut lekuk dataran. Ketika sebuah aliran air tidak bisa melalui sebuah rintangan, dia akan mencari jalan lain menuju dataran yang lebih rendah. Bagi saya, hal ini menimbulkan ketenteraman dalam diri.
Pelajaran kedua, pernikahan itu bukan masalah cepat atau lambat. Pernikahan juga bukan masalah pilihan yang tepat atau salah. Bukan juga tentang sebuah kesempurnaan atau kecacatan. Penikahan itu seperti menunggu pagi. Dia akan terwujud dalam kadar yang tepat. Tepat di sini melingkupi banyak aspek, mulai dari aspek waktu, tempat, pekerjaan, pasangan, hingga umur dan tingkat kedewasaan.
Meskipun saya meyakini filosofi ini, tapi memanas-manasi orang untuk cepat menikah, tetap akan saya lakukan. Rasanya asyik. hehe
Ketiga, percayalah, setiap keinginan pasti akan terwujud. Hal inilah yang terjadi dalam pernikahan kami. Setiap keinginan yang saya dan istri sampaikan jauh-jauh hari sebelumnya, lambat laun terwujud. Misalnya saja tentang konsep pernikahan, sifat, dan karakteristik pasangan. Semua yang kami inginkan di masa lalu, terwujud semuanya kini. Tentunya, dengan cara yang indah dan menakjubkan.
Keempat, selalu ada jalan untuk sebuah kebaikan yang telah menjadi hak kita. Jangan takut untuk menjalaninya, meskipun tampak banyak rintangan terpapar di hadapan kita. Bagaimana pun, Allah akan selalu memberi bimbingan dan pertolongan di setiap detak-nafas kita.
Kelima dan yang paling penting, jangan lama-lama menentukan waktu antara keputusan menikah dengan hari-H. Karena proses menikah menghabiskan banyak sumber tenaga, baik fisik maupun psikis. Kedua calon pengantin umumnya dalam keadaan stress (tertekan). Saya saja sampai jatuh sakit 5 hari sebelum pernikahan. Teman saya malah sedikit gendut lantaran stress-nya disalurkan dengan makan.
Menurut saya, waktu 2 – 4 minggu cukup untuk mempersiapkan pernikahan. Persiapan ini meliputi perkenalan kedua calon mempelai dengan orang tua dan keluarga, perkenalan antar keluarga, lamaran, administrasi ke KUA, persiapan pernikahan, dan hari H pernikahan.
***
Dalam kesempatan ini, saya dan istri juga ingin menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
- Keluarga yang telah membantu proses terwujudnya pernikahan kami. Teh Zulaeha, mas Aji, teh Noor, kang Cepi, Adi, Ami, para orang tua kami, serta keluarga besar kami. Tanpa dukungan mereka, kami tidak ada apa-apanya.
- Mas Agung Wiyono dan ibu Yani yang telah banyak membantu proses pernikahan kami, mulai dari lamaran hingga hari-H pernikahan.
- Kang Budhiana yang telah banyak membantu saya pribadi hingga saat ini. Terima kasih banyak juga atas nasihat-nasihat menjelang pernikahannya, kang.
- Panitia pernikahan yang telah secara sukarela menyumbangkan waktu, pemikiran, dan tenaganya demi terwujudnya pernikahan kami. Maya, Fery, Irfan, Nono, Eko, Aul, Okky, Iis, Adul, Fenny, Ardi, Silvi, Widi, Siti, Mila, Erma, Anita, Rena, Tristia, Yuli, Anis, Mamaw, dan Kamil (nama diurutkan acak, tidak alphabetis atau pun urutan kontribusi).
- Mas Hermawan (penceramah), Pak Moh. Arief (MC), kang Awang (qari), kang Hendy (operator sound system) yang telah bersedia membantu mensukseskan acara pernikahan kami.
- Prof. Thomas Djamaluddin, Dr. Syarif Hidayat, pak Rana Akbari, kang Islaminur Pempasa, kang Sufyan, bu Rena Venus, dan pak Zaki. Terima kasih banyak sudah menyempatkan waktu untuk hadir.
- Rekan-rekan Batagor.net (ci Shasya, mba Enggar, mas Koen), BdgFlickr (Fenny, Nina, Rifi, mas Amal), Salman Media, dan Aksara. Terima kasih banyak untuk kalian. Maaf tidak disebutkan secara detail. Nanti saya lihat dulu daftar undangan
- Serta rekan-rekan kami semuanya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu, baik yang berkesempatan hadir maupun berhalangan. Terima kasih banyak atas doa-doanya untuk kami.
Kami hanya mampu mengucapkan terima kasih banyak dan menghaturkan doa semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua. Amin…
Filed under: Filsafat, Sosial, Umum
Membuat Papan Monopoli
Ini untuk Hilda. Berikut ini adalah langkah membuat papan monopoli dengan menggunakan program grafis Corel Draw. Papan monopoli yang Ibu contohkan di bawah ini mempunyai ukuran 50 x 50 cm. Papan monopoli berbentuk bujur sangkar.
1. Buka program Corel Draw.
2. Untuk mengatur ukuran kertas dan mengubah satuan ukuran ke dalam sentimeter, caranya: Pilih menu Tools > Options. Akan muncul jendela Options. Klik menu Document di panel kiri. Kemudian Klik Page>Size. Pilih centimenters.
3. Masukkan angka 50 untuk Width dan Height. Klik OK.
Berikutnya, untuk membuat petak-petak. Ada 4 petak di setiap sudut papan monopoli. Kita buat dengan ukuran 7×7 cm. Dan kotak berjumlah sembilan dengan ukuran 4×7 cm. Langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Klik Rectangle Tool. Buatlah sebuah kotak. Untuk mengatur ukuran kotak, pada toolbar Properties masukkan angka 7 untuk Width dan 7 untuk Height. Tekan Enter. Lalu letakkan kotak di sudut papan.
2. Dengan cara yang sama buat untuk kotak disampingnya dengan ukuran yang berbeda. Angka 4 untuk width dan 7 untuk Height.
3. Untuk membuat kotak judul yang berwarna, lakukan dengan cara yang sama. Ubah ukuran Heightnya menjadi 1. Beri warna, klik kotak warna yang ada di panel kanan.
4. Masukkan kotak judul ke dalam kotak berukuran 4×7 cm tadi.Jika ingin memasukkan teks, klik Text Tool dan ketikkan teks. Kemudian klik ikon Pick Tool dan klik, tahan serta geser mouse mengelilingi kotak.
5. Kemudian klik menu Arrange dan Pilih Group untuk menggabungkan semua objek.
6. Selanjutnya, salin kotak itu sejumlah yang kamu inginkan. Letakkan berjejer.
7. Jika kamu ingin mengedit warna kotak judul serta teks di dalamnya, klik kotak kemudian pilih menu Arrange. Pilih Ungroup All. Begitu seterusnya.
Group berguna untuk menggabungkan semua objek. Salah satu fungsinya untuk memudahkan jika objek ingin pindah.
Ungroup All, sebaliknya, berguna untuk memisahkan objek-objek yang telah digabungkan tadi. Fungsinya untuk mengedit objek yang ada.
Gunakan Copy dan Paste untuk memudahan pekerjaanmu. Selamat mencoba.

















